Pages

Rabu, 25 Januari 2012

Resensi Buku - Manusia Setengah Salmon

Judul: Manusia Setengah Salmon
Penulis: Raditya Dika
Terbit: Desember 2011
Tebal: 258 halaman
Penerbit: Gagasmedia


Resensi Manusia Setengah Salmon
Manusia Setengah Salmon. Judul buku yang aneh. Sesuai dengan genre buku ini, non fiksi komedi. Yang jadi ciri khas buku-buku Raditya Dika adalah judulnya yang selalu memuat nama binatang. Bukunya yang pertama ‘Kambing Jantan.’ Kemudian ‘Cinta Brontosaurus’, ‘Radikus Makankakus’ (aku bingung, binatang jenis apa ini?), ‘Babi Ngesot’, ‘Marmut Merah Jambu’, dan yang terbaru ‘Manusia Setengah Salmon’. Juga ada 2 buku ‘Kambing Jantan’ versi komik.

Seperti di buku-buku sebelumnya, Raditya Dika membawakan kisah-kisahnya dengan leluconnya yang khas. Dalam sembilan belas bab di buku ini bercerita tentang perpindahan, mulai dari pindah rumah sampai pindah hati.

Banyak perubahan yang terjadi pada hidup Raditya Dika. Salah satu contohnya, adiknya—Edgar—yang biasanya jadi bahan hinaan di buku-buku sebelumnya. Sekarang, Edgar sudah ganteng. Dia juga punya 2 sepeda fixie. Satu buat begaol, satunya lagi buat jualan siomay.

Judul Manusia Setengah Salmon diambil dari filosofi ikan salmon yang bermigrasi setiap tahun, melawan arus sungai, menempuh jarak berkilometer hanya untuk bertelur.

Ada satu bab yang membuatku mau nangis, yaitu, ‘Kasih Ibu Sepanjang Belanda.’ Ya, untuk sesuatu yang berhubungan dengan orang tua aku memang sensitif. Bab ini bercerita tentang mama Raditya Dika yang terlalu berlebihan dalam memberi perhatian. Misalnya, pas dia dapat beasiswa ke Belanda, mamanya sering banget nelpon dan sms buat nanyain kabar.

Berikut kutipan favoritku yang juga inti dari buku ini. Lumayan panjang.
“HIDUP penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Setiap kali gue ke airport untuk kerja ke luar kota, gue selalu melihat orang-orang yang hendak pergi berpelukan dengan keluarga atau pacarnya di depan pintu masuk. Kepindahan mereka membuat orang-orang terdekatnya sedih.
    Kalau pindah diidentikkan dengan kepergian, maka kesedihan menjadi sesuatu yang mengikutinya. Kita sering berpikir ini adalah perpisahan sehingga merasa sedih melepas hal-hal yang diakrabi, hal-hal yang selama ini membuat kita senang dan nyaman. Akhirnya, melakukan perpindahan ke tempat baru membuat kita dihantui rasa cemas. Apakah akan sama enaknya? Apakah akan sama menyenangkan? Apakah akan lebih baik?
    Padahal, untuk melakukan pencapaian lebih, kita tak bisa hanya bertahan di tempat yang sama. Tidak ada kehidupan lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapannya. Bahkan, rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkannya.
    Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.” (Halaman 255-256)

Ayo jadi manusia setengah salmon.

Maulana Usaid
25 Januari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar