Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 23 September 2014

Oh Vita

Oh Vita, kenapa kamu menyebalkan?
Menggangguku terus
Meneleponku untuk hal-hal yang merepotkan

Oh Vita, kenapa kamu marah?
Aku kan lagi jauh dari telepon
Apa kamu yang sedang terkena Pre Menstruasi Syndrome?

Oh Vita, terserah, bila kamu ingin marah
Karena hanya suaramu yang aku dengar
Sedangkan aku di sini mengiyakan,
sambil tertawa tanpa suara

Oh Vita, Vita Mulyana,
Suaramu bagus
Coba kemari, temani aku
Di sini sunyi


Maulana Usaid
23 September 2014

Jumat, 14 Februari 2014

Kawan


Untuk kawan-kawanku:

Apa kabarmu, Kawan? Janganlah ketika kita bertemu dan kusapa kamu, yang kamu jawab: “oh, hai.” Kemudian kamu asyik dengan handphonemu lagi. Bagaimanakah rasanya itu?

Apa kabarmu, Kawan? Mudah-mudahan tetap sama. Asyik dan menyenangkan. Kita bisa membicarakan apa saja seperti waktu tidak pernah ada.


Maulana Usaid
Januari 2014

Selasa, 23 April 2013

Kepada Siapa?

Foto: Ilya.b (Flickr.com)

Ketika perhatian berbalas pengabaian.
Ketika percaya dijawab khianat.
Ketika dusta sulit diraba.
Ketika jujur sukar dirasa.
Lalu, kepada siapa lagi aku akan percaya?


Maulana Usaid
23 April 2013

Senin, 15 April 2013

Mencari Tuhan

Gambar: Pidi Baiq


Kepada berhala-berhala yang aku pahat dengan susah. Kukira engkau Tuhan. Nampak kuat lagi kokoh. Tetapi, kuhantam palu engkau roboh. Mana kuasa kau? Ah, engkau bukan Tuhan.

Kepada bintang yang ada pada langit malam. Kukira engkau Tuhan. Berkelap kelip indah nian. Tetapi, sekarang engkau jarang terlihat bilamana kudongakkan kepala ke langit malam. Ke mana engkau? Ah, engkau bukan Tuhan.

Kepada bulan yang ada pada langit malam. Kukira engkau Tuhan. Yang memesona dengan bulat terang sempurna ketika bumi nyaris di antara kau dan matahari. Tetapi, menjadi mati ketika engkau nyaris di antara matahari dan bumi. Kenapa mati? Ah, engkau bukan Tuhan.

Kepada matahari yang ada pada langit siang. Kukira engkau Tuhan. Yang menyilaukan mata bilamana kudongakkan kepala ke langit siang. Engkau yang paling besar. Tetapi ketika senja, meski indah, engkau beranjak hilang lenyap. Mengapa lenyap? Ah, engkau bukan Tuhan.

Kepada Yang Menguasai segala keindahan alam. Yang membuat bintang berkelap kelip menawan. Yang meciptakan purnama raya terang benderang. Yang melukis sinar matahari menyilau mata. Yang hanya satu. Tidak beranak. Tidak pula diperanakkan. Yang mengirimku ke bumi dari setitik mani melalui orang tuaku. Yang hanya kau pantas disembah. Engkau pasti Tuhan. Allah.

[]

Tahu kan kisah Ibrahim? Yang orang barat sana menyebutnya Abraham. Apa? Tidak tahu? Baiklah. Biar aku menukil terjemahannya dari Al Qur’an. Dari surah Al An’am ayat ke-74 sampai 79. Ini terjemahan bahasa Indonesia, bukan Jerman. Karena bahasa Jerman aku tidak pandai. Mulakan dengan bismillah.

74. Dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Aazar*), "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata."

75. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (Kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin.

76. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: "Inilah Tuhanku", tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."

77. Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku." Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat."

78. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar." Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

79. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.


*) Di antara mufassirin ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan Abiihi (bapaknya) ialah pamannya.


Maulana Usaid
13 April 2013

Minggu, 14 April 2013

Siapa Ternyata


Siapa mau-maunya memberi tumpangan di dalam perut selama, mungkin, sembilan bulan.
Siapa mau-maunya menyusui selama, barangkali, dua tahun.
Siapa mau-maunya berkelahi dengan nyamuk ketika aku tidur.
Siapa mau-maunya mengotori tangan untuk menceboki.
Siapa mau-maunya menangis sedih sewaktu aku dikira akan mati.
Siapa mau-maunya mencuci pakaian kotor yang aku tumpuk di baskom karena sedang malas.
Siapa mau-maunya mencuci piring, gelas, wajan, dan sendok bekas makan yang kutaruh di dapur karena sedang malas.
Siapa mau-maunya menghabiskan pulsa untuk menelepon dengan khawatir ketika aku sedang berkawan dan belum pulang hampir tengah malam.
Siapa mau-maunya mengusapi punggung dengan minyak kayu putih atau apa saja yang hangat sewaktu aku demam.
Siapa mau-maunya membangunkan untuk shalat subuh.
Siapa mau-maunya, kukira, mendoakan setelah selesai shalat.
Siapa mau-maunya menyuapi makan ketika aku malas menyuap sendiri padahal aku sudah besar.
Siapa mau-maunya mengajari berbuat baik.
Siapa mau-maunya memberiku uang.
Siapa ya?

Oh. Pantaslah. Kukira siapa. Ternyata kamu mama. Yang dikirim ke dunia di tanggal yang sama dengan hari ini. Untuk membawaku ke surga yang ada di kakimu.


Maulana Usaid
14 April 2013

Sabtu, 29 Desember 2012

Maka Aku Akan Pulang

Foto: cinemashock.org

Aku amati hujan yang berjatuhan sambil berdiri di bawahnya. Berapa jumlah rintikkah yang sampai ke bumi? Dan berapa yang mengenai wajahku sehingga membuat samar air mataku?

Kemudian aku ambil sepeda yang sudah lama kusimpan di gudang. Kukayuh laju. Di bawah hujan. Mengingatkanku pada tiga belas tahun silam. Masa kanak-kanakku. Seharian mengayuh sepeda dan takut pulang. Aku kira akan dapat marah. Karena membawa luka di lutut. Tapi setidaknya aku bahagia bisa mengayuh sepeda.

Kubiarkan gigiku yang bergemelutuk menggigil. Aku terus mengayuh pedal. Sambil menebar senyum kepada orang yang kutemui. Orang-orang melihatku bahagia. Namun hatiku kosong. Padahal Dia lebih dekat dari urat nadi. Tapi kujauhi. Barangkali yang menjadi sebab. Hingga kudapati luka di lutut lagi. Seperti masa kanak-kanakku. Maka aku akan pulang.


Maulana Usaid
25 Desember 2012

Senin, 17 Desember 2012

Kamu. Diam-diam

Kamu. Diam-diam

Kamu. Diam-diam mendoakan orang yang kauanggap-harap jodoh. Dengan tidak tahu dia juga berdoa. Untuk kamu. Dan diam-diam. Atau barangkali. Doanya untuk orang yang dianggap-harap jodoh. Adalah bukan kamu.

Kamu. Dengan tidak tahu. Diam-diam mendoakanmu yang dianggap-harap jodoh. Yang kamu tidak tahu dia siapa. Belum pernah bertatap. Bahkan mendengar namanya. Tapi dia tahu kamu.

Kamu. Diam-diam mendoakan orang yang kauanggap-harap jodoh. Dia juga. Diam-diam mendoakan orang yang dianggap-harap jodoh. Kamu tidak tahu dia. Dia juga. Tidak tahu kamu. Kemudian kamu bertemu dengan dia. Di mana saja. Di masjid. Tepatnya di pelataran masjid atau parkir sandal. Atau barangkali di toko buku. Kamu berkata lantang. Dengan waktu yang nyaris sama. Dia berkata sama. Lantang. Kamu jodohku kan?

Kamu. Diam-diam mendoakan orang yang kauanggap-harap jodoh. Barangkali aku.


Maulana usaid
10 Desember 2012

Kamis, 27 September 2012

Beberapa Sajak Pendek Tentang Malam

Sumber Foto: epSos.de

Aku suka malam—cinta tepatnya. Juga, apa-apa yang ada di dalamnya. Bulan, misalnya. Ah, ini karena peristiwa Okultasi Jupiter Agustus lalu. Sejak saat itu aku sering memperhatikan bulan. Setiap melihat bulan aku menganalogikannya. Kalau bulan sedang sabit, aku membayangkan bulan tersenyum. Kalau bulan setengah, aku melihatnya sebagai mangkuk cekung.

Aku pernah menuliskan beberapa sajak pendek tentang malam di tumblrku. Inilah sajak-sajak pendek itu.


1.

Duhai, malam/Sudikah membagikan senyummu/Meski aku siang?


2.

Senja/Tolong izinkan aku menempati jinggamu/Agar aku bisa mendekati malam.


3.

Bisakah aku bertemu malam/Meski aku siang?/Mungkin dengan memimpikannya.


4.

Lirih kupanggili namamu/Malam begitu sepi/Siang riuh sekali.


5.

Aku mengendap/Mengintipi malam dari balik tirai/Senyumannya/Ah, aku tertangkap basah.


6.

Sudah 00.00/Masihkah malam?/Selamat malam.


7.

Aku tidak perlu beretorika dengan kata-kata sulit, Malam/Karena mengingatimu sudah puisi bagiku.


8.

Bulan agak pemalu/Mengintipi malam dari balik awan mendung.


9.

Disibak sudah awan mendung/Bulan temaram/Tetap saja malu pada malam.


10.

Sudah tidak pemalu/Benderang bulan bercahaya/”Ini subuh,” lirih malam.


11.

Lelah seharian/Siang meletakkan penat di pangkuan malam.


12.

Aku penasaran/Apa yang dilakukan malam ketika siang tiba/Tidur mungkin.


13.

Siang dan malam berlainan waktu/Lantas dengan apa siang menemui malam?/Meminjam sore kah?


Seandainya punya teleskop, aku akan bisa lebih menikmati keindahan malam.


Maulana Usaid
27 September 2012

Senin, 29 Agustus 2011

Biarkan Aku Bermonolog

Sajak ini aku tulis atas saran temanku. Dia calon psikolog.

Salahkah aku?
Aku ingin melihat bintang
Ketika siang terik
Ada matahari menyengat
Heh!? Apa aku salah?
Kata temanku tidak
Heh!? Bodoh ya?
Kata temanku tidak
Biarkan aku bermolonog
Tak ada yang melarang
Apa kamu?
Kamu?
Ataukah kamu?
Persetan
Kuubah sedikit milik Chairil Anwar
Aku mau tidur seribu tahun lagi
Menanti kedatangan Sirius

Maulana Usaid
29/08/2011

Selasa, 19 Oktober 2010

Merindu Bintang

Untuk: YW

Saat siang berganti malam. Dan bulan berselimut awan hitam. Hanya akan melahirkan sebuah kegelapan. Begitu pekat menghitamkan hati yang kelam. Mungkin aku orang yang beruntung. Kegelapan takkan bisa menguasaiku. Ada titik cahaya terang di hatiku. Ya.. bintang kecil itu. Yang setia bertengger di hati ini saat malam menyapa dan membagikan sinarnya. Berbagi kisah, keluh dan kesah. Hanya kami berdua yang tahu. Tapi kini ketakutan yang mendera. Semuanya terasa gelap dan pekat. Bintang kecil itu pergi tuk sementara. Ya.. Cuma sementara. Dan ku hanya bisa katakan: AKU MERINDUMU

Di kegelapan,
Banjarmasin,
08.04
16-10-2010

Senin, 11 Oktober 2010

Curhat dengan Tuhan

Baru kali ini ku beranikan diri
Ku paksakan diri tuk bangkit
Meninggalkan bantal dan guling
Tak seperti malam-malam yang lalu
Malam ini tak begitu dingin
Padahal beberapa jam sebelumnya air rahmat turun
Lalu duduklah aku sendiri
Di keheningan malam
Hanya ada suara jangkrik, jam, dan motor yang sesekali lewat rumahku
Aku tak perlu malu
Karna hanya ada aku dan Tuhan
Ku tumpahkan semua unek-unekku ke Tuhan
Aku menangis sejadi-jadinya
Mata dan hidungku berair
Pipiku telah basah
Aku yakin aku curhat dengan Pendengar Yang Baik
Dia pasti mengerti apa yang ku rasakan
Walau ku tak dapa melihatnya
Tapi ku yakin Dia pasti melihatku
Curhatku kan dijawab-Nya
Tak tahu kapan
Tapi pasti dijawab
Semoga Tuhan segera menjawab curhatku
Aamiin

03.29
Di heningnya malam,
Banjarmasin,
10-10-2010

Matamu

Untuk: YW

Bersyukurlah
Tuhan telah menciptakan mata indah untukmu
Teduh juga tenang
Memandangnya membuat hatiku sejuk
Kini mata itu bisa membuat mataku berembun
Karna ku hanya bisa melihatnya lewat foto

Di Banjarmasin,

20.25
09-10-2010

Sabtu, 09 Oktober 2010

Maaf

Untuk: YW

Aku tahu kamu marah
Kamu kecewa
Memang aku ini bodoh
Orang bodoh mana mungkin bisa membuat bahagia
Orang bodoh hanya bisa membuat kecewa
Orang bodoh tak pantas dimaafkan
Tak peduli seberapa besar kekecewaan yang ditimbulkan
Aku tahu ini sia-sia
Tapi aku mau bilang
Maaf atas kebodohanku

Di bawah hujan,
Banjarmasin,
01.33
09-10-2010

Jumat, 08 Oktober 2010

Pertentangan

Kurasakan gejolak yang begitu dalam
Ada pertentangan di dalam hati ini
Di satu sisi ingin ku ubah kehidupan monotone
Penuh dengan keputus asaan dan kegagalan
Di sisi lain raga ini menolaknya
Seakan tak mau bangkit
Dan saatnya nanti ini segera berakhir

Banjarmasin,

08-10-2010