Pages

Jumat, 21 November 2014

Bersama Diogenes

Alexander Agung dan Diogenes


Pagi hari pukul 6 lebih 43 menit aku membayangkan sedang mengunjungi seseorang di kediamannya. Dia itu yang namanya Diogenes dari Sinope. Murid dari Antisthenes—pendiri aliran filsafat Sinis.

“Bolehkah aku duduk di sini?” Tanyaku kepadanya.

“Silakan.” Jawabnya tanpa menoleh kepadaku. Pandangannya ke arah sana, di mana matahari terbit.

Aku di duduk di sebelah kanannya. Kami duduk di atas tanah dan bersandar di tong besi.

“Nanti Alexander Agung akan ke sini,” kataku. Pengetahuan tentang hal ini kudapat dari novel terjemahan Dunia Sophie karangan Jostein Gaarder halaman 213.

“Biar saja. Asal tidak mengganggu urusanku saja.”

“Iya. Mataharinya bagus.”

“Diamlah. Nikmati saja.”

“Tapi aku sedih. Aku mau…”

“Diam kataku. Jangan cerewet.”

“Iya.”

Selanjutnya adalah seperti apa yang kubilang kepada Diogenes, Alexander Agung mendatanginya. Menawarkan bantuan. Diogenes menolaknya. Dia hanya perlu Alexander Agung bergeser dari tempatnya berdiri karena menghalangi matahari yang sedang kami pandangi.

“Silakan kalau kamu mau bergabung dengan kami, Om. Masih banyak tempat,” tawarku kepada Alexander Agung.

“Tidak, terima kasih. Aku ada urusan lain.”

Alexander Agung meninggalkan kami untuk urusannya yang lebih penting. Aku dan Diogenes duduk-duduk santai menikmati matahari hingga siang hari.


###


“Buat apa pelita itu kamu nyalakan, Om?” Aku heran kepada Diogenes.

“Aku mau mencari orang jujur di pasar.”

“Begitu sulitkah, Om, sehingga kamu harus membawa pelita siang-siang begini?”

“Kalau kamu mau ikut, jangan banyak tanya atas apa yang aku perbuat.”

“Iya.”

“Ayo kemon.”


Maulana Usaid
November 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar