Pages

Rabu, 19 Desember 2012

Menjawab Kebingungan Desy

rak biru tiga tingkat
Kisah ini adalah seminggu yang lalu.

[]

Sebelum masuk mata kuliah pemrograman web hari ini tanggal 12 Desember 2012 aku sempat berbincang dengan kawan. Dia Desy. Kami berbincang perihal buku.

“Buku apa yang kamu tulis di status facebookmu malam tadi, Lan?” Desy membuka perbincangan sambil memegangi handphone.

“Oh itu. Kisah mahasiswa Mesir yang bekerja di Arab. Aku nggak suka bukunya. Cara penyampaiannya nggak asik,” aku menjawab sambil duduk di sebelah Desy. Di lantai.

“Emangnya waktu mau beli nggak dibaca dulu?”

“Waktu di toko buku aku baca isi awalnya rame. Eh pas di rumah, aku lanjutkan lagi membaca jadi nggak asik. Makanya mau aku hadiahkan saja entah kepada siapa yang mau lewat status facebook. Siapa tahu kalau orang lain yang baca malah suka.”

“Oh. Bisa juga. Kalau beli buku, aku bingung bukunya diapakan kalau sudah dibaca.”

Kira-kira begitu perbincangan kami yang terhenti setelah aku berdiri lalu masuk ke dalam labolatorium multimedia. Desy mengikuti di belakangku.

[]


Aku suka baca buku. Baca buku yang plastiknya sudah dibuka di toko buku. Sambil berdiri. Atau duduk kalau ada tempat kosong di bangku. Baca buku yang aku pinjam dari kawan. Baca buku yang aku pinjam dengan membayar di tempat penyewaan buku. Kadang aku harus membayar denda jika mengembalikan melewati tenggat waktu. Baca buku yang aku beli di toko buku. Aku akan beli buku berapa pun harganya jika aku sangat ingin. Juga jika aku mampu. Aku lebih suka beli buku daripada beli pakaian baru.

Pernah aku ditanya kawan sambil bercanda waktu minum di kantin habis kuliah. Namanya Gusti.

“Nggak pengen cari pacar lagi, Lan?”

“Kalau punya pacar aku nggak bisa beli buku,” aku menjawab sambil tertawa. Kawanku juga tertawa. Kami tertawa. Hahahahaha bunyinya.

Buku-buku yang aku beli aku rawat dengan menyampuli pakai plastik bening yang aku beli di toko alat tulis di dekat sekolah SMP-ku. Aku suka menyampuli buku pakai plastik terinspirasi dari kawan. Namanya Gina. Waktu SMA, aku pernah pinjam buku dengan Gina. Dia juga pinjam bukuku. Waktu dia mengembalikan bukuku ternyata bukuku disampulinya pakai plastik. Sejak itu aku suka menyampuli buku pakai plastik. Supaya awet, bersih, tidak mudah kumal. Aku juga suka menyampuli buku yang aku pinjam dari kawan. Sebagai ucapan terima kasih.

Setelah selesai membaca buku. Buku itu aku resensi. Pernah aku dipinjami novel The Bartimaeus Trilogy: Amulet of Samarkand oleh kawan. Namanya kiki. Kata dia novel itu seru. Dia memintaku memberikan komentar begitu selesai membaca. Selesai membaca ternyata komentarku panjang. Tidak mungkin aku tulis lewat sms. Ah, aku berpikir untuk menuliskan komentarku jadi resensi. Padahal aku belum pernah menulis resensi. Juga belum tahu cara menulis resensi.

Kemudian aku mencari contoh-contoh resensi buku di google. Dari contoh-contoh resensi yang aku baca aku menyimpulkan resensi buku adalah: penilaian pembaca terhadap buku yang sudah dibaca, baik dari cover buku, isi buku, gaya bahasa penulis, atau apa saja yang ingin dikomentari pembaca. Nah, jadilah aku menulis resensi buku novel The Bartimaeus Trilogy. Sejak itu, aku suka menulis resensi begitu selesai membaca buku. Meski tidak selalu.

Aku menyimpan buku-bukuku di rak tiga tingkat berwarna biru di kamarku. Di rak tiga tingkat itu ada buku yang aku beli, ada buku pinjaman, ada buku hadiah, ada buku adikku, ada buku kakakku, ada buku Abahku yang sebagian besar perihal agama. Aku senang melihat buku-buku berwarna warni yang aku susun rapi. Sama halnya seperti orang yang senang melihat hujan jatuh ke jalanan berlubang. Aku tidak tahu apakah ada orang seperti itu, aku hanya memberi perumpamaan.

Kadang aku pinjamkan bukuku kepada kawan. Atau aku berikan yang aku kurang suka. Mungkin si penerima akan suka. Selera orang dengan jenis buku yang dibaca berbeda. Aku suka fiksi fantasi. Orang lain suka roman dan buku motivasi. Begitulah.

[]

Kurasa kisahku di atas ada jawaban dari kebingungan Desy bagaimana memperlakukan buku yang sudah dibaca.


Maulana Usaid
12 Desember 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar