Pages

Kamis, 03 November 2016

Naik Ojek

1

Apa kabarmu, Mila? Bagaimana pun aku selalu punya cara untuk membuat segalanya menjadi oke. Tapi kali ini gimana ya, sulit untuk menjelaskannya. Seperti diriku yang biasanya menghilang. Seperti sulit untuk mengeluarkan emosi. Seperti ingin menangis tetapi tidak bisa.

Perasaanku benar-benar berantakan. Ada apa ini. Aku benar-benar kacau. Aku merasa seperti seorang alien yang baru datang ke bumi. Tidak mengenal siapa-siapa di sini. Tidak tahu bagaimana orang bumi berkomunikasi. Tidak mengerti terhadap apa-apa yang dilakukan orang bumi. Bahkan sebenarnya aku tidak sepenuhnya yakin itu yang dirasakan seorang alien ketika pertama kali datang ke bumi.

Aku tidak bohong ketika kubilang bahwa: sulit untuk menjelaskannya. Beraneka macam kondisi memenuhi kepalaku. Aku sedang berusaha menjelaskannya, dengan koleksi kosa kataku yang terbatas. Aku yakin, bahkan tidak sampai seperempat Kamus Besar Bahasa Indonesia yang tebal itu. Aku juga tidak pernah mengira sebelumnya bahwa ada kata langgas dalam bahasa Indonesia.

Aku temukan kata langgas di postingan orang di instagram. Aku tahu kamu penasaran dengan arti langgas tetapi terlalu malas untuk mencari artinya dengan hanya mengetik 'arti langgas' di google sekalipun. Tidak penasaran pun tidak apa-apa. Namun, sekarang aku sedang berbaik hati ingin menuliskannya di sini. Langgas adalah tidak terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang; bebas.

Kukira, aku perlu waktu dengan diriku sendiri. Aku tidak tahu berapa waktu yang kuperlukan. Salah satu usaha yang kulakukan adalah keluar dari kamar, turun menuju lobi hotel. Kemudian duduk sendirian di coffe shop menghadap jalan melihat-lihat orang lalu lalang melalui kaca.

Perutku memberi tanda bahwa aku sedang lapar. Menyuruhku untuk memesan bakso di depan hotel. Ketika Si Bapak menuangkan semua yang diperlukan ke dalam mangkuk, baru aku tahu bahwa itu adalah pentol kuah. Bukan bakso seperti yang aku sangka.

"Minimarket dekat sini di mana ya, Pak?" Aku bertanya karena sebenarnya memang tidak tahu.

Setelah membayar sepuluh ribu kepada Si Bapak, aku menuju arah yang ditunjukkannya. Sebelum menemukan minimarket aku mendapati gerobak yang menjual minuman. Di situ aku membeli sebotol air mineral. Kemudian berbalik arah setelah ditunjukkan penjualnya di mana tempat Toko Gunung Agung. Tapi begitu tiba di sana, yang kudapati adalah Toko Wali Sanga. Aku tetap masuk dan kemudian keluar setelah tidak menemukan ada yang menarik, kecuali seorang pegawai perempuan yang mukanya kearab-araban mengenakan seragam hijau dan kerudung hitam.

Aku berjalan lagi, melewati hotel tempatku menginap dan berhenti di depan bangunan yang ada tulisan Toko Gunung Agung di depannya. Di sana aku membeli Diary Si Bocah Tengil #6 yang kemudian aku baca sambil duduk-duduk di coffe shop.

Aku jadi ingat orang-orang yang menenangkan pikiran dengan duduk melamun sambil menghisap rokok. Kebetulan di coffe shop menjual rokok. Aku beli sebungkus beserta koreknya. Kuapit rokok di bibirku, lalu kubakar ujungnya. Setelah itu apa, mulutku mengeluarkan asap berbau tembakau. Kemudian suara orang konvoi menghentikan khayalanku.

Buku kututup. Aku kembali ke dalam kamar.

Bila aku tertawa ketika mendengar leluconmu, mungkin aku sedang berusaha terlihat tenang, tetapi nyatanya aku sedang kacau balau.


2

Ketika aku sedang mengetik untuk membalas pesan kawanku di BBM tiba-tiba datang suara dari sebelah kiriku, "Ojek kah, Cu?" (Ojek ya, Cu?)

Setelah kutengok ke kiri sambil menyimpan handphoneku ke saku baru aku tahu siapa yang mengira aku tukang ojek. Dia nenek, bungkuk, dan terlihat  tua. Aku pernah melihat ia sebelumnya. Dia tinggal satu gang denganku.

"Kada ni ai. Handak ke mana pian?" aku menjawab. (Bukan, Nek. Mau ke mana nenek?)

"Antarakan aku ke parak Pasar Binjai. Kena kubari 5 ribu." (Antarkan aku ke dekat Pasar Binjai. Nanti kukasih 5 ribu.)

"Kadusah ni ai. Si nah ulun antarakan. Ulun handak ke pekapuran jua." (Nggak usah, Nek. Ayo saya antarkan. Saya mau ke Pekapuran juga.)

"Mun kaitu, antarakan ke Melati 1." (Kalo gitu, antarkan saya ke Melati 1.)

Di jalan, Si Nenek tanya apakah aku sudah kerja. Aku juga tanya apakah si nenek mau ke rumah anaknya. Aku bertanya supaya seakan-akan aku seperti ingin mengetahui tentang hal yang berhubungan dengan Si Nenek.

"Mudahan ikam ditolong jua kena. Bahari, mun menolong urang ditolong urang jua." (Mudahan kamu ditolong juga nanti. Dulu, kalau menolong orang ditolong orang juga.)

"Aamiin."

Aku aminkan sambil berharap perkataan Si Nenek terkabul. Setelah mengantar Si Nenek ke tempat tujuannya, aku melakukan urusanku sendiri.


3

Sebenarnya aku punya target setidaknya minimal ada 1000 kata untuk surat ini. Biar kamu capek bacanya. Tapi biarlah nanti aku tulis surat lagi. Ini saja dulu.

Begini saja, Mila. Mau kah kamu menyisihkan sebagian waktu 24 jam-mu itu untuk menghabiskannya bersamaku? Di mana di sebagian 24 jam itu kamu bisa naik ojek.


3 November 2016

Jumat, 08 Juli 2016

Catatan Hari Raya #2

Aku jadi bingung, aku yang meninggalkan Ramadan atau Ramadan yang meninggalkanku? Sedangkan kemudian: aku yang terus bergerak bersama waktu, meninggalkan Ramadan menuju kepada Syawal. Ramadan bergerak ke mana? Atau ia menungguku, yang mungkin akan habis sebelum bertemu kembali.

Selasa 5 Juli 2016 semalam ialah terakhir puasa Ramadan di tahun 1437 Hijriyah. Beraneka macam perasaan tumbuh ketika akhirnya berpisah dengan Ramadan. Ada yang biasa-biasa saja. Ada yang senang. Ada yang sedih. Ada yang senang bercampur sedih. Semoga aku, kamu, kita semua termasuk golongan yang perasaannya baik.

Ramadan adalah bulan yang diberkahi. Amal kebaikan mendapat balasan yang banyak. Sungguh rugi bilamana tidak memanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Buka puasa bersama diadakan di mana-mana. Kafe bagus, restoran, hotel, rumah makan, rumah, atau panti asuhan. Bagus untuk menjaga tali silaturahmi. Lebih bagus lagi bila tidak sampai melupakan salat Magrib. Lalu lanjut salat Isya. Lebih bagus lagi bila mampu mengerjakan salat Tarawih, yang hanya sebulan dalam setahun. Kan sayang sekali kalau sampai terlewat. Apalagi di malam sepuluh hari terakhir Ramadan.

Setiap bulan Ramadan sejak beberapa tahun yang lalu, televisi menayangkan acara Hafizh Al Qur'an. Tapi mungkin tidak cukup hanya terharu ketika menontonnya. Aku kira perlu juga untuk meniru hal baik yang diperlihatkan anak-anak yang hafal Al Qur'an itu. Misalnya membaca Al Qur'an setiap hari setelah salat Magrib atau Subuh atau keduanya. Tidak perlu memaksakan diri dengan membaca 1 juz. Mungkin 2 lembar sudah cukup. Kalau tidak mampu, cukup 1 lembar. Kalau tidak mampu juga, cukup 1 halaman. Kalau masih tidak mampu juga, hmm. Maka akan lebih oke bila juga menghafalnya.

Orang-orang pulang ke kampung halaman masing-masing. Bertemu dengan orang tua, mertua, teman, dan sanak saudara. Menuntaskan rindu yang terutang selama hitungan bulan atau tahun. Meski ada istilah: pulang malu, tak pulang rindu. Tapi akhirnya pulang juga.

Sebagian orang tetap tinggal, karena memang di situ asalnya. Atau karena memang tetap bekerja di hari lebaran. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang keren lagi oke kukira.

Berziarah menjenguk yang sudah mendahului. Membayar zakat fitrah. Mendirikan salat Id. Lepas salat id, berkumpul bersama keluarga. Berkunjung ke rumah tetangga, sanak saudara dan handai tolan. Membicarakan tentang hal apa saja yang diingini dan dirasa seru, termasuk pertanyaan yang merisaukan sebagian pemuda pemudi bujangan: Kapan nikah? Sudah ada temannya?

Mudah-mudahan aku, kamu, kita semua menjadi lebih baik. Bertambah ilmu, cinta dan pemahaman. Selamat hari raya!

Jumat, 10 Juni 2016

Menonton Now You See Me 2


Matahari di luar panas menyengat. Bagus sekali untuk menjemur pakaian, kasur, atau kaktus-kaktus dalam pot.

Kuli panggul mengambil karung-karung beras dari truk pengangkut. Menyimpannya di punggung untuk dibawa ke dalam gudang. Buruh kasar mencangkul-cangkul pinggir jalan, membuat saluran air.

Tapi di dalam bioskop sebuah mall udaranya sejuk. Antrean panjang di depan loket penjualan tiket. Membengkok ke kanan sampai dekat pintu masuk. Menunggu untuk membeli tiket yang harganya mahal.

Dan aku duduk di atas kursi di seberang loket tiket. Asyik dengan diriku sendiri. Mencatat semua itu dengan aplikasi android di telepon pintarku sembari menunggu pintu teater 6 dibuka. Now You See Me 2.

***

Aku tidak peduli kalau ada tukang komentar film yang berkata tidak bagus, tapi bagiku Now You See Me 2 menghibur. Juga ada kota London beserta isinya, termasuk komidi putar dan Sungai Thames. Nanti aku mau jalan-jalan ke sana. Besok, mungkin.

Rabu, 08 Juni 2016

Bilang Bilangan

Kepada Mila,

Kamu tahu kenapa aku memelihara kaktus? Tentu saja tidak. Aku belum cerita, sedangkan kamu bukan peramal. Baiklah, biar aku cerita.

1.

Waktu itu, ketika bosan, aku merasa untuk perlu melakukan sesuatu. Aku ingin sesuatu untuk dipelihara. Kalau ikan hias sudah pernah dan tidak berbakat. Kemudian aku menemukan foto kaktus di media sosial kawanku, Ulan. Aku tertarik untuk mengikutinya.

Aku pernah mendengar deddy corbuzier mengutip perkataan seseorang yang aku lupa siapa, kira-kira begini: "Bila orang sudah mapan dan tidak perlu mencari uang lagi, maka yang dia lakukan adalah berkebun." Nah, aku ingin begitu.

Setelah kupikir-pikir, kaktus cocok denganku yang lumayan pemalas. Tidak sulit memelihara kaktus. Mengairinya tidak perlu setiap hari, cukup sekali seminggu. Simpel sekali.

Mestinya sekarang sudah setahun lebih beberapa hari aku sudah memelihara kaktus. Tapi catatanku hilang. Untungnya masih ada cacatan kapan aku beli kaktus yang kedua: 7 Juni 2015. Waktu itu aku beli kaktus bulat dan bambu ogi. Untuk sementara tanggal 7 Juni aku tetapkan sebagai Hari Kaktus Regional hingga ditemukannya catatan yang hilang itu.

Bila kamu ingin mengucapkan selamat. Silakan, kepada aku saja. Mereka tidak mengerti bahasa manusia. Biar aku nanti yang akan menyampaikannya kepada kaktus-kaktusku. Tenang saja, aku mengetahui caranya.

Sekarang kaktusku sudah 6 pot. Ditambah sukulen dan bambu ogi, masing-masing 2 dan 1 pot. Insya Allah akan terus bertambah.

2.

Selamat berpuasa ya! Mudah-mudahan tahun ini puasanya oke dan keren. Menjadi manusia yang semakin bagus, bahkan setelah ramadhan usai. Bertambah pengalaman dan pemahaman. Supaya kamu merasa tentram.

Untuk kamu ketahui, sebagian besar buka puasa aku lakukan di musala. Di sana makanannya enak, bubur ayam. Biasanya aku campur dengan mie merah.

Tapi tujuanku bukan cuma itu. Dengan buka puasa di musala membuatku belajar bersosialisasi dengan orang lain. Supaya saling mengenal. Lagipula kalau aku buka puasa di musala berarti dapat dipastikan aku salat maghribnya berjamaah di musala. Kan bagus.

3.

Mila, kita adalah bilangan prima, yang habis dibagi satu dan diri sendiri. Jadi, maukah kamu menjadi ganjil? Biar aku juga. Biar kita bisa saling menggenapi.

Jumat, 25 Maret 2016

Pada Suatu Hari #3

Pada suatu hari. Hari yang biasa. Kota mulai memperlihatkan kehidupannya lagi sejak subuh. "Subuh! Subuh!" Kata pengeras suara dari musala. Ayam jantan berkokok panjang. Pengantin baru menyelesaikan do'anya setelah masing-masing mendirikan salat malam. Si istri pergi ke dapur menjerang air. Si suami keluar rumah menuju musala setelah mengatakan “Assalamualaikum” kepada istrinya. Di jalanan, ia bertemu dengan tetangga, sama-sama menuju musala, kemudian saling senyum dan bersalaman tepat ketika azan dikumandangkan.

Dari arah berlawanan sepasang suami istri berboncengan naik motor menuju pasar untuk berjualan ikan kering. Bulan terang sekali, tapi tidak membuat mata silau.

Matahari mulai menampakkan diri. Orang-orang mematikan lampu di depan rumah. Suara-suara burung pipit bersahutan di atas pohon jambu. Jalanan perlahan-lahan ramai oleh kendaraan dan manusia. Memulai kembali aktifitas yang sama dengan hari semalam. Pergi ke tempat sekolah, tempat kerja, dengan terburu-buru. Atau lari pagi kemudian mampir di warung nasi kuning langganan di atas trotoar. Mencuri-curi pandang kepada penjualnya yang manis. Atau masih asyik dengan mimpi yang menyenangkan.

Pagi yang beraneka macam dan sejuk. Hingga sampai kepada siang yang menjadi panas. Sebagian orang bilang, "Aduh, panas sekali." Karena memang, manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Itu yang diinformasikan di dalam Al qur'an Surah Al Ma'arij ayat 19.

Ketika sore, hujan turun.


Hujan turun, kecil-kecil, tapi deras.

Aku pulang ke rumah tanpa perlindungan jas hujan maupun jaket. Kemudian singgah ketika melihat gerobak pentol di sebelah kiri. Kuhabiskan uang lima ribu rupiah untuk memuaskan nafsu. Di seberang, di depan minimarket waralaba, ada gerobak bertulisan Kebab Kings. Aku ke sana, memarkir motor, memerhatikan menu di depan gerobak, lalu kudekati si penjual.

"Beli kebab sosis satu."

"Saosnya apa?"

"Apa?"

"Saosnya apa?"

"Pedas."

"Boleh kan aku numpang makan di sini? Hujannya masih deras."

"Silakan."


"Berapa harga sewanya jualan di muka sini?"

Itu adalah kalimat pertama yang aku keluarkan setelah menggigit kebab hingga akhirnya ia membeberkan beberapa rahasianya kepadaku. Ia mengaku bahwa itu adalah urusan bosnya, ia hanya menjualkan saja.

Umurnya 26 tahun, hanya lulusan SMP. Kawan-kawannya di kampung pernah meremehkan, "Kau akan sulit mencari kerja." Tapi sekarang ia sedang bekerja. Kawan-kawannya yang pernah meremehkan masih minta uang sama orang tua. Uangnya buat mabuk. Padahal lulusan SMA dan sarjana.

Ia dulu juga senang mabuk sampai ketika ia melihat gerobak pentol yang laris. Kalau begini terus, tidak ada masa depan, pikirnya. "Alhamdulillah sekarang sudah dapat istri yang baik."

Sebelum aku pulang, ia sempat bilang, "Kenapa kerja enggak mau kaya ya?"

"Mungkin belum."


Suara muazin bersahutan mengumandangkan azan dari pengeras suara masjid, musala dan langgar. Sebagian orang berjalan dengan baju rapi, sarung dan kopiah mendatangi suara azan untuk mendirikan salat maghrib. Tangan kanan menutupi kepala dari serbuan hujan dengan payung. Ada yang berwarna merah polos, ada juga bermotif bunga, ada juga pelangi, dan ada yang lain lagi bertulisan Segar Sari berwarna biru tua. Sebagian lagi ada yang baru sampai rumah dengan tubuh menggigil karena ketinggalan jas hujan. Sebagian lagi asyik berbalas pesan dengan pujaan hati sambil tiduran di atas kasur yang kapuknya sudah keras.

Jadi, ada berapa rintik hujan yang sampai ke bumi hari ini?