Ketakutan terbesar saya saat berlari adalah kemunculan hasrat ingin berak. Seperti berlari sore kemarin, mendadak hasrat itu muncul. Padahal sudah berlari 8 km, tinggal sedikit lagi akan sampai 10 km.
Dengan tenaga yang tersisa saya meneruskan perjuangan. Kali ini yang ada di benak saya adalah Akaza, Iblis Tingkat Atas, karakter antagonis di anime Kimetsu No Yaiba atau Demon Slayer. Sebelum menjadi iblis dia adalah manusia bernama Hakuji. Dia berusaha menjadi lebih kuat untuk melindungi orang-orang yang disayangnya.
Dia mencuri untuk pengobatan ayahnya. Namun nahas, ayahnya gantung diri setelah mengetahui Hakuji tertangkap lagi untuk yang ke sekian kali dan dihukum dengan dipukuli.
Perasaan Hakuji sedih bercampur marah saat pulang diberitahu tetangga kalau ayahnya gantung diri. Dia melampiaskan kemarahannya dengan menghabisi 7 algojo yang menghukumnya dengan tangan kosong. Saat itulah dia bertemu dengan Keizo yang mengajaknya jadi murid di dojonya yang tak punya murid.
Hakuji bertobat. Di dojo, dia berlatih bela diri aliran soryu. Selain itu, Keizo mengharuskannya untuk merawat putrinya, Koyuki, yang sakit. Kemudian berangsur-angsur kondisi Koyuki membaik.
Hakuji dan Koyuki saling cinta. Keizo berencana menikahkan mereka. Namun nahas, kemalangan kembali menimpa Hakuji. Keizo dan Koyuki mati setelah minum air dari sumur yang telah diracun. Pelaku berasal dari dojo ilmu pedang yang memang tak suka dengan dojo soryu.
Dengan amarah yang memuncak, Hakuji menghabisi semua pendekar di dojo ilmu pedang seorang diri. Hakuji kehilangan arah. Kemudian muncul antagonis utama, Muzan, mengubah Hakuji menjadi iblis bernama Akaza. Dan ingatannya saat masih manusia lenyap.
Semangat juang Hakuji yang ingin menjadi lebih kuat memotivasi saya untuk terus berlari meski sambil menahan mules. Kaki yang sudah berat diangkat ini saya paksa melangkah. Perlahan-lahan akhirnya saya berhasil menuntaskan 10 km.
Sekembalinya ke kantor saya masih sempat minum es sirup dan air ion. Sepuluh menit sebelum magrib saya membereskan hasrat yang tertunda. Saat itu, perasaan saya benar-benar lega.