Hujan turun deras sekali. Sejak subuh dan kelihatan seperti tidak ada tanda-tanda akan berhenti. Sempat mereda sebentar tapi dengan cepat menyerbu kembali. Kemudian berangsur-angsur menjadi gerimis.
Membenamkan diri di atas kasur jauh lebih nyaman untuk situasi seperti ini. Tapi untuk sebagian orang memilih untuk menerobos hujan karena keadaan tertentu. Pelepah daun pisang digunakan orang-orang untuk melindungi kepala mereka. Lalu mereka menciptakan teknologi bernama payung dan jas hujan dengan beraneka macam warna dan jenis. Untuk yang berduit banyak bisa menggunakan teknologi bernama mobil.
Walau badai mengadang, kata Ada Band. Memang ada situasi-situasi tertentu yang memaksa orang-orang melawan hujan. Sebanyak apapun hujan menyerang, tidak akan membuat menyerah. Meski ada konsekuensi yang harus diterima, macam menggigil sampai gigi bergemeletuk atau sempak yang lembap.
Tidak apa-apa. Untung bukan turun hujan besi cair macam di WASP-76b. Selama masih di bumi, hujannya masih air dan pasti akan berhenti pada akhirnya. Melawan hujan terasa seru sambil menyenandungkan lagu 33x milik Perunggu, atau lagu-lagu pilihan lainnya yang terlintas di kepala. Lagu Antara Benci dan Rindu milik Ratih Purwasih, misalnya.