Kamis, 30 Juli 2026

Salman Pusing

Jangan bikin kepala Salman pusing, ujarnya kepada saya. Mendengarnya refleks membuat saya tertawa. 

Pagi hari ini berjalan normal. Saya bangunkan Salman sejak pukul setengah 6 pagi. Lampu tidur saya matikan, saya ganti dengan lampu kamar yang terang. Seperti biasa, Salman akan berkata masih mengantuk dan saya jawab akan membangunkannya lagi setelah saya mandi. Lalu dia akan mengangguk. 


Sebenarnya saya tidak hanya mandi, ada rangkaian kegiatan lainnya. Saya akan mencuci botol dotnya, mencuci kotak bekalnya, mempersiapkan isi tasnya, mempersiapkan pakaian apa yang akan dipakainya hari ini dan pakaian gantinya, menjemur cucian pakaian, serta latihan fisik ringan kalau masih sempat. Hari ini, semuanya beres saat pukul setengah 7-an. Saya bangunkan dia lagi. 


"Ayo bangun Salman. Sudah setengah 7. Nanti pagar sekolah akan ditutup ibu. Salman tidak bisa masuk. Babah gendong lah." Salman mengangguk. 


Saya menggendongnya ke dapur dengan matanya yang masih merem. Badannya sudah lumayan berat digendong, 17 kg. Ketika sampai di depan kamar mandi saya turunkan dia di atas keset, lalu melepaskan pakaiannya, matanya mulai melek. 


Saya suruh dulu dia pipis ke wc. Setelah pipis dia minta gendong untuk pindah ke kamar mandi yang ada di sebelah. Proses mandi menjadi lebih lama dari seharusnya. Karena selesai berbilas dari sabun, dia berjongkok dan bilang kalau kakinya sakit.   


"Nanti babah kasai habis mandi." Maksud saya adalah membaluri kakinya dengan minyak telon. 


"Kalau dikasai masih sakit. Harus dipijat," rengeknya. 


"Iya. Ayo berdiri. Biar babah gosok giginya."


Saat proses berpakaian dia sudah lupa dengan apa yang dikeluhkannya. Wajahnya berbinar-binar tatkala melihat baju kaus yang akan dipakai. Baju kaus tersebut bermotif pakaian Blippi, salah satu kartun favoritnya. 


Sembari menutup pintu dan gorden kamar saya suruh Salman memakai kaus kaki dan sepatu. Kaus kaki sudah dipasangnya. Sepatu masih bergeming. Alih-alih memasang sepatu, Salman malah melamun di muara pintu.  


Saya menegurnya, "Salman, ayo pasang sepatunya. Jangan melamun."


Salman menanggapi dengan bilang jangan bikin dia pusing. Hal apa sih yang membuat anak sekecil itu pusing, pikir saya. Sepagi ini apa yang sedang dia lamunkan dan pikirkan? Ketika saya tinggalkan di sekolah pun dia duduk melamun di ujung perosotan. Mengingatkan saya dengan meme "Pablo Escobar Menunggu".


Jangan-jangan dia sedang memikirkan ini: 'Oh, begini rasanya hidup di dunia. Baru aja 4 tahun.' Atau ini: 'Hidup sekali malah jadi WNI.'