Pages

Sabtu, 28 Januari 2012

Resensi Buku - A Child Called 'It'

Judul: A Child Called ‘It’
Penulis: Dave Pelzer
Terbit: September 2003 (cetakan ketujuh)
Tebal: 170 halaman
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Resensi A Child Called 'It'
“Kubilang ‘makan ini!’” bentaknya dengan suara tertahan. (halaman 53)

Kalau ada pertanyaan: ‘Adakah orang tua yang tega memukuli anaknya?’, jawabannya ‘ya, ada.’ A Child Called ‘It’ adalah buktinya. Kisah nyata perjuangan seorang anak untuk bertahan hidup. Dikisahkan sendiri oleh Dave Pelzer yang mengalamai penyiksaan oleh ibunya.

Awalnya kehidupan keluarga David baik-baik saja. Keluarga ideal—Ayah, Saudara laki-laki, dan Ibu yang memiliki cinta, kasih sayang, dan penuh perhatian. Ayah yang membuat David merasa istimewa karena memanggilnya dengan sebutan ‘Tiger.’ Saudara laki-laki yang selalu bermain dengan David.

Seperti keluarga pada umunya, akan berlibur ke suatu tempat bila liburan tiba. Keluarga David pun begitu. Tetapi, hari itu adalah liburan sekaligus masa-masa bahagia terakhir David bersama keluarga.
“Terasa ada yang merangkul bahuku. Aku menoleh, lalu diam-diam merasa bangga—ternyata Ibulah yang merangkulku dengan eratnya. Aku bisa merasakan detak jantungnya. Itulah satu-satunya saat dalam hidupku ketika aku merasa begitu aman dan begitu hangat, di Russian River.” (halaman 26)

Sejak itu, hari-hari suram David dimulai. Ibu David berubah menjadi moster. Berbagai penyiksaan diterimanya, mulai dari pemukulan, sampai disuruh memakan kotoran—ya, kotoran Adiknya yang masih bayi. Parahnya lagi, Ayah dan Saudara-saudaranya tidak dapat berbuat apa-apa dengan apa yang dialami David—tepatnya, tidak peduli. Aku sempat membayangkan bahwa ini fiksi belaka, karena penyiksaannya teramat kejam. Tapi, ini nyata. Penyiksaan yang dialami David adalah penyiksaan terhadap anak-anak terparah ketiga yang tercatat di seluruh negara bagian California. Dibakar di atas kompor, dijejali cairan amonia ke dalam mulut, berendam dalam bak mandi, tidak dikasih makan selama sepuluh hari, dan banyak siksaan lainnya.

Membaca A Child Called ‘It’ benar-benar mengusik emosi dan pikiranku. Yang paling mengganguku adalah: ‘Kenapa Ibu David yang awalnya penuh kasih sayang bisa berubah menjadi monster?’ Di buku tidak dijelaskan. Ternyata, di akhir buku dikatakan bahwa pertanyaanku akan terjawab di buku selanjutnya dalam trilogi ini—The Lost Boy dan A Man Named Dave.

Aku kagum dengan keteguhan hati David. Dalam kesendirian, kemarahan, kekalahan, dan keterpurukan, dia mampu bertahan hidup. Bagian yang paling kusuka adalah pada saat David berdo’a.
    Sementara kakak-kakak dan adikku menikmati hamburger mereka, tanpa mereka sadari aku mengatupkan kedua tanganku, kutundukkan kepalaku, kupejamkan mataku, dan aku berdoa dengan sepenuh hatiku. Ketika station wagon Ibu masuk pekarangan rumah, aku merasa waktuku sudah tiba. Sebelum kubuka pintu mobil, kutundukkan kepalaku lebih dalam lagi, dan dengan perasaan damai dalam hatiku, aku berbisik, “…dan bebaskanlah aku dari yang jahat.”
    “Amin.” (halaman 143)

Untuk covernya, aku kurang suka. Akan lebih bagus kalau warna dasar cover berwarna gelap, hitam misalnya. Dan gambar ilustrasinya adalah Ibu yang sedang memukul seorang anak. Akan lebih menarik, menurutku. Walau begitu, A Child Called ‘It’  adalah buku pilihan jika ingin bermain-main dengan emosi.

Maulana Usaid
28 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar