Jumat lalu Salman diturunkan mamanya dari motor ketika pulang dari sekolah. Ini akibat dari informasi Salman yang bilang kalau dirinya terpipis. Salman harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 4 buah rumah untuk sampai ke rumah. Jarak yang sangat tidak jauh.
Mamanya sampai rumah lebih dulu. Lalu menaruh barang-barang bawaan ke dalam rumah. Begitu kembali ke luar rumah mamanya sedikit panik. Harusnya Salman sudah sampai rumah, tapi dia malah lenyap.
Ternyata Salman berjalan melewati rumah hingga berdiri sendirian di halaman musala yang berjarak 1 buah rumah dari rumah kami.
"Salman beapa di sini? Tanya mamanya.
"Salman lagi berdoa."
"Berdoa apa?"
"Berdoa biar Salman tidak terpipis di celana lagi." Salman mengangkat kedua tangannya sambil komat-kamit mengeluarkan bunyi-bunyi 'wess wess wesss'.
Saya baru pulang dari kegiatan kantor untuk bersih-bersih dan langsung terbahak ketika mendapati cerita soal apa yang barusan terjadi. Saya makin terbahak mendengar lanjutannya bahwa sebenarnya Salman tidak terpipis melainkan hanya berkeringat.
Alhamdulillah, sepertinya doa Salman telah Allah kabulkan. Sepekan ini dia sudah benar-benar bisa mengontrol hasrat kebelet pipis. Tengah malam kemarin pun saya dibangunkannya.
"Babah." Salman memanggil serta menepuk lengan kiri saya.
"Apa, Salman?"
"Gapapa."
"Mau pipis kah?"
"Iya."
Kami berdua berjalan terhuyung menuju wc. Setelah pipis, kami melanjutkan tidur karena masih pukul setengah 2 dini hari. Masih ada waktu untuk bermimpi sebelum ke rutinitas yang gedebak gedebuk.