Pages

Rabu, 10 Agustus 2011

Bukan Universitas Tapi Mahasiswa

Kutuliskan juga kegelisahanku selama ini. Di mana aku kurang bangga berkuliah di POLIBAN. Menurutku, kurang bergengsi. Seperti UNAIR, UNIBRAW, ITB, atau UI.

Ya, gara-gara itu aku sungkan untuk berkunjung ke sekolahku dulu, SMA Negeri 7 Banjarmasin. Aku enggan ke sana sebelum sukses, kecuali kalau ada sesuatu mendesak yang mengharuskanku ke sana. “Kalau kuliah di universitas terkenal kayak UNAIR atau UNIBRAW sih ada juga yang bisa dibanggakan jika bertemu guru-guru.” Kataku pada Cahyo.

Apakah pemikiran seperti itu benar? Ya, benar bagi “pecundang”—sengaja kukasih tanda petik.

Sekarang aku sadar setelah menonton Kick Andy kalau enggak salah episode “From Nothing to Something.” Salah seorang narasumber berkata, “Bukan pekerjaan yang menjadikan kita mulia, tapi kita sendirilah yang menjadikan diri kita mulia.”—kira-kira begitu katanya. Setelah kurenungi, kata-kata beliau itu juga berlaku untuk kuliah. Kalau boleh kukatakan seperti ini, “Bukan Universitas yang membuat kuliah itu keren, tapi mahasiswa itu sendiri.”

Universitas atau lembaga pendidikan hanyalah sebagai fasilitas belajar. Tergantung mahasiswanyalah yang mau memanfaatkan fasilitas itu dengan baik. Percuma, kalau kuliah di universitas ternama tapi sering bolos.

Aku jadi teringat dengan pernyataan ayahku yang menjadi salah seorang pengurus di yayasan SD Muhammadiyah 14 Banjarmasin. Di suatu kesempatan beliau berkata bahwa, “Wajar, kalau sekolah-sekolah unggulan mempunyai murid yang pintar-pintar. Toh, sekolah-sekolah itu mempunyai fasilitas yang lengkap. Belum lagi kalau ada murid yang mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Nah, kalau sekolah yang biasa-biasa saja tapi mempunyai murid-murid yang berprestasi itu baru hebat!”

Ngomong-ngomong masalah universitas, dulu aku enggak pernah terlalu bermimpi untuk kuliah di luar Kalimantan. Hal ini karena aku melihat dari kondisi ekonomi keluarga kami. Dibilang kaya, belum. Kalau miskin, enggak mau. Itulah yang mematikan harapanku untuk kuliah di luar Kalimantan. Hingga waktu kelas 3 SMA, Ari membujukku untuk mendaftar di Universitas Muhammadiyah Malang lewat jalur beasiswa—dengan mengirimkan fotocopy raport, piagam penghargaan, dan berkas-berkas lainnya. Hari pengumuman yang ditunggu akhirnya tiba, dan aku enggak lulus. Mendengar kabar tersebut mamaku mengucap “Alhamdulillah”. Aku cukup paham kenapa mamaku bilang begitu, mengingat kondisi ekonomi kami untuk biaya hidupku nanti di Malang dan masalah kemandirianku. Akhirnya aku pun kuliah di POLIBAN—yang aku merasa kurang bangga kuliah di sana, mungkin teman-teman yang satu program studi denganku juga.

1 tahun sudah aku kuliah di sana, dan ini semester yang ke-3. Melalui perenungan dan proses berpikir aku menyadari bahwa bukan universitas yang menjadikan kuliahku keren, tapi aku sendiri. Jadilah mutiara yang walaupun terjatuh di selokan kotor dan bau tetapi orang ingin mengambilnya.

Maulana Usaid
Banjarmasin
09/08/2011, 02.34 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar