Pages

Rabu, 30 Januari 2013

Resensi Buku - The Ring of Solomon (Cincin Solomon)

Judul: The Ring of Solomon (Cincin Solomon)
Penulis: Jonathan Stroud
Terbit: November 2012 (cetakan kesatu)
Tebal: 528 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama


The Ring of Solomon (Cincin Solomon)

Sudah lama aku merindukan kisah Bartimaeus. Terpuaskan juga akhirnya. Di paragraf terakhir The Ring of Solomon aku senang sekaligus sedih. Mampu menyelesaikan membaca novel tebal. Tapi, kisah jin sok—baiklah, keren, Bartimaeus—usai.

Semua tokoh di The Ring of Solomon adalah baru. Kecuali dua. Faquarl dan tentu saja, Bartimaeus, dia tokoh utamanya. Kisah ini berlatar Jerusalem dan sekitarnya, tahun 950 SM.

Alkisah, Solomon—raja yang memerintah Jerusalem—memiliki sebuah cincin yang di dalamnya terkurung spirit berkekuatan tinggi, Uraziel namanya. Hanya dengan memutarnya, Solomon dapat memerintah Uraziel untuk melakukan apa saja. Mengerahkan pasukan spirit dari Dunia Lain, salah satunya. Sehingga tidak ada yang sanggup melawan Solomon dengan cincinnya.

Solomon memiliki banyak sekali istri. Dan ingin menambah lagi dengan melamar Balkis—ratu Sheba. Sayangnya, Balkis menolak lamaran tersebut. Masalah mulai muncul ketika utusan dari Jerusalem mendatangi Balkis dengan menyampaikan bahwa Balkis harus menyerahkan upeti tahunan karena telah menolak lamaran Solomon. Balkis diberi waktu dua minggu. Kalau tidak menyerahkan upeti, Sheba akan diserang. Tetapi, Balkis sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Dia mengutus seorang pengawal menyusup ke Jerusalem untuk membunuh Solomon dan membawa cincinnya ke Marib. Pusat kerajaan Sheba.

Pengawal itu seorang gadis enam belas tahun. Cantik. Ahli dalam perang. Dia juga tahu tentang sihir, meski sedikit. Namanya Asmira. Nah, aku suka tokoh ini. Mengingatkan aku pada Kitty di The Bartimaeus Trilogy. Menjelang akhir novel, aku jengkel sekali. Dia terlalu patuh dengan perintah Balkis. Tidak peduli dengan yang belakangan diketahui bahwa menuruti perintah Balkis adalah hal salah. Maka, terjadilah masalah baru. Seperti yang dikatakan Bartimaeus kepada Asmira berikut.

Kau benar-benar tidak pernah mempertanyakan apa-apa, ya? 'Kepatuhan buta demi tujuan tak berguna'—itu bisa jadi mottomu. – h. 357

Solomon memiliki kelompok penyihir yang dikenal dengan nama Kelompok Tujuh Belas. Tersisa enam belas, penyihir bernama Ezekiel mati. Karena terjadi kecelakaan—tepatnya, kecerobohan—sewaktu berada di pentakel. Sehingga dibunuh oleh jin yang dipanggilnya, Bartimaeus.

Kemudian Bartimaues dipanggil lagi ke dunia manusia untuk terpaksa mengabdi kepada salah satu penyihir Solomon bersama tujuh jin lainnya—Faquarl, Beyzer, Chosroes, Menes, Nimshik, Tivoc, Xoxen—dan satu foliot bernama Gezeri. Khaba namanya. Penyihir kejam. Tapi juga kuat. Memang, penyihir-penyihir di Kelompok Tujuh Belas adalah orang-orang yang kejam. Tapi, dia yang terkejam.

Ezekiel dan Khaba adalah master Bartimaeus, sebelum akhirnya dia harus mematuhi perintah Asmira untuk membantunya dalam melakukan misinya. Membunuh Solomon dan membawa cincinnya ke Marib. Tidak mudah. Juga, ternyata tindakan Asmira menuruti perintah Balkis itu salah. Kenapa? Ya, jawabannya ada di novel.

Ah. Aku sedikit kecewa. Aku banyak menemukan typo. Barangkali karena terburu-buru. Ini, aku tuliskan di mana saja menemukan typo. Novel ini akan ada cetakan selanjutnya. Kukira.

Halaman 86: samai >> sampai.
Halaman 142: sebeah >> sebelah.
Halaman 144: kenakan-kanakan >> kekanak-kanakan.
Halaman 167: manyala >> menyala.
Halaman 170: catik >> cantik.
Halaman 173: bayak-banyak >> banyak-banyak.
Halaman 209: cup >> cukup.
Halaman 221: pela-pelan >> pelan-pelan.
Halaman 224: udah >> sudah.
Halaman 246: sppirit >> spirit.
Halaman 253: mngetuk >> mengetuk.
Halaman 255: kataya >> katanya.
Halaman 282: ambanng >> ambang.
Halaman 289: bentu >> bentuk.
Halaman 290: degan >> dengan.
Halaman 292: menter >> menteri.
Halaman 293: mejamu >> menjamu.
Halaman 294: menter >> menteri.
Halaman 310: meliha >> melihat.
Halaman 313: watu >> waktu.
Halaman 315: mebakar >> membakar.
Halaman 315: meyedihkan >> menyedihkan.
Halaman 316: menarik-nari >> menarik-narik.
Halaman 319: membatunya >> membantunya.
Halaman 334: adaah >> adalah.
Halaman 338: tedengar >> terdengar.
Halaman 361: dpan >> depan.
Halaman 366: sagat >> sangat.
Halaman 386: meakukan >> melakukan
Halaman 401: duuga >> duga.
Halaman 402: printah >> perintah.
Halaman 431: pemunuh >> pembunuh.
Halaman 469: perah >> pernah.
Halaman 473: baragkali >> barangkali.
Halaman 478: hapir >> hampir.
Halaman 488: namu >> namun.
Halaman 505: tedengar >> terdengar.
Halaman 506: dindig >> dinding.
Halaman 513: beruca >> berucap.
Halaman 524: bawa >> bahwa.

Bagiku yang sudah pernah membaca The Bartimaeus Trilogy, The Ring of Solomon tidak lebih seru. Tidak ada hal yang terlalu mengejutkan seperti di tiga novel Bartimaeus sebelumnya. Tetap saja, sebagai pecinta Bartimaeus—atau, barangkali, pengagum tulisan Jonathan Stroud—aku menyukai The Ring of Solomon. Dengan sikap kekurang-ajaran Bartimaeus yang menjadi ciri khas. Kata-katanya yang pedas. Sombong. Ahli berdiplomasi. Senang mencerocos dan melanggar aturan. Ya, aku suka sekali dengan gaya penulisan Jonathan Stroud. Juga, dengan catatan kaki-nya.
Tapi kau sudah kenal aku. Aku Bartimaeus: lidahku tidak pernah terikat. – h. 91

Bagi yang belum pernah membaca The Bartimaeus Trilogy, langsung membaca The Ring of Solomon tidak masalah. Semoga masih ada penyihir yang mau memanggil Bartimaeus ke dunia manusia. Biar aku bisa membacanya.


Maulana Usaid
30 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar