Pages

Senin, 22 September 2014

Aku Malu

malu...

Betapa sebenarnya aku adalah seorang pemalu. Sejak TK. Aku ingat waktu itu kira-kira acara karnaval, tapi aku lupa karnaval apa. Para pesertanya memakai pakaian daerah atau kostum lainnya. Waktu berkeliling kota naik mobil pick up, aku duduk di dekat mamaku yang adalah juga guru kepala sekolah di TK aku sekolah. Dan di sampingku ada duduk seorang perempuan dengan kostum pengantin atau apalah yang berwarna oranye. Yang aku rasakan waktu itu adalah risih. Aku risih duduk bersebelahan dengan perempuan. Ingin rasanya aku pindah duduk saja. Atau, karnavalnya lekas berakhir.

Juga sewaktu SD. Waktu itu aku termasuk ke dalam golongan murid pintar dan rajin belajar. Alhamdulillah aku pernah juga merasakan jadi orang pintar. Aku yang kelas 5 diikutkan lomba cerdas cermat di sekolah lain bersama dua kakak kelasku yang mereka keduanya perempuan. Nama mereka sama-sama Rahmi. Meski waktu itu aku pintar, tapi sia-sia kepintaranku. Aku tidak membantu mereka menjawab pertanyaan. Aku cuma diam. Ada pertanyaan yang tidak bisa dijawab kakak kelasku tapi aku diam, padahal aku tahu jawabannya. Aku berusaha keras untuk berani memberi tahu mereka jawabannya, tapi aku kalah dengan sifat pemaluku.

Waktu pulang kembali ke sekolah, kami bertiga naik becak. Aku duduk diapit mereka. Betapa malu dan gugupnya aku waktu itu. Apalagi begitu sampai di sekolah aku di-ciecie-in kawan-kawan. Padahal Rahmi yang satunya memiliki wajah cantik. Ahem.

Aku sungguh pemalu. Apalagi segala hal yang menyangkut perempuan.

Sekarang pun aku masih pemalu. Aku malu untuk memberi tahu banyak orang aku sedang di mana. Aku juga malu memberi tahu banyak orang aku sedang melakukan apa. Aku malu bercerita yang menurutku itu lumayan bersifat pribadi kepada banyak orang. Kecuali, hanya kepada orang-orang tertentu yang aku maui.

Kalau kamu menemukanku dalam kenyataan bahwa aku memperlihatkan kemaluanku, atau tidak tahu malu, ketahuilah, itu aku sedang berpura-pura. Asal kau tahu saja, sekarang aku sedang berpura-pura.


Maulana Usaid
22 September 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar