Kamis, 23 Juli 2026

Hari Anak

Selamat hari anak, selamat hari kamis. Ayolah, ubah hujan di pipimu itu menjadi gerimis. Biar wajahmu itu terlihat lebih manis. Di pagi ini babah tidak ingin menjadi antagonis. 

Waktu menyikat gigi Salman, saya bilang kepadanya kalau hari ini dia saya antar ke rumah Oma. Nanti pergi ke sekolah bareng Oma. Karena saya hari ini ada upacara peringatan Hari Anak Nasional. Jangan terlambat datang ke kantor. 

Salman menolak keputusan saya. Dia mau diantar babah langsung ke sekolahan seperti hari kemarin. Dia meringis sementara saya menyikati giginya. 

"Hari ini mama pulang, jadi besok bisa diantar mama langsung ke sekolah," jelas saya. 

Salman tetap meringis. Matanya mulai berair dan hidungnya memproduksi ingus. Dia bersikeras dengan pendiriannya. Bujukan saya tidak mempan. Saya mengalah. Lagipula ini tidak selamanya, akan datang masanya nanti dia sudah bisa ke mana-mana sendiri. Saat seperti ini tidak akan bisa terulang dan pasti akan saya rindukan. 

Sesuai dengan dugaan saya, sekolah masih lengang. Salman siswa pertama yang datang ke sekolah. Dia naik ke ayunan besi sambil mengudap roti pizza seribuan yang kami beli di warung sebelum ke sekolah.

"Tolong dorongkan, Babah." Minta Salman. 

"Ayunkan," sahut saya. 

Salman mengacungkan jempolnya. Enak, katanya, mengomentari roti pizza seribuan yang dimakannya sampai habis. Belakangan ini dia selalu begitu bila makan makanan yang dirasanya enak. 

Salman beranjak ke mainan jembatan bergoyang. Tidak begitu lama kemudian ibu guru piket datang. Saya mengulurkan tangan untuk dicium Salman. Saya balas mencium tangannya juga, lalu pipi kanan dan kirinya. Saya meminta dia mencium pipi saya.

Setelah berpamitan dengan ibu guru piket saya meninggalkan Salman di sekolah. Bergegas mengejar bis kantor yang akan saya tumpangi hingga Pal 11 Jalan A Yani. Untuk bergabung dalam Upacara Peringatan Hari Anak Nasional 2026.