Pages

Rabu, 13 Juli 2011

Nonton Surat Kecil Untuk Tuhan

surat_kecil_untuk_tuhan_poster_tayang_07_07_20113Senin 11 Juli kemarin sehabis UAS matematika aku, Gusti, dan Alfian ke Studio 21 di Duta Mall Banjarmasin mau nonton Surat Kecil Untuk Tuhan. Kenapa nontonnya hari senin? Ya, karena Senin bayarnya paling murah.

Oh ya, Surat Kecil Untuk Tuhan diangkat dari kisah nyata perjuangan seorang gadis remaja bernama Gita Sesa Wanda Cantika melawan kanker ganas yang bahasa kedokterannya adalah rabdomiosarkoma. Yang sebelumnya sudah pernah dibuat novelnya oleh Agnes Danovar. Dan punyaku adalah cetakan yang kedelapan.

Sesampainya di Studio 21 ternyata masih tutup. Kami memutuskan untuk ke Gramedia dulu sambil menunggu bioskopnya buka. Setelah cukup lama membaca-baca buku kami kembali ke Studio 21. Bioskopnya sudah dibuka. Setelah memastikan film ada kamipun memesan tiket, dan dapat kursi yang posisinya lumayan.

Jam menunjukkan sekitar setengah satu. Kira-kira setengah jam lagi filmnya akan diputar. Dan waktu Zuhur sudah masuk, kuajaklah Alfian dan Gusti untuk sholat dulu. Pas lagi wudhu, keadaan masih aman-aman saja. Setelah aku masuk ke dalam musholla, masya Allah, bau sekali. Bau basah. Entah dari mukena atau keset yang basah. Ya, terjadilah aku sholat sambil pikiranku melayang-layang di kebauan. Memprihatinkan, tempat ibadah yang cuma sebesar 2x3 meter kok kurang diperhatikan sih. Berapa sih biaya pemeliharaan yang dikeluarkan mall untuk sebuah musholla kecil?

Sebelum nonton aku menyempatkan diri berkunjung ke toilet dulu. Cuuurrrr... Ah, sungguh nikmat.

Setelah ada suara cewek yang entah darimana asalnya memberitahu filmnya akan dimulai kami langsung menuju ke studio 6.

Pendek kisah, filmnya sudah selesai. Kami pulang dengan kondisi kelaparan. Di tangga eskalator aku ketemu sama teman SMA-ku, Mira, Nade, dan Hendrya.

Secara pribadi aku merasa kurang puas dengan Surat Kecil Untuk Tuhan. Kenapa? Karena ada beberapa adegan di novel enggak ada di film. Seperti pertandingan voli antara gank Keke dan gank Angel tidak ada di dalam film. Trus, enggak adanya keserasian antara kisah di novel dan di film. Kalau di novel, setelah 3 tahun Keke dan Andi pacaran, Keke mutusin Andi. Kalau di film, Keke mutusin Andi pas mereka jadian 1 tahun. Di film di kisahkan kalau Chika kaka pertama Keke suka balapan liar, sedangkan di novel enggak ada. Dan beberapa adegan yang enggak serasi lainnya.

Trus, filmya terkesan terburu-buru. Pertama, enggak dijelaskan kenapa ayah Keke awalnya memilih pengobatan secara tradisional. Trus, tentang kegigihan, semangat, cinta, dan kasih sayang yang diberikan ayah Keke, kesetiaan dan ketulusan Andi, kesetiaan Pak Yus, serta persahabatan Keke dengan Fahda, Shifa, Maya, Idha, Andhini,dan Adhinda. Dan yang terpenting tentang perjuangan Keke melawan penyakitnya. Semuanya dikisahkan dengan datar—menurutku. Kurang begitu mengena.

Jadi, begitu keluar bioskop perasaanku biasa-biasa saja. Enggak ada yang spesial setelah nonton Surat Kecil Untuk Tuhan. Beda pas aku selesai membaca novelnya. Aku jadi termotivasi supaya lebih menghargai hidup bersama orang-orang yang kucintai dan mencintaiku.

Sayang sekali, padahal aku menunggu-nunggu sekali filmnya. Sampai kubela-bela nonton di bioskop. Padahal biasanya nonton film download-an di laptop. Tapi enggak papa, soalnya 2 pemeran teman Keke ada yang bening. Trus, di akhir film ada foto-foto Keke, kakak-kakak Keke, ayah Keke, mama Keke, Andi, Pak Yus, dan sahabat-sahabat Keke. Aku jadi tahu bagaimana muka-muka mereka.

Berikut adalah surat kecil yang dibuat Keke untuk Tuhan:

Surat Kecil Untuk Tuhan

Tuhan...
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.

Tuhan...
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku,
Terjadi pada orang lain.

Tuhan...
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-mu?

Tuhan...
Bolehkah aku memohon satu hal kecil pada-Mu?

Tuhan...
Biarkanlah aku bisa dapat melihat dengan mataku
Untuk memandang langit dan bulan setiap harinya..

Tuhan...
Ijinkanlah rambutku kembali tumbuh, agar aku bisa menjadi wanita seutuhnya.

Tuhan...
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi
Agar aku bisa memberikan kebahagiaan
kepada ayah dan sahabat-sahabatku..

Tuhan...
Berilah aku kekuatan untuk menjadi dewasa
Agar aku bisa memberikan arti hidupku
Kepada siapapun yang mengenalku..

Tuhan...
Surat kecilku ini
adalah surat terakhir dalam hidupku
Andai aku bisa kembali...
Ke dunia yang Kau berikan kepadaku..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar