Pages

Sabtu, 14 April 2018

Bayi Ajaib

Hai, Mila. Apa kabarmu?

Mila, apa kamu pernah merenungkan manusia? Aku pernah. Dan itu menyebabkanku berseru: Ajaib sekali manusia. Dia titipkan air kehidupan kepada kekasihnya yang perempuan di suatu tempat yang sunyi dengan cara yang sah lagi baik. Maka perut kekasihnya itu akan membesar. Kemudian dari perempuan itu lahir manusia yang disebut bayi, yang disayangi, dikasihi, dicintai. Manusia pemilik bayi akan disebut orang tua, yang tidak boleh berkata kasar kepadanya walau sekadar 'ah' atau 'cih' sekalipun.

Ajaib sekali bayi. Ketika hati sedang gundah dan lelah, memandangi ia yang sedang tidur seketika hati berubah hangat. Tenang. Hilanglah penat atas kehidupan duniawi yang dijalani seharian. Mengajaknya bicara menimbulkan titik-titik rasa gembira di dalam hati. Rasa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, tetapi sangat mudah untuk dirasa. Entah suara macam apa yang diocehkan bayi, itu sudah cukup untuk membuat tertawa. Entah juga ia mengerti atau tidak apa yang diucapkan oleh orang dewasa kepadanya. Mengobrol dengan bayi adalah pekerjaan yang menyenangkan.

Ia menangis bila ingin memberi tahu bahwa lapar. Ia menangis bila ingin memberi tahu bahwa haus. Ia menangis bila ingin memberi tahu bahwa pipis dan berak. Ia menangis bila ingin diajak jalan-jalan. Ia menangis bila ayunan berhenti bergerak. Karena memang ia belum pandai berbicara seperti orang dewasa. Belum pandai merangkai kata-kata menjadi indah didengar. Ia hanya bisa mengoceh tidak keruan dan menangis.

Melihat ia rasanya seperti tidak ingin ia pernah menjadi besar saja. Tetap bayi selamanya. Dan itu hanya sebuah keinginan yang tidak akan pernah menjadi nyata, kecuali bayi meninggal sebelum ia sempat menjadi besar. Itu benar-benar sesuatu yang menyedihkan. Tetapi ketika melihat ia tumbuh menjadi besar, rasanya itu seperti hal yang tiba-tiba. Baru semalam melihat ia bisa mengoceh, sekarang sudah bisa tiarap. Kemudian bisa berdiri. Bisa berjalan, bahkan berlari. Itu akan menimbulkan keharuan.

Ketika mulai tumbuh besar, bersama itu juga terkadang ia bisa menyebalkan. Dan orang dewasa sering memakai pemahamannya sendiri dalam menyikapinya, sedangkan bayi belum mencapai pemahaman itu. Jadilah orang dewasa marah seakan-akan bayi yang mulai tumbuh itu mengerti.

Ketika ia sudah bisa berjalan, berlari dan lancar berbicara seperti orang dewasa, ia sering melakukan tindakan-tindakan yang lucu dan konyol. Di luar dari yang sempat dipikirkan oleh orang dewasa. Ia berperilaku sesuai dengan imajinasi dan rasa ingin tahunya.

Ketika ia benar-benar tumbuh menjadi orang dewasa, terkadang bisa menjadi orang yang menyebalkan sekali. Berbuat sekehendak hati. Tidak memedulikan perasaan orang lain demi kesenangan sendiri.

Dalam penjalanannya hingga mencapai orang dewasa akan selalu menemui irisan pertemuan dengan orang lain. Dan kita manusia bertemu dengan manusia lainnya sesuai dengan cerita yang sudah dituliskan. Pertemuan-pertemuan memiliki batas waktunya sendiri-sendiri. Ada yang bertemu hanya untuk waktu yang sebentar lalu berpisah untuk menciptakan pertemuan dengan yang lain. Ada yang dituliskan untuk bertemu dalam waktu yang lama untuk kemudian berpisah juga akhirnya. Lalu kita, Mila, apa pertemuan kita bisa bertahan sampai salah satu di antara kita mati lalu nanti dihidupkan lagi dan bertemu kembali di kampung akhirat? Aku tahu kamu tidak punya jawabannya. Tapi mungkin, kamu punya keinginan yang sama denganku?

Kamis, 15 Maret 2018

Sandal Jepit

Aku tahu sandal jepit. Sandal jepit ialah alas kaki yang memakainya dengan cara menjepit tali sandal ke dalam sela-sela antara jempol dan telunjuk kaki. Sandal jepit membuat kaki tidak kotor bila berjalan di atas tanah. Merk sandal jepit ada banyak sekali. Tapi yang paling dikenal adalah swallow dan nippon. Sandal jepit bagus adalah yang pas di kaki. Tidak kebesaran. Tidak pula kekecilan.

Sungguh, aku ingin mengutarakan sebuah pertanyaan kepada sandal jepit: Duhai sandal jepit, apa kamu menyesal telah diciptakan sebagai sandal jepit yang membuatmu diinjak?

Kukira sandal jepit akan menjawab: Sekali-kali tidak. Karena memang, tujuanku diciptakan untuk diinjak. Diinjak oleh sandal lain sewaktu di halaman masjid aku tidak marah. Bahkan, tidak sengaja terinjak tahi kucing pun aku tidak marah. Justru yang kesal dan marah adalah tuanku.

Aku tidak takut menjadi kotor karena diinjak oleh sandal lain di halaman masjid. Yang aku takutkan adalah aku yang tidak pernah hadir di masjid. Atau aku yang mampir ke masjid hanya sekadar untuk menuntaskan buang air kecil tuanku. Tetapi, aku hanya sandal jepit. Dan tuanku adalah kamu, kan?

Senin, 27 November 2017

Kepada Mila Lagi


Mila, apa kabarmu?

Apa kabar. Pertanyaan yang klise. Tapi itu kalimat yang cocok untuk diungkapkan kepada orang yang sudah lama tidak bertemu. Dan seringkali mendapat jawaban: baik. Padahal dibalik jawaban baik mungkin saja tidak benar-benar baik. Kelihatan baik-baik saja belum tentu memang baik-baik saja.

Beberapa orang pandai sekali menyembunyikan kesedihan. Tak nampak dari wajahnya yang tenang. Kamu juga kan, Mila? Mengaku saja, di mana kamu menyembunyikan kesedihan? Apa di bawah lipatan pakaian di dalam lemari? Atau bank konvensional? Atau malah di bank syariah dengan akad wadiah?

Aku rasa malam ini adalah waktu yang cocok untuk menonton film yang kutunggu-tunggu, Mila. Menonton di bioskop di dalam mall bersama orang-orang yang sudah membeli tiket dengan harga mahal.

Apa kamu sudah menontonnya, Mila? Film yang gayanya seperti film-film koboi barat itu. Aku tahu kamu suka film-film koboi. Kamu pernah bilang bahwa kamu suka melihat koboi melakukan aksi saling tembak. Katamu, aku suka sekali kalimat di film The Good, The Bad and The Ugly. "Apa itu?" Tanyaku. "Bila kamu harus menembak, tembak. Jangan banyak omong," katamu.

Setelah film selesai aku singgah ke toko buku. Melihat-lihat buku, mencari-cari buku yang akan membuatku tertarik untuk membelinya.

Aku menemukan 1 buku menarik. Cetakan ketiga, bulan September 2017. Buku yang dulu pernah ingin kubeli tapi tidak jadi karena tidak ada duit. Dan akhirnya lupa. Buku itu kuambil dan kubawa ke kasir.

Sewaktu mencari kasir, aku tidak sengaja saling tatap dengan perempuan berbaju hitam dan berkerudung yang aku lupa bermotif apa yang berdiri di rak sebelah sana. Kulihat ia seperti seseorang yang salah tingkah. Salah tingkah yang pasti bukan karena melihat lelaki ganteng rupawan. Aku bukan golongan lelaki seperti itu, kamu tahu. Kukira ia salah tingkah karena merasa pernah melihat atau bertemu lelaki yang saat ini saling tatap dengannya entah di mana sebelumnya. Kejadian itu sangat singkat. Mungkin 3 detik. Aku berlalu mencari kasir yang berubah posisi letaknya. Hingga akhirnya aku temukan setelah bertanya kepada perempuan yang rambut panjangnya diikat. Aku tahu dia pegawai toko buku hanya dengan melihat baju yang ia kenakan. Tapi aku tidak merasa menjadi seperti Sherlock Holmes.

Di luar ternyata gerimis sudah menjadi hujan. Orang-orang banyak yang memilih untuk berteduh setelah membayar parkir. Mataku mencari-cari jalan keluar. Petugas parkir mendatangiku. Di sana, Pak, kalau mau berteduh. Atau mau berhujan? Aku jawab dengan anggukan kepala sambil bergumam hmm. Kemudian ia mempersilakan aku. Lewat sini, katanya.

Di bawah hujan aku ucapkan doa: Allahumma shoyyiban nafi'an. Hujan yang tidak terlalu deras itu memberiku rasa senang. Aku tidak tahu kenapa. Aku mulai bersiul menirukan musik di film yang baru saja kutonton. Aku baru tahu, bersiul di bawah hujan itu sulit. Sulit untuk membuat suara siul yang bagus dan nyaring. Di bawah hujan, suara siul jadi melempem. Kalau kamu tidak percaya, coba saja. Itu pun kalau tidak dilarang mamamu mandi hujan dengan alasan nanti sakit. Kecuali kalau kamu orang yang nekat.

Kamu orang yang nekat kan, Mila? Ayo kita mandi hujan sampai gigi bergemelutuk. Berjoget-joget dengan gerakan asal. Ketawa-ketawa, walau mungkin menyimpan beberapa luka. Mengering air mata, menjadi tahi mata.


Sabtu, 25 November 2017

Jumat, 29 September 2017

Hikayat Santan

ilustrasi: aa lana


Santan berkata pada tahun 1965: Apalah daya, diri sudah terlanjur begini, tidak bisa kembali menjadi kelapa yang digantung di pohon. Di hadapan Wadah Plastik dan Saringan, Santan bercerita.

"Dulu aku adalah kelapa," ungkap Santan kepada Wadah Plastik dan Saringan.

Wadah Plastik dan Saringan tidak begitu saja memercayai pengakuan Santan. Dengan berbarengan mereka bertanya kepada Santan, "bagaimana bisa?" Dahi mereka mengkerut. Tapi sebenarnya mereka tidak memiliki dahi. Dahi mereka hanya rekaan.

"Tentu saja bisa," jawab Santan. "Kalian bertanya seakan-akan aku sedang menyampaikan kabar dusta."

"Tenang, Santan. Tenang." Kata Saringan.

"Iya, Santan. Tenang. Itu lebih baik bagimu." Wadah Plastik menimpali.

"Maafkan kekhilafanku," kata Santan.

"Tidak masalah," kata Saringan.

Wadah Plastik mengulangi kalimat yang diucapkan Saringan.

Kemudian Santan mulai dapat menguasai diri. Karena hanya dengan tenang ia bisa mengelola kata-kata yang akan dipakai untuk disampaikan kepada Saringan dan Wadah Plastik.

"Aku sudah tidak sabar nih," keluh Saringan.

"Iya, aku juga. Ayo ayo, Santan." Wadah Plastik suka sekali menimpali ucapan Saringan. Karena itu hobinya.

Kali ini Santan yang berusaha menenangkan Saringan dan Wadah Plastik. Mereka mulai riuh karena dikuasai oleh rasa penasaran. Setelah semuanya tenang, Santan memulai kembali ceritanya.

"Iya, dulu sekali aku adalah kelapa. Tempatku di atas pohon di mana aku bergantung bersama kelapa-kelapa lainnya. Hingga...."

"Hingga apa?" Tanya Wadah Plastik.

"Hinggap maksudku. Kamu sih menyela," kata Santan.

"Hinggap apa, Santan?" tanya Wadah Plastik lagi.

"Hinggap burung pipit di bagian tertinggi pohon kelapa. Kemudian terbang lagi."

"Di mana bagian kamu berubah wujud? Langsung ke situ saja deh." Pinta Saringan.

"Oke, sebentar lagi kita akan sampai ke situ." Jawab Santan.

"Duk! Begitu bunyinya. Teman sesama kelapa di sebelahku jatuh ke bumi. Hanya tinggal menunggu waktu saja akan tiba giliranku, pikirku waktu itu."

Saringan menjerit.

"Kenapa bisa jatuh, Santan? Apakah karena lelah bergelantungan?” Tanya Wadah Plastik.

"Bukan," jawab Santan.

"Ini berawal dari kedatangan seekor monyet bersama pawangnya. Monyet itu dirantai di lehernya. Sepanjang tiga meter kira-kira. Ia diperintah pawangnya menaiki pohon kelapa kami. Lalu, kalian sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya."

"Pasti sakit," kata Saringan.

"Tentu saja," sahut Santan.

"Hebat sekali Si Pawang bisa membuat Si Monyet berlaku seperti manusia," Wadah Plastik menyatakan kekagumannya.

“Si Monyet juga hebat,” kata Saringan.

"Iya. Tapi ia dirantai." Kata Santan.

"Selanjutnya bagaimana nasibmu?" Tanya Saringan.

"Aku dan kelapa-kelapa lainnya dimasukkan ke dalam karung oleh Si Pawang. Karung diikatnya. Perlu kalian ketahui, sungguh tidak enak rasanya berjejalan di dalam karung itu. Kemudian aku merasa karung yang kami tempati saat itu seperti diangkat dari bumi. Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati: 'akan dibawa ke mana kami ini?' Karena kalau aku bertanya-tanya kepada kelapa-kelapa lainnya pasti mereka akan menggeleng. Karena kalau aku bertanya-tanya dengan berteriak kepada Si Pawang pasti sia-sia, di telinganya tersumpal ear phone."

"Itu benar, Santan." Wadah Plastik mengomentari.

"Ketika karung dibuka, aku tahu kami sudah berada di pasar tradisional. Si Pawang dan monyetnya sudah tidak ada."

"Ke mana mereka?" tanya Saringan.

"Mana kutahu. Yang aku tahu, Manusia Tambun Bersinglet itu mengambilku dari karung. Kemudian menanggalkan sabutku dengan parang. Memotong-motongku menjadi empat bagian, lalu memasukkanku ke dalam kantong plastik hitam kecil dan diikat."

"Apa yang kamu rasakan, Santan?" tanya Saringan.

"Iya. Apa kamu rasakan, Santan?" tanya Wadah Plastik juga.

"Sakit. Tapi tidak berdarah." Jawab Santan. "Kembali aku merasakan sensasi berada di tempat gelap. Tapi kali ini aku hanya sendirian."

"Kasihan sekali kamu," seru Saringan dan Wadah Plastik berbarengan.

"Aku tidak merasa perlu dikasihani. Aku rasa aku lebih perlu untuk melanjutkan ceritaku. Kalian juga memerlukannya kan?"

"Iya iya, Santan." Jawab Saringan dan Wadah Plastik berbarengan.

"Kantong plastik hitam kecil terbuka lagi. Tangan seorang Perempuan Berdaster mengeluarkanku dari kantong plastik hitam kecil. Aku digeret-geretnya ke parutan kelapa hingga aku menjadi serbuk kelapa. Waktu itu aku sudah berada di dalam mangkok kaca, air putih dituang dan bercampur denganku. Aku diperas oleh Perempuan Berdaster tadi. Ampasku tertinggal di atasmu, Saringan. Dan di sinilah aku sekarang ada di dalammu, Wadah Plastik. Menjadi santan yang menceritakan masa lalunya kepada kalian."

"Oh," seru Saringan dan Wadah Plastik berbarengan. Dan itu oh yang lumayan panjang.

Lima detik kemudian Perempuan Berdaster kembali dari urusannya yang tidak perlu diketahui Santan, Saringan dan Wadah Plastik. Ia memindahkan Santan ke tempat lain. Di tempat yang baru itu, Santan akan bercerita lagi.

Rabu, 28 Juni 2017

Catatan Hari Raya #3

Hari ini adalah Rabu 4 Syawal 1438 Hijriyah. Dengan begitu bisa diketahui kapan hari terakhir bulan Ramadan. Iya, dengan mundur 4 hari. Setelah itu mari mundur lagi berhari-hari hingga ke awal Ramadan. Aku tahu, kamu juga, bahwa masjid, musala dan langgar dipenuhi orang-orang yang ingin mendirikan salat. Salat magrib, salat isya, dan tentu saja kemudian salat tarawih yang khusus ada di bulan Ramadan. Lalu ditutup dengan salat witir. Masjid selalu penuh, hingga memasuki sepuluh hari kedua Ramadan sebagian jamaah mulai berkurang. Entah hilang ke mana aku tidak tahu. Dan berkurang lagi di sepuluh Ramadan terakhir. Begitulah. Tapi itu mungkin tidak semua masjid, musala dan langgar. Aku tahu, ada banyak masjid, musala dan langgar yang jumlah jamaahnya konsisten dari awal hingga akhir Ramadan.

Ini yang penting, berusaha untuk tetap memenuhi saf-saf di masjid ketika waktu salat masuk biar pun Ramadan sudah usai adalah perbuatan yang keren aku kira. Apalagi kalau bisa kelima waktunya. Lebih-lebih bila usia masih muda. Karena bila usia tua adalah suatu kewajaran, kita tahu kenapa. 

Tidakkah merasa sedih bila mengetahui kenyataan bahwa masjid yang lumayan luas tapi bila salat, satu saf pun tidak penuh. Itu pun semua jamaahnya orang-orang yang sudah tua.

Taqabbalallahu minna wa minkum. Mudah-mudahan Allah menerima amalan aku dan kamu, juga semakin bertambah dalam hal-hal yang baik. Tetap merendah, menjaga adab dan akhlak dalam kebijaksanaan. 


Maulana Usaid
28 Juni 2017