Pages

Selasa, 20 September 2011

Resensi Buku - 5 Cm

Judul: 5 Cm
Penulis: Donny Dhirgantoro
Terbit: November 2007

Resensi 5 Cm

Dan tangisku pun pecah ketika membaca surat Daniek kepada temannya yang hilang di Mahameru. Namanya Adrian A. Sumarno.  Perlahan tetesan air kubiarkan  menjalar membasahi pipiku. Untung aku membaca novel 5 cm ini di kamar orang tuaku—aku belum punya kamar pribadi—pas orang-orang rumah sudah pada pergi, jadi aku nggak perlu malu kalau nangis gara-gara baca novel. Hehe

Tangisku berhenti seiring selesainya surat Daniek.  Jleg. Aku nagis lagi pas adegan Ian dikira sudah mati gara-gara kejatuhan batu dan pasir pas lagi menaiki puncak Mahameru.

Ya, aku benar-benar nangis—bukan gara-gara sambil motong bawang merah.

5 cm. Benar-benar  mengaduk-aduk emosiku. Hampir di setiap halaman selalu berhasil membuatku merinding oleh kata-kata yang keluar dari percakapan antar tokoh karakter novel, juga quote-quotenya. Novel ini layak dibaca. Bukan. Tapi, harus dibaca. Banyak manfaat dan pengetahuan yang diberikan oleh sang penulis melalui 5 cm ini. Tentang impian, cinta, kehidupan, cinta tanah air, dan masih banyak lagi.

Karakter tokoh dibuat dengan sangat kuat. Membuatku berkhayal ingin bergabung dalam kegilaan 5 sahabat yang ada di 5 cm.

Awalnya kukira judul 5 cm menggambarkan tentang persahabatan 5 anak manusia. Tebakanku salah. Judul 5 cm adalah tentang impian. Biar kukutip sedikit adegan pada bab kesembilan (5 cm).
    Muka Ian tampak menyala, matanya mengkilat diterangi cahaya api unggun. “Betul! begitu juga dengan mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar taruh di sini.” Ian membawa jari telunjuknya menggantung mengambang di depan keningnya…
    “Kamu taruh di sini… jangan menempel di kening.
    Biarkan…
    dia…
    menggantung…
    mengambang…
    5 centimeter…
    di depan kening kamu….”
    “Jadi dia nggak akan pernah lepas dari mata kamu. Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari, kamu lihat setiap hari, dan percaya bahwa kamu bisa. Apa pun hambatannya, bilang sama diri kamu sendiri, kalo kamu percaya sama keinginan itu dan kamu nggak bisa menyerah. Bahwa kamu akan berdiri lagi setiap kamu jatuh, bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat, apa pun itu, segala keinginan, mimpi, cita-cita, keyakinan diri….”

Bagi yang belum mebaca, kusarankan segera membaca. Kujamin, insya Allah, siapa yang sudah membaca novel ini akan menjadi manusia yang baru. Manusia yang lebih semangat menjalani hidup serta yakin dan percaya dengan semua mimpi-mimpi walau pun nggak ada fakta yang membuktikan bahwa mimpi-mimpi itu akan nyata. Tapi tetap yakin dan percaya.

Oh iya, aku ingin mengutip lagi. Kalau lagi down aku selalu ingat kalimat-kalimat ini, yang membuatku bangkit lagi.
    “…Biarkan keyakinan kamu, 5 centimeter menggantung mengambang di depan kening kamu. Dan… sehabis itu yang kamu perlu… cuma….”
    “Cuma kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas.”
    “Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja….”
    “Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya….”
    “Serta mulut yang akan selalu berdoa….”
       
Dengan kesemua itu, tak heran kalau novel ini mendapat predikat ‘Buku Indonesia Sepanjang Masa’ oleh Goodreads Indonesia. Juga, novel yang sedang kupegang ini adalah cetakan yang kedelapan belas. Wow.

Maulana Usaid
19 September 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar