Pages

Rabu, 18 Mei 2011

Pengalaman Seminar Menulis

Minggu, 15 Mei kemarin adalah pertama kali aku mengikuti Seminar Menulis Nasional. Seminar Menulis Nasional ini diadakan oleh Forum Lingkar Pena (FLP) Kalimantan Selatan di aula eks Dekranasda Pemprov Kalsel. Temanya sendiri adalah “Mengasah Mata Pena, Mencerdaskan Banua”.

Awalnya aku mengetahui adanya seminar ini dari status FLP Bjm. Tapi aku ragu untuk mengikutinya karena info yang diberikan kurang jelas dan lengkap. Seperti tidak diberitahunya tempat dan biaya pendaftaran. Beberapa hari setelah itu hp-ku berbunyi, ada sms masuk. Di layar hp tertulis sms berasal dari Ela—temanku di kampus. Sms-nya berisi info mengenai Seminar Menulis Nasional yang diadakan FLP Kalsel tadi lengkap beserta tempat pendaftarannya. Wah, saat itu hatiku senang luar biasa. Soalnya aku ingin sekali mengikuti seminar itu. Berdasarkan sms dari Ela tempat pendaftarannya di toko buku Al Bayan. “Ha? Di mana itu?”, kataku dalam hati saat membaca sms dari Ela. Tanpa berpikir panjang langsung saja ku balas sms Ela untuk menanyakan di mana alamat toko Al Bayan itu. Ternyata alamatnya di Jalan Cemara Raya dekat minimarket Tulip. Tak lupa ku ucapkan terima kasih banyak kepada Ela atas informasinya.

Ku ajak temanku Gusti, Cahyo, Kiki, dan Laila untuk ikut juga. Tapi, yang bisa ikut cuma Kiki. Tak apa lah.

Ku putuskan untuk mendaftar sehari sebelum hari H setelah pulang kuliah. Sekalian mendaftarkan Kiki. Soalnya jarak antara rumahnya dan toko buku Al Bayan jauh sekali. Dia di Gambut, sedangkan toko buku Al Bayan di daerah Kayu Tangi. Ujung kota Banjarmasin dengan ujung lainnya. Pas sampai di toko buku Al Bayan ternyata mendaftarnya harus menyertakan fotocopy kartu mahasiswa atau kartu pelajar. Tak jadi deh mendaftarkan Kiki. Tapi syukurlah bisa mendaftar di tempat acara pas hari H.

Minggu pagi. Di tempat acara aku bertemu dua orang temanku di kampus, Yusuf dan Ayu. Mereka juga ikut. Kiki, datangnya telat karena sempat tersesat. Acaranya ngaret dari jam semula pukul 8 pagi jadi sekitar pukul 8.30. Seminar diawali dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an, dilanjutkan dengan Launching Antologi Cerpen FLP Kalimantan Selatan dengan judul Pelangi di Pelabuhan. Kemudian, pemberian materi tentang menulis oleh Izzatul Jannah (Ketua FLP Pusat, Manager Balai Pustaka) dan materi tentang perkembangan sastra di Banjarmasin oleh Agus Suseno (Sastrawan Kalsel).

Photo0718 Antologi Cerpen FLP Kalimantan Selatan dengan judul Pelangi di Pelabuhan

Poin yang dapat ku tangkap dari apa yang disampaikan oleh mba Izzatul adalah kalau ingin menulis mulailah dari yang sederhana seperti menulis diary atau menulis blog. Menulis dan membaca adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Jika ingin menulis suatu karya fiksi, maka perbanyaklah membaca karya fiksi. Ide fiksi sendiri datangnya dari kejadian sehari-hari. Misalnya tentang masalah yang sedang dihadapi seseorang. Seperti orang sakit, dan dia tidak tahu obat apa yang tepat untuk penyakitnya dan bagaimana cara mengobatinya. Kejadian seperti itu bisa dibuat menjadi fiksi. Atau mitos. Tak ada salahnya mengangkat fiksi tentang mitos. Misalnya mitos yang ada di Jawa. Kalau ada burung gagak hinggap atau terbang di atas rumah, maka akan ada penghuninya yang meninggal. Masalahnya tergantung kita, apakah akan setuju dengan mitos tersebut atau mengugurkannya.

Kalau ingin menulis sebuah buku sebenarnya masalah gampang. Kalau ada duit, buku bisa diterbitkan dengan biaya sendiri. Yang perlu diperhatikan apakah buku yang ditulis itu berkualitas? Kalau tidak, hanya akan jadi sampah. Secara tidak langsung akan membuat pencitraan buruk sebagai penulis buku tersebut. Solusinya adalah dengan mulai dari menulis di media. Sering-seringlah mengirim tulisan ke media. Lalu biarkan masyarakat yang akan menilainya. Kalau tulisan diterima baik oleh masyarakat, maka akan dengan mudah menerbitkan sebuah buku karena sudah dikenal masyarakat.

Mas Agus mengatakan, bahwa di Banjarmasin karya sastra kurang dihargai. Contohnya, pemberian honor yang sedikit atas cerpen yang dikirim ke media. Terkadang, ditagih dulu baru honor dikasih. Sastrawan Kalsel juga kurang dikenal. Tapi, kalau sudah mempunyai jiwa sastrawan pasti akan terus berkarya walaupun keadaanya begitu. Ada peserta yang bertanya, bagaimana caranya untuk menjadi sastrawan? Caranya ya dengan menulis, jelas mas Agus.

Begitu pemberian materi dan sesi tanya jawab selesai. Acara dilanjutkan dengan pengumuman pemenang lomba cerpen yang diikuti SMP dan SMA Sederajat. Di akhir acara ada doorprize bagi peserta seminar yang di bawah bangkunya ada kertas bertulis “Selamat Anda Beruntung ^_^”. Peserta seminar yang beruntung ada dua orang, cowok dan cewek. Dan aku salah satunya. Alhamdulillah, aku dapat buku “Al Qandas Al Kamiil, Kegagalan yang Sempurna” karya Dr. Fauzan Muttaqien a.k.a. Akin. Penulis juga lulusan SMAN 7 Banjarmasin seperti aku, dia kakak kelasku. Bukunya keren. Baru membaca halaman pembuka saja aku sudah ngakak. Apalagi halaman selanjutnya. Oh iya, dia juga menulis novel “Betty Ta Iye”. Kelucuan dan kegokilan isinya enggak kalah sama Kambing Jantan-nya Raditya Dika. Aku menyesal karena dulu waktu ditawari Betty Ta Iye aku enggak mau beli. Aku membacanya pinjam dari temanku, Ghina. Dan sekarang mau beli tapi sudah tidak dicetak lagi.



Photo0717 Kertas di bawah bangkuku

Photo0719 
Buku Al Qandas Al Kamiil, Kegagalan yang Sempurna

Sudah dulu ceritanya. Aku mau baca buku Kegagalan yang Sempurna dulu. Cau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar