Pages

Rabu, 18 Juni 2014

Kepada Kamu yang Berbaju Ungu

PE(R)LUKAN?

Kepada kamu yang berbaju ungu,

Waktu itu, kamu membonceng di belakang motor matic-ku. Tanganmu, kamu lingkarkan di perutku. Aku mengantarmu ke pangkalan angkot. Kamu tidak memberitahuku akan pergi ke mana dan berapa lama. Tapi, hanya mengantarmu saja sudah membuatku senang.

Sesampainya di pangkalan angkot, kamu turun dari motor. Mendekat ke satu angkot yang sudah ada banyak orang di luar angkot ramai membicarakan sesuatu yang aku tidak tahu. Saling berbicara seperti sedang berdebat.

Mungkin karena tidak mau ikut campur dengan urusan yang merepotkan itu kamu mendatangiku. Kutanyai kamu, “Sudah mau berangkat?”

Aku turun dari motor dan hendak menjatuhkan pantatku di atas bangku panjang. Sebelum aku sempat duduk, tiba-tiba kamu merangkul tubuhku. Tentu saja aku terkejut, tapi aku hanya diam menerima dan menikmati pelukanmu.

Di samping telingaku kamu berkata, “Bagaimana kalau kita tidak bertemu lagi?”

Lagi-lagi kamu membuatku terkejut. Aku sedikit berat menarik napas.

Terjadi keheningan di antara kita. Lidahku kelu. Aku bingung harus menjawab apa dan bagaimana. Baru kali ini aku berhadapan dengan keadaan canggung begini ketika berdua denganmu. Ditambah sekarang aku mulai merasakan basah di bahu kiriku.

“Bagaimana?” tanyamu lagi.

Kamu menambah erat pelukanmu. Dan itu semakin menambah bingungku. Cukup lama, aku dan kamu saling diam dalam pelukan masing-masing. Hingga aku mulai yakin untuk menjawab pertanyaanmu, kulepaskan pelukanmu.

Meski sedikit ragu. Kupegang kedua bahumu sambil kulihati matamu. Kamu menunduk terisak.

“Aku pernah menyukaimu. Menginginkan kamu menjadi kekasihku,” kataku.

“…..”

“Ketika awal-awal kita saling kenal.”

Kamu mengangkat kepala. Menatap mataku. Mendekat ke wajahku. Lalu membawa bibirmu menuju bibirku. Aku menghindar.

“Tapi…”

“Kenapa?” tanyamu.

“Sekarang pun aku masih menyukaimu. Aku menyukaimu sebagai teman. Dan aku tidak mau mencium bibir temanku.”

Sebelum kamu membalas ucapanku, segera kupeluk tubuhmu. Sangat erat.

“Meski begitu, aku tidak tahu kalau nanti.”

*)Ilustrasi dipinjam dari akun @maulanausaid1912 di instagram.com

Maulana Usaid
Juni 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar