Pages

Kamis, 30 Juni 2011

Emangnya Mukaku Terlihat Seperti Homo?

Malam tadi habis isya aku belajar bahasa Assembly buat mengejar ketertinggalanku karena malas, sekalian persiapan Ujian Akhir Semester (UAS). Mengingat Ujian Tengah Semester (UTS) kemarin gagal, aku berusaha supaya UAS nanti berhasil. Sesekali aku istiharat untuk menenangkan pikiran yang berusaha keras memahami coding-coding bahasa mesin itu. Sekitar jam setengah sepuluh, kriinggg.. kriinggg.. Ada sms masuk. Di layar hp tertulis nama Andit. Isi smsnya: “Lan, aku mau ke rumahmu pinjam novel “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur!” sekalian mengembalikan buku “Setan 911.” “Enggak bisa, soalnya novelnya lagi dipinjam temanku,” langsung kubalas. “Kalau begitu, mengembalikan Setan 911 sajalah dulu.” “Oke deh.”
Di rumahku, Andit mengajakku ngopi di warung kopi. Okelah, sekali-sekali nongkrong di warkop. Sambil ngopi, kami bertukar kisah. Dari kisah pas kami SMA, rencana liburan, sampai kisah hantu. Setelah puas, kira-kira jam setengah dua belasan, kami cabut. Trus, kami mau lihat arena bermain water boom yang baru dibangun, tempatnya dekat dengan “Begau” tempat prostitusi. Pas sampai di sana, sekalian aku ajak lihat-lihat Begau. Soalnya aku belum pernah lihat, penasaran.
Begau itu di dalam gang, tempatnya seperti bedakan (bahasa Banjar, artinya rumah sewaan). Dari luar tercium bau minyak urut, pikirkan sendiri sajalah apa yang terjadi. Kulihat di depan salah satu rumah ada beberapa orang cewek lagi ngobrol. Di jalanan ada beberapa cowok, juga lagi ngobrol. Kami lihat dari luar gang saja. Aku cuma ingin tahu saja. Habis lihat sebentar kami langsung cabut.
Aneh, padahal di dekat situ ada kantor polisi.
Habis itu kami nongkrong di siring. Berbagi dan bertukar kisah lagi. Pas lagi asyik ngobrol, tiba-tiba ada seorang bapak—kira-kira empat puluh tahunan—ke atas menyetop motornya. Trus, memandangi kami berdua. “Kamu ada utang sama bapak itu, Lan?” tanya Andit bercanda. “Enggak ada,” sambil melirik bapak itu aku melanjutkan kisah dengan serius. Padahal dalam hati aku gugup. Bagaimana kalau bapak itu turun dari motornya, trus mendatangi kami, truss.. Ah, enggak tahulah apa yang terjadi selanjutnya.
Dari luar kami terlihat tenang, tapi hati kami dalam keadaan gundah gulana. Alhamdulillah, sekitar 3 menitan bapak itu berlalu. Syukurlah. Mungkin dia lagi mencari orang—kelahi.
Jam setengah satu dini hari Andit mengantarku pulang.
Sesampainya di rumah kuceritakan tentang bapak tadi dengan Umin, kakakku. “Mungkin dia itu polisi yang ingin merazia,” selidik Umin. “Lha, emangnya kami salah apa? Cuma nongkrong,” aku membela diri. “Mungkin kalian dikira pasangan homo.”
EMANGNYA MUKAKU TERLIHAT SEPERTI HOMO?
PS: Aku sebenarnya orang rumahan. Jarang sekali keluar malam seperti itu. Dan tentang tempat prostitusi itu aku cuma penasaran, bagaimana sih tempat prostitusi itu? Enggak ingin main-main kok. Percayalah, kawan.

1 komentar:

Komentar-komentar