Saya membuka aplikasi pemutar musik Spotify. Lalu saya putar single terbaru Sheila On 7 bertajuk Sederhana. Kepala saya mengangguk-angguk sembari menyimpan piring, sendok, garpu, sumpit, wadah plastik yang sudah kering dari rak tirisan ke dalam lemari.
Saya duduk bersiap mencuci piring, gelas, sendok, wadah tupperware kotor. Saya pindahkan sendok-sendok yang bertebaran ke dalam satu gelas. Tapi belum selesai saya menempatkan sendok dalam satu gelas, terdengar langkah kaki tergesa-gesa menuju dapur.
Saya kira Salman sudah mulai terlelap. Sebelum ke dapur, saya memastikan kamar sudah berganti lampu tidur. Salman sedang menuju tidur dengan mamanya yang menjaga di sampingnya. Kenyataannya dia sekarang sudah ada di dapur.
Saya menghentikan kegiatan dan berpaling ke belakang. Mungkin Salman mau pipis atau mau muntah, pikir saya. Ternyata bukan keduanya, melainkan Salman mau berbaikan dengan Babah, katanya. Dia ulurkan tangan kanannya ke hadapan saya. Kami bersalaman. Salman menciun tangan saya. Saya balik mencium tangannya, lalu pipinya.
Salman balik kanan kembali ke kamar beserta mamanya. Saya mengikuti di belakang. Suhu tubuhnya meninggi lagi, 39 derajat celcius. Saya keluar membeli Hufagripp warna kuning di toko obat seberang komplek. Begitu saya pulang, dia sudah tertidur.
Ada-ada saja kelakuannya bila sakit. Dan bila ada mamanya saya dimusuhi dan disuruhnya keluar dari kamar. Tentu saja selalu saya olok-olok dengan memeluk, mencium, dan menggelitikinya.
Saya kembali ke dapur. Melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Duta Sheila on Seven kembali bernyanyi.