Pages

Rabu, 13 Juli 2011

Resensi Buku - The Bartimaeus Trilogy Buku 1: The Amulet of Samarkand

Judul: The Bartimaeus Trilogy (The Amulet of Samarkand)
Penulis: Jonathan Stroud
Terbit: 2003 (AS), 2007 (Indonesia)
Tebal: 512 halaman 
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Indonesia), Hyperion Books (Amerika Serikat) 

Resensi The Bartimaeus Trilogy (The Amulet of Samarkand)

Hari Minggu kemarin, tanggal 10 Juli aku berhasil menamatkan novel The Bartimaeus Trilogy Buku 1: The Amulet of Samarkand karya Jonathan Stroud. Setelah membaca novel ini aku berpikiran untuk membuat resensinya, sekalian memenuhi permintaan si empunya novel. Aku meminjamnya dari Kiki. Kata dia novelnya seru, jadi aku penasaran apakah memang benar-benar seru?

Mengenai resensi, sebelumnya aku belum pernah membuat resensi buku. Jadi, ini pertama kalinya aku membuat resensi. Hitung-hitung belajar.

Novel ini bertema sihir, mengisahkan tentang Nathaniel, penyihir muda 12 tahun yang melakukan pemanggilan terhadap jin bernama Bartimaeus yang berusia 5.000 tahun. Dia menugaskan kepada Bartimaeus untuk mencuri Amulet Samarkand, sebuah artefak sihir yang memiliki kekuatan dahsyat dari tangan Simon Lovelace penyihir kejam dan ambisius. Tugas Bartimaeus tidaklah gampang. Simon Lovelace adalah seorang penyihir master. Dia memiliki 2 jin yang lebih hebat daripada Bartimaeus, Faquarl dan Jabor.

Pas pertama kali membaca aku kebingungan dengan gaya bahasanya. The Bartimaeus Trilogy menggunakan gaya bahasa tingkat tinggi, menurutku. Juga, aku agak terganggu dengan adanya catatan kaki di beberapa halaman. Mungkin karena baru pertama kali membaca novel yang mempunyai catatan kaki.

Bab 1, bab 2, bab 3 terasa membosankan. Mungkin masih belum terbiasa dengan novelnya, pikirku. Aku lanjutkan membaca. Sampai kalau tidak salah bab kesembilan, The Bartimaeus Trilogy aku tinggalkan.

Sebenarnya aku masih penasaran dengan akhir ceritanya. Kira-kira 2 minggu setelah kutinggalkan, kuputuskan untuk membacanya lagi dari awal. Walau membosankan tetap saja kubaca. Lama-kelamaan aku mulai terbiasa dengan gaya bahasa The Bartimaeus Trilogy. Dan, voila! Di bagian akhir bab 13 terjadi keajaiban, kisahnya berubah menjadi seru. Di bagian ini di mana Nathaniel memata-matai Simon Lovelace dengan cermin pengintai karena telah mempermalukannya di hadapan masternya, dan masternya hanya diam tidak berbuat apa-apa. Di dalam pengintaiannya, Nathaniel menyaksikan Simon Lovelace menerima Amulet Samarkand dari pria besar misterius berjubah kulit. Setelah melakukan perencanaan yang matang, Nathaniel memanggil Bartimaeus untul mencuri Amulet itu.

Yang memperparah sakit hati Nathaniel adalah perkataan Simon Lovelace di bab 12. Kau tak mampu berbuat apa-apa. Kau tak berdaya. Kau terlalu lemah untuk menyerang balik. Kau tak mampu berbuat apa-apa. Dengan alasan itulah Nathaniel melakukan balas dendam untuk mempermalukan Simon Lovelace.

Aku terkesan dengan keberanian Nathaniel. Dia berani. Seorang penyihir ingusan 12 tahun memanggil jin level 14. Apalagi Bartimaeus ditugaskan mencuri artefak sihir berkekuatan dahsyat dari penyihir master. Dia juga cerdas, gigih, dan penuh ambisius. Satu sifat yang kurang kusuka darinya, ketidaksabarannya dalam melakukan beberapa hal.

Dengan kesemua sifatnya itu Nathaniel akhirnya dapat membalaskan dendamnya—tentu dengan bantuan Bartimaeus. Salah satu adegan Nathaniel yang kusuka adalah di awal bab 43: Memang ciri khas anak itu. Setelah melakukan tugas terpenting dalam hidupnya yang menyedihkan ini, kau berharap ia akan terkulai ke lantai karena lelah dan lega. Begitukah? Tidak. Ini kesempatannya yang terbesar, dan ia menyambarnya dengan lagak sedramatis mungkin. Dengan semua mata tertuju padanya, ia terhunyung-hunyung melintasi aula yang hancur seperti burung terluka, serapuh yang dapat kaubayangkan, langsung menuju pusat kekuasaan. Apa yang akan dilakukannya? Tak ada yang tahu; tak ada yang berani menebak (aku melihat sang perdana menteri mengernyit saat anak itu mengulurkan tangan). Kemudian, pada titik klimaks seluruh persekongkolan kecil-kecilan ini, semua terungkap: Amulet Samarkand yang legendaris—diangkat tinggi-tinggi sehingga semua dapat melihat—dikembalikan ke dada Pemerintah. Anak itu bahkan teringat untuk menundukkan kepala dengan hormat saat melakukannya.

Keren. Tidak seperti kisah pada umumnya, di mana pada saat sang jagoan berhasil mengalahkan musuh sang jagoan terkulai lemah menjatuhkan diri ke lantai dengan perasaan lega.

Bartimaues. Dia jin yang ‘sok.’ Tapi sifatnya yang ‘sok’ inilah yang membuatnya memiliki ciri khas. Bartimaeus mempunyai selera humor yang tinggi. Terbukti dari beberapa ucapannya membuatku tertawa sendiri saat membacanya. Seperti sarannya kepada Nathaniel di bab terakhir: “Satu hal saja,” kataku. “Jika kau ingin memanggil bantuan lain dalam waktu dekat, aku merekomendasikan Faquarl. Dia pekerja yang baik. Berikan pekerjaan yang berguna, seperti mengeringkan danau dengan saringan, atau menghitung butir-butir pasir di pantai. Dia amat andal dalam hal seperti itu.”

Bartimaeus mempunyai kehebatan dalam berdiplomasi dengan bualan-bualannya yang membuat dia selamat dari ancaman Faquarl. Padahal Faquarl berkekuatan di atas Bartimaeus. Dengan kecerdikannya Bartimaeus dapat mengelabui Jabor yang bahkan lebih kuat dari Faquarl. Menurutku, melalui Bartimaeus, penulis ingin menyampaikan bahwa otak dapat mengalahkan otot.

Ya, aku hampir tidak menemukan kekurangan pada The Bartimaeus Trilogy. Keseluruhan, kisahnya keren. Disampaikan dengan alur gabungan maju dan mundur. Melalui kelucuan yang ditimbulkan oleh Bartimaeus dapat memecahkan ketegangan The Bartimaeus Trilogy. Dengan gaya bahasa Jonathan Stroud yang khas membuat The Bartimaeus Trilogy berbeda dengan novel sihir yang lain. Dan dari covernya terlihat sangat misterius dengan sosok Bartimaeus memegang Amulet Samarkand. Percayalah, novel ini seru!

Resensi Buku - The Bartimaeus Trilogy Buku 2: Golem's Eye
Resensi Buku - The Bartimaeus Trilogy Buku 3: Ptolemy's Gate


Maulana Usaid
Banjarmasin
14/07/2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar