Pages

Senin, 20 Agustus 2018

Sepedaan Sendirian

Pagi minggu semalam aku sepedaan dengan tidak merencanakan sebelumnya. Aku keluarkan sepeda gunungku dari persembunyiannya. Kubersihkan debu-debunya dengan lap basah. Sepeda bekas yang kubeli murah dari kawan kakakku. Biar pun bekas, namun tetap oke. Dia jual karena jarang dipakai. Aku tidak ingat pasti berapa harganya, kalau tidak salah sembilan ratus ribu rupiah.

Di tanganku, sepeda ini juga jarang dipakai. Setelah sekali sepedaan berbulan-bulan yang lalu, semalam sepedaku berguna lagi.

Awalnya aku hanya ingin sepedaan keliling-keliling saja seperti masa sekolah dasar dulu. Di akhir sekolah sebelum besoknya libur aku dan kawan-kawan membuat janji untuk sepedaan keliling gang. Besok paginya kami sudah berkumpul di rumah salah satu kawan sebagai tempat memulai sepedaan.

Kami sepedaan dengan riang gembira. Sesekali menunjukkan kemampuan lepas dua tangan. Atau kalau beruntung akan menemukan bekas gelas air mineral di jalanan. Kemudian menjejalkannya di ban belakang. Mengayunkan pedal sepeda dengan cepat supaya menghasilkan bunyi yang keren. Dengan begitu akan merasa seperti seorang pembalap Moto GP. Dan akhirnya pulang ke rumah masing-masing setelah puas dan lelah berkeliling gang.

Sewaktu selesai mengelap sepeda, tiba-tiba aku dapat misi dari mamaku. Tolong antarkan bubur ini ke rumah nini, katanya. Siap grak. Aku berangkat setelah memompa ban dengan cukup kencang.

Aku melihat ada banyak kegiatan yang dilakukan orang-orang di pagi minggu di luar rumah. Berjualan bubur. Sepedaan. Mengobrol di warung kopi. Jalan santai dengan pakaian merah putih. Latihan karate. Orang-orang melakukan aktifitasnya masing-masing sesuai seleranya.

Dalam waktu 26 menit aku sampai di rumah nini. Kira-kira jaraknya 6 km dari rumahku. Misiku berhasil. Nini makan bubur di meja makan. Aku duduk di seberangnya dan juga makan bubur. Bubur yang kubeli di perjalanan ke rumah nini. Harganya 5 ribu, tapi enak.

Aku habiskan waktu 45 menit di rumah nini. Makan bubur sambil mengobrol dengan nini. Membicarakan apa saja yang saat itu terlintas di kepala. Setelah itu baca buku sebentar, lalu pulang.

Di sebuah jalan kecil aku akan berpapasan dengan bapak-bapak yang juga naik sepeda gunung. Lengkap dengan helm terpasang di kepalanya. Aku berkata dalam hati, ketika sudah dekat dengan si bapak dan melihat mukanya, aku akan membuat senyuman. Dan benar saja. Kami berdua saling senyum dan aku tambahkan dengan sedikit menganggukkan kepala. Aku tidak tahu siapa yang senyum lebih dulu. Kejadiannya begitu cepat. Atau jangan-jangan malah berbarengan.

Ajaib sekali. Dua orang asing yang dalam kondisi dan frekuensi yang sama akan merasa seperti saling mengenal dan akrab.

Setelah ini aku berniat mengganti jok sepedaku. Keras. Membuat bokongku sakit kalau kelamaan duduk. Mungkin kamu akan bilang: aku tidak peduli. Maka akan kujawab: sama, aku juga tidak peduli.

Jumat, 10 Agustus 2018

Mencari Hikmah

Hai, Mila. Apa kabar? Semoga bangun tidurmu dalam keadaan tenang dan bahagia.

Bumi ini dipenuhi dengan orang-orang yang patah hati, Mila. Perasaannya dihancurkan, membuat lubang yang kita sebut luka, kemudian dipulihkan kembali oleh waktu yang entah kapan dan pengalaman-pengalaman. Kemudian patah hati lagi. Pulih lagi. Patah hati lagi. Berkali-kali patah hati. Berkali-kali pulih. Hingga muncul imunitas di dalam hati dan menjadi terlatih, meski sebelumnya harus tertatih.

Hidup di bumi ini benar-benar aneh, Mila. Setiap momen perjalanan kehidupan ini pasti saling berkaitan dengan momen lainnya. Ada suatu rencana yang batal dikerjakan dan lantas akhirnya mengerjakan sesuatu yang lain. Kukira karena memang seharusnya begitu. Batalnya mengerjakan sesuatu hanya sebagai penyebab.

Suatu kali aku jalan-jalan ke toko buku yang ada di dalam mall. Kamu tahu namanya. Hanya ada satu mall di kotaku yang ketika hari minggu parkirannya penuh sekali.

Ketika sudah mau pulang karena sudah kelaparan tiba-tiba aku bertemu dengan seseorang yang sebelumnya kami pernah membuat janji untuk bertemu namun gagal. Tapi dalam suatu kesempatan yang tidak direncanakan kami malah bertemu. Sedangkan waktu itu mukaku sudah dalam kondisi yang awut-awutan.

Seminggu kemudian aku ke mall lagi untuk menonton film di bioskop yang ada di sana. Saat film masih separuh perutku terasa lapar sekali. Setelah nonton aku berencana akan makan ayam goreng di restoran amerika. Tetapi ada yang lebih penting, ketika pesan whatsapp masuk dari mamaku yang minta jemput di rumah nini. Aku urungkan niat makan ayam goreng amerika. Dan tanpa aku duga sebelumnya malah bertemu dengan seseorang di eskalator yang kami sudah lama tidak berkomunikasi. Aku turun, sedangkan dia naik. Hai!

Beraneka macam persoalan berebut memenuhi kepala, berharap menjadi yang diprioritaskan. Persoalan ini, persoalan itu, membuat kepala pusing. Mereka tidak mau tahu kalau tidak bisa dibereskan bersama-sama. Tanganku hanya ada sepasang, kanan dan kiri. Iya sih ada dua puluh pasang lagi, di dalam khayalanku.

Perasaan datang silih berganti. Hidup tidak melulu soal senang. Ada kalanya menjadi sedih. Dan sedih tidak selamanya. Kadang bisa juga marah. Dan manusiawi bila ketiak basah setelah beraktifitas.

Pada akhirnya, dalam upaya penerimaan, aku mencari di mana hikmah. Kamu tahu di mana hikmah bersembunyi, Mila? Besok, akan menjadi hari yang lain.

Rabu, 04 Juli 2018

Setiap yang Ada

Setiap yang ada harus siap untuk tiada. Dan yang masih bertahan sebaiknya berlapang dada.

Setiap yang pergi meninggalkan dunia akan memberi suatu tanda. Kadang kita tidak menyadarinya. Kadang juga sadar, namun seakan seperti meremehkan.

Seperti yang sudah-sudah kalau mau berangkat kerja aku berpamitan dulu. Tetapi hari itu tidak seperti biasanya. Kai tidak merespon uluran tanganku untuk bersalaman. Kubilang, aku mau berangkat kerja, juga tidak ada jawaban. Dan matanya yang biasanya memejam saja meskipun disuruh untuk melek tiba-tiba saja terbuka, memandangi aku dan nini dari atas ranjang tempat ia terbaring.

Aku dan nini berpandangan dan menyadari ada sesuatu yang aneh.

"Lana mau minta maaf," kata nini.

"Ulun minta maaf, Kai." Kubilang kepadanya sambil mencium punggung tangannya.

Napasnya terdiam sebentar, lalu nini memegang dadanya. Kukira ia sudah hilang. Tiga detik kemudian ia bernapas lagi. Dengan berat.

Karena mengingat hari itu akan pindah ruangan, maka aku putuskan untuk tetap berangkat kerja. Sebelum pergi, kudatangi abah dan bilang kepadanya bahwa kai berubah.

Dan benar saja. Belum sampai setengah perjalanan aku mendapat telepon dari abah yang mengabarkan kai sudah meninggal. Tanpa pikir panjang lagi aku langsung pulang.

Seketika rumah ramai dengan orang-orang yang bertakziah. Memberikan ucapan belasungkawa dan doa-doa. Di masjid, banyak sekali orang-orang menyalatkan. Seperti salat jumat saja. Sampai-sampai ada yang mengira itu hari jumat, padahal senin.

Di kompleks pekuburan, banyak juga orang-orang yang ikut mengantarkan. Seiring doa dipanjatkan di atas kubur, gerimis turun ke bumi. Bukankah hujan adalah waktu yang mustajab untuk berdoa?

Selepas magrib, aku ambil alquran dari tempat penyimpanannya. Kubuka halaman yang ada penanda dari tali berwarna merah. Kemudian aku baca dengan kenyaringan yang sedang. Hampir 1 halaman aku rampungkan, bacaanku tersendat. Aku teringat bahwa ia senang mendengarkanku membaca alquran. Aku berhenti sebentar untuk mengendalikan emosiku. Kemudian kulanjutkan bacaan dan tersendat lagi. Lalu akhirnya aku benar-benar berhenti ketika selesai membaca ayat terakhir di halaman itu. Kemudian yang terjadi adalah apa yang semestinya terjadi.

Setahun yang lalu aku pernah menulis status facebook begini: "Bila diperhatikan, di sekitaran hari raya idul fitri, selain banyak yang nikah juga banyak yang mati. Hmm." Dua hari yang lalu, hal seperti itu terjadi di dalam rumahku.

Mulai semalam sepulang kerja, aku tidak melihat lagi ada lantai basah di teras belakang karena kamar mandi darurat baru selesai digunakan. Kai orang baik. Mudah-mudahan husnul khotimah. Aamiin.

Selasa, 26 Juni 2018

Catatan Hari Raya #4

Pada tanggal 12 syawal ini, aku bertanya kepada diriku sendiri, apa kabarku pada ramadan tahun ini?

Aku seorang pelupa. Kukira kamu juga. Hari ini ingat. Tiga hari dan seminggu kemudian masih ingat. Lepas itu lalu lupa. Tertimpa oleh ingatan-ingatan baru yang datang belakangan. Lalu, di hari-hari yang akan datang diingatkan kembali entah dengan cara apa dan oleh siapa.

Aku mencari-cari apa yang tersisa di ingatanku tentang ramadan tahun ini. Ada banyak hal yang terjadi. Hal-hal yang baik dan juga buruk. Namun, hal-hal yang baik lebih mendominasi. Kukira ramadan tahun ini lebih baik daripada ramadan tahun lalu. Terlebih ketika di pertengahan bulan ada suatu hal baru untukku, dan itu benar-benar tidak pernah aku duga sebelumnya.

Ramadan sudah berakhir. Ini adalah syawal. Ketika ramadan berlalu apakah membuat hati bersedih atau biasa saja. Atau sedih kemudian segera berbahagia karena akan bertemu dengan hari raya. Hari suka cita. Hari bergembira ria. Hari makan-makan.

Di hari-hari terakhir bulan ramadan ada suatu kebiasaan masyarakat untuk kembali ke kampung halaman. Kebiasaan itu bernama mudik. Mudik, kukira adalah suatu perjalanan dan juga perjuangan. Lebih dari itu, mudik adalah suatu usaha untuk membayar rindu kepada orang-orang di tempat asal dan kenangan-kenangan yang pernah dibuat. Karena dari sana semuanya bermula. Dan berproses menjadi seperti yang sekarang ada.

Di hari lebaran ada ibu yang rindu dengan anaknya dan ayah yang tidak tahu cara mengekspresikannya. Mereka tidak butuh harta untuk dibawa pulang. Tetapi kehadiran anak-anaknya di hadapan mereka itu sudah cukup.

Ramadan sudah benar-benar berakhir, apa yang tersisa dari aku? Apa sudah menjadi orang yang lebih baik? Ketika ketinggalan salat berjamaah di masjid, apakah bisa membuat hati bersedih? Ketika mendapati diri kehilangan hafalan surah-surah, juga membuat bersedih? Atau tidak sempat membaca alquran barang satu halaman dalam sehari, membuat hati bersedih juga? Dapatkah aku menjawab pertanyaan-pertanyaan yang aku lontarkan kepada aku itu? Atau jangan-jangan aku masih bingung dengan perasaanku sendiri yang bisa berubah-ubah.

Sungguh aku tidak suka dipuji. Apalagi ketika berdiri di hadapan orang banyak. Ini benar-benar membuatku malu kepada diriku sendiri, bahwa aku sebenarnya tidak sebaik apa yang disangkakan. Aku lebih tahu dengan diriku sendiri. Tetapi diam-diam aku mengamini di dalam hati.

Kita masing-masing menyimpan kepedihan sendiri-sendiri, yang akan dibagikan kepada siapa yang kita percayai untuk mendengarkan. Kita manusia perlu bercerita. Bahkan, kalaupun kita adalah orang yang tertutup. Itu pendapatku. Maafkan bila aku salah.

Setiap yang ada harus siap untuk tiada. Dan yang masih bertahan sebaiknya berlapang dada.

Kadang-kadang aku tidak tahu apakah yang kulakukan sudah benar atau salah. Doaku adalah mudah-mudahan ramadan tahun depan akan ada aku di sana, yang sudah lebih baik dari saat sekarang. Begitupun dengan kamu yang membaca ini. Kalau tidak datang, maka kebaikan perlu dijemput kan?

Sabtu, 14 April 2018

Bayi Ajaib

Hai, Mila. Apa kabarmu?

Mila, apa kamu pernah merenungkan manusia? Aku pernah. Dan itu menyebabkanku berseru: Ajaib sekali manusia. Dia titipkan air kehidupan kepada kekasihnya yang perempuan di suatu tempat yang sunyi dengan cara yang sah lagi baik. Maka perut kekasihnya itu akan membesar. Kemudian dari perempuan itu lahir manusia yang disebut bayi, yang disayangi, dikasihi, dicintai. Manusia pemilik bayi akan disebut orang tua, yang tidak boleh berkata kasar kepadanya walau sekadar 'ah' atau 'cih' sekalipun.

Ajaib sekali bayi. Ketika hati sedang gundah dan lelah, memandangi ia yang sedang tidur seketika hati berubah hangat. Tenang. Hilanglah penat atas kehidupan duniawi yang dijalani seharian. Mengajaknya bicara menimbulkan titik-titik rasa gembira di dalam hati. Rasa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, tetapi sangat mudah untuk dirasa. Entah suara macam apa yang diocehkan bayi, itu sudah cukup untuk membuat tertawa. Entah juga ia mengerti atau tidak apa yang diucapkan oleh orang dewasa kepadanya. Mengobrol dengan bayi adalah pekerjaan yang menyenangkan.

Ia menangis bila ingin memberi tahu bahwa lapar. Ia menangis bila ingin memberi tahu bahwa haus. Ia menangis bila ingin memberi tahu bahwa pipis dan berak. Ia menangis bila ingin diajak jalan-jalan. Ia menangis bila ayunan berhenti bergerak. Karena memang ia belum pandai berbicara seperti orang dewasa. Belum pandai merangkai kata-kata menjadi indah didengar. Ia hanya bisa mengoceh tidak keruan dan menangis.

Melihat ia rasanya seperti tidak ingin ia pernah menjadi besar saja. Tetap bayi selamanya. Dan itu hanya sebuah keinginan yang tidak akan pernah menjadi nyata, kecuali bayi meninggal sebelum ia sempat menjadi besar. Itu benar-benar sesuatu yang menyedihkan. Tetapi ketika melihat ia tumbuh menjadi besar, rasanya itu seperti hal yang tiba-tiba. Baru semalam melihat ia bisa mengoceh, sekarang sudah bisa tiarap. Kemudian bisa berdiri. Bisa berjalan, bahkan berlari. Itu akan menimbulkan keharuan.

Ketika mulai tumbuh besar, bersama itu juga terkadang ia bisa menyebalkan. Dan orang dewasa sering memakai pemahamannya sendiri dalam menyikapinya, sedangkan bayi belum mencapai pemahaman itu. Jadilah orang dewasa marah seakan-akan bayi yang mulai tumbuh itu mengerti.

Ketika ia sudah bisa berjalan, berlari dan lancar berbicara seperti orang dewasa, ia sering melakukan tindakan-tindakan yang lucu dan konyol. Di luar dari yang sempat dipikirkan oleh orang dewasa. Ia berperilaku sesuai dengan imajinasi dan rasa ingin tahunya.

Ketika ia benar-benar tumbuh menjadi orang dewasa, terkadang bisa menjadi orang yang menyebalkan sekali. Berbuat sekehendak hati. Tidak memedulikan perasaan orang lain demi kesenangan sendiri.

Dalam penjalanannya hingga mencapai orang dewasa akan selalu menemui irisan pertemuan dengan orang lain. Dan kita manusia bertemu dengan manusia lainnya sesuai dengan cerita yang sudah dituliskan. Pertemuan-pertemuan memiliki batas waktunya sendiri-sendiri. Ada yang bertemu hanya untuk waktu yang sebentar lalu berpisah untuk menciptakan pertemuan dengan yang lain. Ada yang dituliskan untuk bertemu dalam waktu yang lama untuk kemudian berpisah juga akhirnya. Lalu kita, Mila, apa pertemuan kita bisa bertahan sampai salah satu di antara kita mati lalu nanti dihidupkan lagi dan bertemu kembali di kampung akhirat? Aku tahu kamu tidak punya jawabannya. Tapi mungkin, kamu punya keinginan yang sama denganku?