Pages

Senin, 15 Juli 2013

Cerpen - Om Neanderthal


Foto: larry wfu (flickr.com)

Pagi ini, pagi yang indah. Bersumber dari kicauan burung-burung di pohon yang mungkin artinya adalah sumpah serapah karena ini hari senin, atau barangkali, itu puji-pujian kepada peciptanya. Juga, daun-daun kering lepas dari ranting yang menyangganya. Lepas, untuk memberi kesempatan yang lain tumbuh. Tumbuh, untuk kemudian lepas. Lepas, untuk jatuh ke bumi. Angin bertiup perlahan. Itu untuk membuat udara pagi ini bisa dikatakan sejuk. Sekarang aku sedang berada di sini. Duduk di lantai pelataran rumah. Bersama denganku dia yang di sebelah kiriku duduk dengan menyilangkan kedua kakinya. Adalah dia Om Neanderthal. Aku memanggilnya Om Nean.

Di hadapan kami sudah tersedia danau dengan di permukaannya angsa-angsa yang sibuk mengayuhkan kaki-kaki mereka agar tidak tenggelam. Air di danau sedang banyak riak. Itu disebabkan gerimis yang mulai turun dari langit. Angsa-angsa berenang mencari tempat berteduh, di bawah pohon yang aku tidak tahu namanya itu. Dan lihat di sana, aku pernah mendengar di gunung itu ada gua yang di dalamnya ada naga bersarang.

“Ketika mencintai, cintailah dengan ada apanya,” kata Om Nean.

“Terima kasih,” kataku.

Kalau mengira kalimat tadi untuk Om Nean, itu adalah persangkaan yang salah. Aku berterima kasih kepada istri Om Nean yang muncul dari dalam rumah dengan menyuguhkan dua gelas teh, sepiring tahu isi, sepiring petis dan selengkung senyum. Oh, manis sekali.

“Iya. Makanlah. Dengan begitu tidak sia-sia aku membuatnya,” segera setelah berkata begitu dia membalikkan badan untuk kembali ke dalam rumah.

Kini, kembali hanya ada aku dan Om Nean. Dia mengambil tahu isi, mencelupkannya ke petis, lalu memakannya. Sedangkan aku penasaran dengan kalimatnya tadi.

“Kenapa ada apanya? Bukankah mencintai itu sebaiknya dengan apa adanya, Om?” tanyaku sambil mencoba untuk menyesap teh yang masih sangat panas.

“Itu kata siapa?” dia balik bertanya.

“Kan, biasanya begitu, Om.”

“Aku heran, banyak yang senang meminjam kalimat orang lain ketimbang membuat kalimatnya sendiri. Ah biarlah. Tapi kataku begini: Ketika mencintai, cintailah dengan ada apanya. Iya, harus ada apanya, yaitu ada orangnya untuk dicintai.”

“Bingung, Om.”

“Bagus kalau begitu.”

“Kok malah bagus?”

“Kalau bingung, berarti kamu belum paham dengan apa yang kukatakan dan sedang berusaha untuk memahami kalimatku tadi.”

“Oh,” kataku sambil mencelup tahu isi ke piring petis. Kamu tahu setelah itu, tahu isi tadi kumasukkan ke mulutku sendiri untuk kumakan. Tapi kamu tidak tahu ini, tahu isinya enak sekali.

“Sebaliknya, kalau kamu tidak bingung itu ada dua sebab. Pertama, kamu belum paham. Tetapi kamu tidak berusaha untuk memahaminya,” Om Nean berhenti sebentar untuk menyeruput teh miliknya, “atau yang kedua, kamu sudah paham dengan kalimatku tadi.”

“Oh. Terus, harus ada apalagi, Om?”

“Yang tadi saja kamu masih belum paham.”

“Biar saja, Om. Kan, pemahaman seseorang akan bertambah bersama waktu berjalan.”

“Itu kalau seseorang itu menggunakan akal pikirannya.”

“Iya.”

Setelah itu Om Nean tidak melanjutkan bicaranya. Aku tidak heran, sebab aku tahu tidak mungkin minum sambil bicara. Aku memperhatikannya sementara dia minum. Om Nean adalah orang yang mempunyai tubuh besar dan tegap. Rambutnya gondrong sebahu. Matanya berwarna cokelat dan tatapannya tajam. Rahangnya besar. Hidungnya mancung. Bagian antara hidung dan mulut juga dagunya ditumbuhi rambut yang lebat.

“Hei! Jangan melihatku begitu,” seru Om Nean.

Aku terkejut. Kemudian membela diri, “Tenang, Om. Itu untuk kepentingan deskripsi.”

“Baiklah. Dengarkan baik-baik, kalau sudah ada orangnya untuk dicintai, kemudian kamu bisa lihat apakah dia punya uang yang banyak atau tidak. Itu...” belum selesai Om Nean bicara, aku langsung memotongnya.

“Tapi, bukankah itu yang dinamakan dengan materialistis, Om?”

“Ada baiknya selesaikan dulu kalimatku. Suka menyela adalah kebiasaan buruk.”

“Maaf, Om. Mudah-mudahan aku bukan termasuk orang-orang yang suka menyela perkataan orang lain. Maukah om melanjutkannya?”

“Tidak apa-apa kamu mencintai dia yang uangnya banyak. Karena uang dibutuhkan dalam berkehidupan. ”

“Hmm.”

“Lalu, kamu bisa melihat keturunannya. Carilah dari keturunan yang baik.”

“Ada lagi, Om?”

“Iya, ada. Tapi, bisakah kamu menunggu sebentar? Aku mau ke wc dulu. Ini penting kulakukan, agar menjaga keseimbangan pencernaanku.” Om Nean sudah mulai berdiri.

“Silakan, Om. Bersegeralah dalam hal kebaikan.”

“Tapi, walau kamu tidak memperbolehkan aku tetap akan melakukannya. Ketahuilah, aku sudah tidak bisa menahannya lagi.”

Om Nean berjalan cepat menuju ke dalam rumah. Meninggalkan aku duduk sendirian sambil menghabiskan tahu isi yang tinggal satu. Aku tertarik untuk memperhatikan riak-riak air di danau. Juga angsa-angsa yang bernaung di bawah pohon yang aku tidak tahu namanya itu dari gerimis yang membesar. Duhai, menyenangkannya mereka yang bermain di bawah hujan. Riak-riak air danau menghanyutkanku ke dalam lamunan. Aku bertanya kepada diriku sendiri. Apakah angsa-angsa itu sedang diliputi kesenangan, ataukah senang mereka hanya permukaannya saja?

Di tengah lamunanku, aku merasakan ada yang menepuk pundakku. Membuatku tersadar dari lamunan. Dia Om Nean yang sudah kembali dari urusan mendesaknya, membawa sepiring tahu isi yang diletakkannya di sebelah piring tahu isi yang sudah kuhabiskan tadi sebelum akhirnya dia duduk.

“Sudah sampai manakah pembicaraan kita tadi?”

“Keturunan yang baik, Om.”

“Tapi tahukah kamu, pertanyaanku tadi hanya untuk mengujimu apakah kamu benar-benar menyimak atau tidak?”

“Sungguh, maafkan aku. Aku sudah mengiranya, Om.”

“Baik. Setelah keturunannya, lihatlah olehmu bagaimana wajahnya. Pilihlah yang cantik. Tapi sungguh, cantik bukan hanya perkara pandangan mata. Ini juga menyangkut urusan perasaan.”

“Urusan perasaan?” aku mengernyitkan dahi.

“Iya, biarkan perasaanmu yang menilai itu,” katanya sambil memegang dada sebelah kiri.

“Hmm,” gumamku sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dengan begitu, Om Nean tahu bahwa aku mengerti maksudnya.

“Tapi, apakah kamu ingin bahagia?”

“Aku kira tidak ada manusia yang ingin menderita, Om. Kalau memang ada, kukira itu aneh.”

“Ingatlah baik-baik. Kalau ingin bahagia, utamakanlah dengan melihat bagaimana agamanya. Kalau agamanya baik, insya Allah yang lainnya juga akan baik.”

“Mudah-mudahan aku termasuk orang-orang yang ingatannya kuat.”

“Bila yang kamu cintai itu baik, kamu juga harus baik. Dengan begitu, kurasa akan menjadi adil.”

“Oh, memantaskan diri.”

Om Nean memegang pundak kiriku, “Dengar, aku pikir semua orang memantaskan diri melalui perbuatannya. Bahwa pantas seseorang mendapati hal baik manakala dia berlaku baik. Begitu pun sebaliknya”

“Iya, Om.”

“Nah, maukah kamu aku bacakan sesuatu yang dengan itu akan menambah pemahamanmu?”

“Silakan, Om, kalau memang begitu.”

Om Nean segera merogoh saku bajunya yang ada di bagian kiri dadanya. Kemudian dia mengeluarkan kertas dan membaca tulisan di kertas itu.

“Ruh-ruh itu ibarat prajurit-prajurit yang dibaris-bariskan. Yang saling mengenal di antara mereka pasti akan saling melembut dan menyatu. Yang tidak saling mengenal di antara mereka pasti akan saling berbeda dan berpisah.”

“Bingung, Om.” Aku mengernyitkan dahi lagi.

“Nanti kamu akan paham apa maksudnya. Simpanlah.” Om Nean menyerahkan kertas yang dibacanya tadi ke tanganku.

“Om.”

“Hmm.”

“Bolehkah aku menanyakan sesuatu yang akan menghilangkan rasa penasaranku?”

“Tanyakanlah.”

“Apakah benar di dalam gua di sana itu ada naga bersarang?” aku menunjuk ke seberang danau.

“Tapi, maafkan aku. Aku ada di kisah ini bukan untuk menceritakan naga.”

“Oh. Mungkin lain kali.”

“Mudah-mudahan.”

Matahari bergerak naik ke langit. Hujan mulai reda. Angsa-angsa sudah tidak lagi bernaung. Burung-burung terbang berputar-putar di atas danau. Entah di mana mereka sewaktu hujan tadi.

Aku berpamitan pulang kepada Om Nean. Dan kepada istrinya, setelah dipanggil keluar oleh Om Nean. Aku pulang dengan membawa sebungkus tahu isi yang belum dimakan sambil memikirkan sesuatu. Kepada siapakah nanti aku akan mencintai?


Maulana Usaid
15 Juli 2013

1 komentar:

  1. cerpen nya sangat inspiratif dan sangat terkesan untuk di baca

    BalasHapus

Komentar-komentar