Pages

Kamis, 31 Maret 2011

Kisah Air Kencing Sang Bocah

“Easy going, going easy. Nikmati saja setiap kegembelan, kebodohan, dan kegilaan hidup ini dengan menyunggingkan senyum selebar-lebarnya.” –Mahasiswa gembel-

Pagi sebelum berangkat kuliah tadi aku mendapatkan pelajaran berharga dari 3 bocah ingusan. Begini ceritanya, cekedot.

Hari ini aku masuk kuliah jam 09.20, jadi bisa bangun siang. Sebelum berangkat, aku melihat tontonan seru lewat kaca rumahku. Di seberang jalan ada 3 bocah ingusan, kira-kira umurnya sekitar enam tahun-an. Dua laki-laki dan seorang perempuan. Kayak di film “Realita, Cinta, dan Rock N Roll” kata Umin kakakku. Ketiganya berpenampilan lusuh tak terurus. Juga enggak pakai alas kaki. Mereka bertiga sedang asik memperhatikan sumur kecil tetanggaku. Entah apa yang mereka pikirkan, lalu tiba-tiba cuuurrrrr...... air kencing yang masih hangat mengalir deras ke dalam sumur tetanggaku dari salah seorang bocah laki-laki itu bak air keran di tempat pencucian motor.

Setelah puas mengeluarkan unek-unek, bocah ingusan itu jalan ke muka rumah tetanggaku bersama dua temannya. Sekarang, rumah tetanggaku yang jadi pusat perhatian mereka. Enggak lama kemudian sang empunya rumah keluar. Dengan memasang muka marah dia bertanya kepada bocah-bocah tadi, “siapa yang kencing di sumur itu tadi!?”

Sebenarnya sih aku enggak dengar apa yang dikatakannya, soalnya aku melihat dari dalam rumah. Aku cuma mengira-ngira dari bahasa bibirnya. Oke, kembali ke 3 bocah ingusan.

Tanpa keluar sepatah katapun dan tanpa muka yang berdosa salah seorang dari mereka menunjuk temannya yang kencing tadi. Trus, mereka bertiga saling tatap dengan tetanggaku. Andai sinetron, mungkin akan disertai dengan musik horor. Tetanggaku dengan muka marahnya dan bocah-bocah tadi dengan muka polos tanpa dosa. Setelah puas tatap-tatapan, tetanggaku kembali masuk ke rumah.

Oke, ceritanya selesai. Apa yang dapat ku ambil pelajaran dari 3 bocah ingusan tadi? Aku kagum dengan ketenangan mereka mengahadapi masalah yang mereka buat sendiri. Padahal kan mereka bisa saja lari pas tetanggaku keluar.

“Easy going, going easy. Nikmati saja setiap kegembelan, kebodohan, dan kegilaan hidup ini dengan menyunggingkan senyum selebar-lebarnya.” Kegembelan artinya saat lagi jatuh. Kebodohan artinya bila melakukan kesalahan. Kegilaan artinya pas hidup lagi jaya-jayanya. Hidup ini enggak usah dibawa susah. Yang penting easy going, going easy.

1 komentar:

  1. Walaupun hidup itu enak untuk dijalani dengan cara easy going dan going easy.. tanpa stress, namun kita juga mesti berupaya agar easy going dan going easy-nya selalu mendapat keberkahan... :) Peace

    BalasHapus

Komentar-komentar