Pages

Rabu, 28 Januari 2015

Nyanyian Taman Kanak-kanak

Assalamu’alaykum ibu serta bapak
Pergi ke sekolah taman kanak-kanak
Akan berangkat meninggalkan rumah
Mohon do’a restu kepada ibu ayah
Selamat jalan selamat berpisah
Mulai berangkat dengan baca bismillah



Ia menyanyikan lagu itu sambil mengetuk-ngetukkan bilah kecil ke bumi dengan tangan kanannya. Dengan duduk bersila, tubuhnya bergoyang-goyang maju mundur seperti orang khusyuk berdzikir. Aku tidak bisa melihat ekspresi mukanya. Pandanganku terhalang oleh pagar sekolah. Aku melihatnya hanya sebatas kaki dari celah bawah pagar.

Aku sedang duduk di depan salah satu kelas di sekolah taman kanak-kanak. Menunggu acilku*) menyelesaikan urusan dengan guru di sekolah itu. Waktu itu sudah hampir siang, jadi anak-anak sekolah sudah pada pulang.

Untuk mengatasi bosan aku memotret beberapa benda di lapangan sekolah. Di tengah keasyikanku mengamati hasil jepretanku terdengar suara nyanyian di luar pagar. Itu berasal dari mulut perempuan yang duduk di atas tanah di seberang sekolah. Dia mengenakan sarung cokelat bermotif batik. Rambut kelabu sebahu. Kulit keriput.

Awalnya aku mengira ia seorang pengemis ketika melewatinya mau masuk ke sekolah. Kulihat tangannya memegang beberapa koin rupiah. Tapi dugaanku keliru, ternyata ia senang meracau sendiri sebelum kudengar menyanyikan lagu itu.

Lagu itu ia nyanyikan berulang kali. Sehingga menarik minatku untuk mencatatnya di ponselku. Kemudian dari arah kanan tempatku duduk datang lelaki dengan menunggang motor bebek melewati si perempuan itu.

“Ah, aku belum selesai mencatat semua liriknya,” kataku dalam hati.

Nah kan, dugaanku benar. Nyanyiannya terhenti. Ia kembali meracau. Tapi untunglah, tidak lama setelah itu ia menyanyi lagi. Ia berhasil menghipnotisku. Aku turut bersenandung begitu selesai mencatat semua liriknya. Sambil menggoyang-goyangkan kepala membuatku lupa bahwa menunggu itu membosankan.

Beberapa kali lagu diulang, ia berhenti bernyanyi dan kembali meracau. Fokusku beralih kepada acilku yang keluar dari ruang guru. Aku dan dia mendatangi motor untuk pulang.

Sewaktu keluar sekolah aku ingin melihat lagi muka si penyanyi taman kanak-kanak. Tapi tak kutemukan di mana ia duduk tadi. Kucari ia, kuarahkan pandangan ke arah sana, tempat lelaki tadi datang. Kulihat ia tersenyum ke arahku kemudian menghilang di tikungan.

*) Acil itu bahasa Banjar. Bahasa Indonesianya tante.


Maulana Usaid

2 komentar:

  1. Baru mampir udah suka sama tulisannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, Lan, :)
      *ini seperti aku ngomong kepada diri sendiri.

      Hapus

Komentar-komentar