Kamis, 16 April 2026

Telepon Pak Ali

Sebulan yang lalu ada panggilan masuk di Whatsapp saya, tepatnya 9 Maret 2026. Segera saya angkat teleponnya karena sedang senggang. Saya berada di dalam mobil bersama teman-teman, menunggu waktu penukaran uang di bank yang masih lama. 

"Halo, Pak. Wa'alaikumussalam."


Namanya Pak Ali, lengkapnya Aliansyah. Usianya jauh di atas saya, tapi kami pernah satu rekan kerja di ruangan yang sama. Dia sudah lama pensiun.


"Haur kah, Lan?" tanya Pak Ali. 


"Kada, Pak. Ulun lagi di luar. Lagi antre behurup duit di bank. Ada habar apa nih, Pak?" Saya penasaran. 


"Kada apa-apa. Handak menelpon banar ai,"  jawabnya. "Apa habar, sehat ja kalo?"


"Alhamdulillah sehat, Pak. Pian pang?" 


Kemudian percakapan berlanjut ke kabar dia yang sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit lantaran sakit yang dideritanya. Kami juga membicarakan hal-hal lainnya hingga kurang lebih seperempat jam. Saya lalu keluar dari mobil mengambil nomor antrean. 


Sudah sebulan berlalu. Saya dibangunkan oleh suara imsak dari musala. Berita duka seringkali datangnya di saat bumi sedang sunyi. Ada pesan WhatsApp dari Baihaki, anaknya Pak Ali, mengabarkan kalau abahnya meninggal pukul 23.50 tadi malam. 


Saya jadi tahu kalau teman lama yang sudah lama tidak berkomunikasi tiba-tiba menghubungi itu tidak selalu ingin pinjam uang. Mungkin saja hanya kangen. Mungkin juga tidak hanya kangen, tapi juga sekaligus menyampaikan salam perpisahan tersirat.


Semoga Allah mengampuninya, mengasihaninya, menyejahterakannya, dan memaafkannya. Amin.