Pages

Senin, 11 Juni 2012

Resensi Buku- Ipung (Buku 1)


Judul: Ipung (Buku 1)
Penulis: Prie GS
Terbit: Februari 2008 (Cetakan Kesatu, Edisi Baru)

Tebal: 200 halaman
Penerbit: Penerbit Republika

Resensi Ipung (Buku 1)




Ah, tokoh Ipung ini membuatku iri saja.

Ipung, anak Kepatihan, Solo, yang merantau ke kota Semarang untuk bersekolah di SMA Budi Luhur. SMA yang mempunyai kelas unggulan. Tempat bersekolah anak-anak orang kaya. Sedangkan Ipung? Cuma anak desa, kerempeng, yang ke sekolah dengan mengayuh sepeda Federal-nya. Siapa sangka Ipung bisa melakukan hal yang memaksa orang lain berdecak kagum—walau dalam hati.

Hari pertama masuk sekolah Ipung menyindir anak-anak kota yang ada di kelasnya—kelas unggulan.

    Kelas tegang. Biasa hari pertama. Tambah tegang lagi ketika yang masuk adalah Pak Bakri. Wakil kepsek itu, sejak MOS (Masa Orientasi Sekolah) telah menunjukkan sifat sok galaknya.
    Ipung sebel. Ia akan sangat menghargai kalau ada anak yang berani untuk tidak tegang. Tapi siapa? Anak yang diharapnya itu tak juga ada. Semua mata adalah mata tegang. Saling asing. Saling menjajagi. Saling belum kenal.
    Ipung mengedarkan pandangan ke sekujur kelas. Semua wajah serius. Katanya saja kota. Unggulan pula. Tapi soal menghadapi rasa tegang, sama kampungannya. (halaman 21)

Well, aku merasa tersindir.

Tapi sudahlah. Itu soal waktu. Toh rasa sebelnya lebih mendorong-dorongnya untuk melakukan sesuatu. Ia tak tahan pada suasana yang serba seragam. Dan hup. Ipung tunjuk jari! Seluruh kelas kaget. Pak Bakri juga kaget. (halaman 22)

Apa yang dilakukan Ipung setelah itu? Ia minta ijin untuk ke belakang. Sontak, ulahnya itu membuat seisi kelas terbahak. Di sinilah awal mula Ia membuat kehebohan. Dan kehebohan itu membuatnya menjadi ‘semacam idola’ di SMA Budi Luhur. Bahkan, si Anak Mami Paulin dibuatnya kagum.

Nasihat-nasihat Lik Wur-nya sering mengiringi tindakan-tindakan ajaib Ipung. Ada nasihat Lik Wur tentang wanita, yang membuatku seorang jomblo ini, eh single—Ah, jomblo atau single padahal sama saja, sama-sama belum mempunyai pasangan—berbesar hati.

    Ah Lik Wur, dada keponakanmu telah dipenuhi desir yang aneh. Desir bahagia. Tapi nantilah, aku masih ingat ucapanmu. Wanita memang suka bikin bahagia. Tapi ingat, atur waktunya. “Masih banyak persoalan hidup yang lebih besar, ketimbang sekadar wanita,” teriak Lik Wur waktu itu. (halaman 42)

Ipung, novel remaja, tapi bukan roman picisan seperti novel remaja kebanyakan. Bukan hanya cinta anak SMA yang disuguhkan. Tapi lebih banyak kepada masalah sosial. Motivasi, psikologi, dan agama juga ada. Baca saja pada penggalan berikut tentang kebiasaan meledek.

    Ledekan memang lebih banyak mau melucu. Tapi betapa kejamnya melucu itu kadang-kadang. Lucu bagi seseorang adalah penderitaan bagi orang lain. (halaman 67)

Ah, ini. Aku lebih tersindir daripada sebelumnya.

Ipung, sosok fiksi yang mengajak agar selalu percaya diri walau memiliki banyak kekurangan.

    “Saya yakin, karena Mandra minder, maka ia pilih jadi bintang sinetron. Karena saya minder, saya nekat mencintai Paulin. Bukan sebaliknya!”
    Tepuk tangan meledak
    “Kita sama-sama tidak cakep Marjikun. Tapi adalah suatu bukti, kalau Paulin mencintai saya. Sekian!” (halaman 136)

Inilah yang membuatku iri dengan Ipung. Seorang kerempeng, wajah pun tidak bisa dibilang tampan. Tapi apa? Paulin, cantik, anak orang kaya, idola SMA Budi Luhur, dibuatnya jatuh cinta. Otak Ipung juga cerdas. Cerdas sekali malah. Ia juga lihai mengontrol emosi dan tindakan, meski dalam terdesak. Yang kurang aku suka dari Ipung adalah kepribadiaannya yang hampir mendekati sempurna. Aku curiga, jangan-jangan Ipung ini jelmaan si penulis.

Ada typo yang cukup mengganggu pada kata yang kuwarnai merah berikut. Walau cuma kurang satu huruf, tetap saja, artinya jadi lain.

Benar Pung… itu saja. Ini bukan soal kami atau mereka. Tai soal kita semua… (halaman 123)

Oh iya, aku suka membaca tulisan-tulisan penulis. Baik di blognya di priegs.com, tweetnya, atau status facebooknya. Menuruku, tulisan-tulisan beliau antimainstream.

Maulana Usaid
10 Juni 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar