Pages

Jumat, 25 Maret 2016

Pada Suatu Hari #3

Pada suatu hari. Hari yang biasa. Kota mulai memperlihatkan kehidupannya lagi sejak subuh. "Subuh! Subuh!" Kata pengeras suara dari musala. Ayam jantan berkokok panjang. Pengantin baru menyelesaikan do'anya setelah masing-masing mendirikan salat malam. Si istri pergi ke dapur menjerang air. Si suami keluar rumah menuju musala setelah mengatakan “Assalamualaikum” kepada istrinya. Di jalanan, ia bertemu dengan tetangga, sama-sama menuju musala, kemudian saling senyum dan bersalaman tepat ketika azan dikumandangkan.

Dari arah berlawanan sepasang suami istri berboncengan naik motor menuju pasar untuk berjualan ikan kering. Bulan terang sekali, tapi tidak membuat mata silau.

Matahari mulai menampakkan diri. Orang-orang mematikan lampu di depan rumah. Suara-suara burung pipit bersahutan di atas pohon jambu. Jalanan perlahan-lahan ramai oleh kendaraan dan manusia. Memulai kembali aktifitas yang sama dengan hari semalam. Pergi ke tempat sekolah, tempat kerja, dengan terburu-buru. Atau lari pagi kemudian mampir di warung nasi kuning langganan di atas trotoar. Mencuri-curi pandang kepada penjualnya yang manis. Atau masih asyik dengan mimpi yang menyenangkan.

Pagi yang beraneka macam dan sejuk. Hingga sampai kepada siang yang menjadi panas. Sebagian orang bilang, "Aduh, panas sekali." Karena memang, manusia diciptakan bersifat keluh kesah. Itu yang diinformasikan di dalam Al qur'an Surah Al Ma'arij ayat 19.

Ketika sore, hujan turun.


Hujan turun, kecil-kecil, tapi deras.

Aku pulang ke rumah tanpa perlindungan jas hujan maupun jaket. Kemudian singgah ketika melihat gerobak pentol di sebelah kiri. Kuhabiskan uang lima ribu rupiah untuk memuaskan nafsu. Di seberang, di depan minimarket waralaba, ada gerobak bertulisan Kebab Kings. Aku ke sana, memarkir motor, memerhatikan menu di depan gerobak, lalu kudekati si penjual.

"Beli kebab sosis satu."

"Saosnya apa?"

"Apa?"

"Saosnya apa?"

"Pedas."

"Boleh kan aku numpang makan di sini? Hujannya masih deras."

"Silakan."


"Berapa harga sewanya jualan di muka sini?"

Itu adalah kalimat pertama yang aku keluarkan setelah menggigit kebab hingga akhirnya ia membeberkan beberapa rahasianya kepadaku. Ia mengaku bahwa itu adalah urusan bosnya, ia hanya menjualkan saja.

Umurnya 26 tahun, hanya lulusan SMP. Kawan-kawannya di kampung pernah meremehkan, "Kau akan sulit mencari kerja." Tapi sekarang ia sedang bekerja. Kawan-kawannya yang pernah meremehkan masih minta uang sama orang tua. Uangnya buat mabuk. Padahal lulusan SMA dan sarjana.

Ia dulu juga senang mabuk sampai ketika ia melihat gerobak pentol yang laris. Kalau begini terus, tidak ada masa depan, pikirnya. "Alhamdulillah sekarang sudah dapat istri yang baik."

Sebelum aku pulang, ia sempat bilang, "Kenapa kerja enggak mau kaya ya?"

"Mungkin belum."


Suara muazin bersahutan mengumandangkan azan dari pengeras suara masjid, musala dan langgar. Sebagian orang berjalan dengan baju rapi, sarung dan kopiah mendatangi suara azan untuk mendirikan salat maghrib. Tangan kanan menutupi kepala dari serbuan hujan dengan payung. Ada yang berwarna merah polos, ada juga bermotif bunga, ada juga pelangi, dan ada yang lain lagi bertulisan Segar Sari berwarna biru tua. Sebagian lagi ada yang baru sampai rumah dengan tubuh menggigil karena ketinggalan jas hujan. Sebagian lagi asyik berbalas pesan dengan pujaan hati sambil tiduran di atas kasur yang kapuknya sudah keras.

Jadi, ada berapa rintik hujan yang sampai ke bumi hari ini?

2 komentar:

Komentar-komentar