Pages

Rabu, 25 Februari 2015

Kepada Kamu Istriku



Kekasih,

Apa kabarmu di sana? Di tempat barumu itu. Setelah kau meninggalkan aku, tiba-tiba pergi tanpa memberi tahu sebelumnya. Ditambah lagi, kamu tidak meninggalkan nomor telepon yang bisa kuhubungi. Oh, tentu saja kan.

Sebenarnya malu untuk mengakuinya, saat kamu pergi aku menangis. Andai saja kamu memberitahu lebih dulu sebelum pergi, aku pasti lebih siap. Setidaknya aku akan lebih bisa mengendalikan emosiku.

Kukira tidak salah bila lelaki menangis. Buat apa aku punya air mata kalau tidak aku gunakan. Lagipula aku menangisi orang yang aku sayangi. Mungkin dengan menangis hanya akan membuatku terlihat lemah. Lalu, kalau caraku menyikapi kepergianmu dengan menangis, apa itu salah? Lantas, apakah ini yang benar bila aku berpura-pura kuat dengan membuat senyuman yang dipaksakan?

Sebenarnya surat ini tidak kutulis sendiri. Kamu tahu, aku tidak pandai menulis. Aku menyuruh seseorang di tempat pengetikan samping kelurahan untuk menuliskannya, sementara aku yang mengarang kata-katanya.

Sayang, tahukah kamu bagaimana aku setelah kamu tinggalkan? Pasti tidak tahu. Makanya akan aku ceritakan supaya kamu tahu, walau sebenarnya mungkin kamu tidak ingin tahu. Semenjak kamu pergi aku selalu dirundung sepi. Tidurku tidak nyenyak. Makanku tidak berselera. Ditambah lagi dengan sakit gigiku yang kumat. Tentu saja aku tidak pergi ke dokter gigi untuk mengatasinya. Aku hanya minum obat dari apotek.

Aku masih takut ke dokter gigi. Kamu masih ingat kan cerita waktu aku SD itu? Orang tuaku membawaku ke dokter gigi untuk mencabut gigi gerahamku yang goyang. Demi sepeda bmx, aku seolah-olah tidak peduli dengan rasa takutku yang bersumber dari cerita kawan-kawanku yang pernah ke dokter gigi. Aku mau saja ketika dibawa ke dokter gigi. Tapi nyatanya aku menangis sambil menutup mulutku dengan tangan sewaktu dokter akan memeriksa. Mama, ayah, juga dokter membujukku. Aku tetap menangis, tidak mau membuka mulut. Lalu akhirnya mereka menyerah dan orang tuaku meminta maaf kepada dokter. Itu pertama dan terakhir kali aku ke dokter gigi.

Kawan-kawanku menasihati untuk melupakanmu dan mencari yang lain saja. Lucu sekali mereka. Menyuruhku untuk melupakanmu sama saja dengan mendoakanku hilang ingatan. Mana mungkin aku bisa melupakanmu, sedangkan sudah banyak waktu dan tempat yang kita habiskan bersama. Tidak akan bisa seseorang melupakan orang lain bersama hal-hal yang terikat emosi dengannya di masa silam, kecuali dia seorang pelupa.

Sebulan. Dua bulan. Empat bulan dua belas hari. Perasaan sepi masih betah bersarang di hatiku. Perasaan itu menjadi semakin kuat ketika malam semakin dingin dan berisik oleh suara hujan. Ingatan bersamamu dan hal-hal yang berkaitan dengan dirimu merasuk ke dalam pikiranku. Aku bisa apa, hanya menikmatinya.

“Hari ini aku akan menemuinya,” kataku kepadanya setelah dia selesai menuliskan surat ini.

“Lalu bagaimana dengan mereka yang selama ini peduli kepadamu? Keluarga. Teman-teman,” tanyanya.

“Aku sudah mempertimbangkannya. Lagipula sore ini akan ada satu keluarga yang bahagia dengan kedatangan anggota baru mereka.”

“Kenapa selalu begitu? Aku sudah pernah melihat seperti yang kamu bilang ini,” dia menutup laptopnya setelah layarnya benar-benar mati.

“Entahlah.” Aku bangkit dari tempat dudukku, “Baiklah, ini sudah waktunya aku pergi. Terima kasih sudah membantuku.”

“Mudah-mudahan kamu bahagia di sana.”

Benar, Sayangku. Hari ini aku pergi menemuimu. Aku sudah mempertimbangkan konsekuensinya. Aku tahu bila aku pergi menemuimu, aku tidak akan pernah bisa kembali lagi. Bukan masalah bagiku. Tapi kali ini aku sudah tidak bisa menahannya. Aku ingin sekali melihatmu, bertemu denganmu.

Sudah diputuskan. Di 23 April ini aku tinggal tepat di sebelah kanan lubang tanammu itu. Aku lega, akhirnya sekarang bisa berada di sampingmu lagi. Jadi, bagaimana kabarmu?

2 komentar:

  1. ah, teruntuk mantan kekasih kah ini?
    saya trauma kalau udah bicara sesuatu yang berbau mantan..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma fiksi, sob.
      Ada hal yg menyakitkan kah sehingga trauma, sob?

      Hapus

Komentar-komentar