Jumat, 03 April 2026

Pak Haji

Sepertinya Salman menganggap saling mengenal dengan semua manusia yang ada di dunia ini. Pernah ketika kami buang sampah di 'jalan tol' ada seseorang berada di atas bak sampah. Dia mengubek-ubek sampah, mungkin mencari sesuatu yang dianggapnya masih bisa digunakan atau dijual. 

Salman memanggilnya. "Ommmm! Ommmm!"

Orang tersebut asyik dengan aktivitasnya. Tidak mengindahkan panggilan Salman. Salman bingung kenapa tidak ditanggapi. Anak sekecil itu masih belum tahu kalau di dunia ini ada orang bintang satu alias tidak ramah. 

Di hari Jumat ini kami sarapan di warung nasi kuning di Beruntung. Mulanya kami ingin sarapan di warung di Gerilya tapi tutup. Kami balik arah menuju AMD mencari-cari warung nasi kuning pengganti. Ternyata juga tutup. 

Pencarian diteruskan ke Pemurus. Seandainya Salman mau ketika saya tawari makan mi habang, kami akan ke warung mi habang Beruntung di depan Hayam Wuruk. Namun dia bersikeras ingin makan nasi kuning yang tidak kami temukan di sepanjang jalan Pemurus, akhirnya ke warung nasi kuning di Beruntung samping tempat praktik dokter gigi. 

Kami memesan 2 porsi. Lauk ayam dan lauk telur ayam. Saya menyuap nasi sendiri. Salman disuapi mamanya. 

Di tengah-tengah kami makan Bapak penjual bilang ke istrinya yang ada di belakang warung, "Pak Haji datang."

Mendengar itu seketika Salman juga berseru, "Pak Hajiii!" Dia memanggil seolah-olah sudah kenal dengan Pak Haji. Memanggilnya pun tidak hanya sekali. Saya dan mamanya berusaha menahan tawa. 

Pak Haji yang dimaksud adalah orang yang mengantar pesanan telur bebek dan daun pandan sekantong kresek. Menunggu bayaran diambilkan, Pak Haji duduk di kursi warung paling depan. Tiba-tiba muncul ide saya kepada Salman yang langsung dilaksanakannya. 

Saya bilang kepadanya dengan nada lembut, "Salman, datangi Pak Hajinya. Salaman dengan Pak Haji."

Untungnya Pak Haji seorang yang ramah.