Tampilkan postingan dengan label Cerita Salman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Salman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Oktober 2026

Abata Itala

Ey teman, lihat! Jurus seribu bayangan! 

Salman langsung memperagakan jurus yang baru saya ajarkan saat perjalanan menuju sekolah begitu dia membuka pintu lalu masuk ke kelas Kelompok Bermain. Entah siapa temannya itu, laki-laki atau perempuan, saya tidak melihatnya. Terhalang oleh dinding kelas. Saya tersenyum lalu menutup pintu kelas. 


Selain itu, saya juga mengajarinya jurus rasengan. Jurus Naruto berupa bola chakra berputar yang berwarna biru menyala-menyala berkilatan. 


Nanti bikinkan lingkaran di sini, katanya dengan menunjuk telapak tangan kanannya. 


"Iya, nanti di rumah Babah bikinkan lingkarannya." Janji saya sebagai sesama lelaki. 


Sejak saya mengajarinya membaca iqro dengan bacaan lirik lagu Blue Bird (Ikimono Gakari), yang merupakan Original Soundtrack anime Naruto Shippuden, dia jadi mengenal Naruto. Anime tontonan saya saat kecil. Meski saya tidak menontonnya sampai tamat, Naruto salah satu anime favorit saya. 


Saat sarapan tadi, saya stelkan lagu-lagu opening Naruto di youtube sembari mengenalkan karakter-karakter lain di anime Naruto. Itu yang baju merah temannya, namanya Gaara. Kekuatannya adalah pasir. Nah, itu yang baju biru temannya juga, namanya Sasuke. 


Itu yang pakai jubah hitam ada gambar awan merahnya adalah musuhnya, namanya Akatsuki. Nah, yang itu Naruto waktu kecil. 


Setelah ini saya akan membelikannya Hitai-ate Konoha atau pelindung dahi khas shinobi Desa Konohagakure. Supaya dia lebih menjiwai kalau dirinya memang shinobi.

Selasa, 15 September 2026

Kucing Makan Rumput

Saya sedikit menyesal malam tadi tidak membacakan Salman buku sebelum kami tidur. Sudah pukul setengah sebelasan. Saya sudah lelah dan mengantuk. Dia juga. Untungnya dia tidak menagih dibacakan buku ketika kamar sudah berganti lampu tidur. 

Saya memang membiasakan membacakan Salman buku sebelum tidur. Bukunya cerita anak yang tipis saja, sehingga bisa tiga buku. Itu sudah jumlah minimal. Bila saya kurangi menjadi dua apalagi satu dia akan protes. Belum tiga, katanya. Kadang dia minta lebih. Bila saya sedang berbaik hati dan masih ada energi akan saya ambilkan lagi satu buku dari rak. Tapi bila saya sudah kelelahan, saya akan lawan: "Sudah tiga buku itu. Ayo bobok."


Salman melihat dari balik kaca ketika saya menjemputnya. Lalu keluar setelah membuka pintu ketika saya turun dari Beat Karbu 125. Teras rumah dipasangi Opa Salman dengan rumput sintetis, alis saya sedikit terangkat melihatnya. 


"Bah, bila kucing sakit perut nanti dia akan makan rumputnya nih. Gasan jadi obatnya," seru Salman. 


"Iya, jadi obat rumputnya." 


Saya menanggapi seadanya. Namun dalam hati saya merasa kagum. Dia ingat dengan isi buku Cerita si Kucing karya Orin. 


Sebelumnya saya juga dibuat kaget karena sewaktu membacakannya buku di malam hari dia hafal dengan nama-nama karakter di buku. Kiko si Penguin, Beno si Anjing Laut, Rama si Harimau, Ratu Naomi si Ratu Semut. Bahkan hewan yang saya plesetkan ketika membacanya pun dia juga ingat, seperti: burung hantu menjadi burung hentu dan rayap menjadi reyep. 


Malam ini akan saya sisakan tenaga untuk membacakannya buku. Yang pasti bukan Dunia Sophie. Bukunya terlalu berat baginya yang masih 4 tahun. Walau dia adalah pemberi pertanyaan yang handal. Saya saja sampai kewalahan menjawab pertanyaannya yang beruntun hingga kadang saya mengaradau.

Jumat, 04 September 2026

Selasa Bersama Salman

Melihat tahi Salman pagi ini membuat saya senang. Berbentuk lonjong panjang, warnanya seperti tanah liat, yang paling penting teksturnya padat. Ini berarti Salman sudah benar-benar sehat. 

"Salman tidak perlu minum jus lagi," serunya. 


Jus yang dia maksud adalah air bercampur Lacto B dan setetes-dua tetes stevia. Lalu empat kubus es batu. Saya menyebutnya 'Jus Manis yang Membuat Salman Ampih Beheraan'. Sebutan yang lumayan ampuh membuat dia mau meminumnya, meski dengan sedikit paksaan dan bualan. 


Akhir pekan lalu Salman diare. Lalu muntah bila tengah malam. Untungnya dia sudah bisa bilang untuk muntah ke wc. Kemudian pada hari senin saya dan mamanya mengira dia sudah sehat sehingga tetap sekolah, tapi ternyata di sekolahan dia muntah dan tepecirit lagi. 


Pagi selasa saya dan Salman sudah siap berangkat. Saya dengan seragam kerja sementara dia dengan seragam sekolah sasirangannya. Dia mendadak mules. Empat kali bolak-balik berak. Kesemuanya bertekstur encer, dominan air. Lantas saya memberitahu omanya kalau Salman di rumah saja hari itu dan juga meminta izin tidak masuk kerja ke atasan saya. 


Saya sempat membuat status whatsapp: video saya menjahit celana seragam sekolah Salman yang jahitannya rantas. Status saya ditanggapi teman saya, Kaka Ulan. Saya kasih tahu dia kalau hari itu Salman tidak bisa berteman dulu dengan Satria karena sakit. Satria adalah anaknya Kaka Ulan, sekelas dengan Salman, tapi ternyata juga sedang sakit. Semoga Satria juga sudah sehat. Amin. 


Saya sempat menanyai Kaka Ulan kalau Satria diare dikasih obat apa. Lalu dia memberi resep layaknya dokter: Zinc, Oralit, dan Lacto B. Saya jadi teringat bila Salman diare biasanya juga dikasih zinc. Karena sudah lama tidak diare jadi lupa. 


Untungnya nafsu makannya tetap terjaga. Pagi dia sarapan yang banyak. Siang makan lebih banyak. Mamanya membelikan makanan favorit di Shopee food: lele lalapan Mbak Fey. Malamnya juga makan banyak. Seharian dia tidak ada berak lagi kecuali 4 kali di pagi hari. 


Besoknya hari rabu masih ada tepecirit dan muntah di sekolahan karena tak sempat sarapan sebelum berangkat. Kemarin muntah sekali sehabis sarapan. Di sekolahan juga muntah karena kagagahan main sama teman. Hari ini dia sudah sehat dan tetap lincah. Alhamdulillah.

Selasa, 18 Agustus 2026

Alam Rahim

Sore ini sepulang kerja saya dan istri membawa Salman ke tukang urut. Badannya demam tinggi malam tadi, juga disertai batuk dan pilek. Saya sudah mengurutnya semalaman yang membuat saya sendawa berkali-kali, tapi demamnya belum kunjung pergi meski sempat turun. Mungkin tasilahu. 

Mamanya izin tidak masuk kerja dan saya izin terlambat kerja. Berniat mau mengajak Salman berurut dulu baru saya pergi ke kantor. Namun ternyata nini tukang urutnya hanya bisa sore selepas asar. 


Begitu sampai di rumah saya berganti pakaian. Kami bersiap sebentar lalu berangkat ke rumah tukang urut di dekat Pasar Pemurus. Meski sebenarnya tidak sebentar karena Salman mendadak pengin berak sebelum pergi. 


Kabut asap karhutla menyelimuti udara Banjarmasin. Istri saya menawari saya masker. Saya menolaknya. Pakai masker bila perjalanan jauh ke Banjarbaru saja, ucap saya. 


Saya menyesali keputusan tersebut. Hidung saya sebelah kiri mampet sembari menunggu Salman diurut. Saya kira saya sudah kuat, ternyata masih lemah. 


Saya jadi teringat bulan Agustus 5 tahun yang lalu, yaitu tahun 2021. Saya terserang virus corona dengan gejala tingkat rendah, yaitu anosmia. Hidung saya kehilangan kemampuannya dalam mencium bau. Begitu pun istri saya. Kami melakukan isolasi mandiri di rumah selama 2 pekan. 


Kami jadi punya banyak waktu berduaan. Kesempatan yang bagus untuk kami yang menjalani Long Distance Relationship (LDR) atau Long Distance Marriage (LDM). 


Kemudian kabar baik itu datang ketika saya sedang asyik menonton perlombaan tujuhbelasan di kompleks dari teras rumah. Istri saya menunjukkan hasil testpack bergaris 2. Perasaan saya campur aduk. Sejak hari itu, tujuhbelasan selalu mengingatkan saya dengan awal mula kehadiran Salman di alam rahim.

Kamis, 30 Juli 2026

Salman Pusing

Jangan bikin kepala Salman pusing, ujarnya kepada saya. Mendengarnya refleks membuat saya tertawa. 

Pagi hari ini berjalan normal. Saya bangunkan Salman sejak pukul setengah 6 pagi. Lampu tidur saya matikan, saya ganti dengan lampu kamar yang terang. Seperti biasa, Salman akan berkata masih mengantuk dan saya jawab akan membangunkannya lagi setelah saya mandi. Lalu dia akan mengangguk. 


Sebenarnya saya tidak hanya mandi, ada rangkaian kegiatan lainnya. Saya akan mencuci botol dotnya, mencuci kotak bekalnya, mempersiapkan isi tasnya, mempersiapkan pakaian apa yang akan dipakainya hari ini dan pakaian gantinya, menjemur cucian pakaian, serta latihan fisik ringan kalau masih sempat. Hari ini, semuanya beres saat pukul setengah 7-an. Saya bangunkan dia lagi. 


"Ayo bangun Salman. Sudah setengah 7. Nanti pagar sekolah akan ditutup ibu. Salman tidak bisa masuk. Babah gendong lah." Salman mengangguk. 


Saya menggendongnya ke dapur dengan matanya yang masih merem. Badannya sudah lumayan berat digendong, 17 kg. Ketika sampai di depan kamar mandi saya turunkan dia di atas keset, lalu melepaskan pakaiannya, matanya mulai melek. 


Saya suruh dulu dia pipis ke wc. Setelah pipis dia minta gendong untuk pindah ke kamar mandi yang ada di sebelah. Proses mandi menjadi lebih lama dari seharusnya. Karena selesai berbilas dari sabun, dia berjongkok dan bilang kalau kakinya sakit.   


"Nanti babah kasai habis mandi." Maksud saya adalah membaluri kakinya dengan minyak telon. 


"Kalau dikasai masih sakit. Harus dipijat," rengeknya. 


"Iya. Ayo berdiri. Biar babah gosok giginya."


Saat proses berpakaian dia sudah lupa dengan apa yang dikeluhkannya. Wajahnya berbinar-binar tatkala melihat baju kaus yang akan dipakai. Baju kaus tersebut bermotif pakaian Blippi, salah satu kartun favoritnya. 


Sembari menutup pintu dan gorden kamar saya suruh Salman memakai kaus kaki dan sepatu. Kaus kaki sudah dipasangnya. Sepatu masih bergeming. Alih-alih memasang sepatu, Salman malah melamun di muara pintu.  


Saya menegurnya, "Salman, ayo pasang sepatunya. Jangan melamun."


Salman menanggapi dengan bilang jangan bikin dia pusing. Hal apa sih yang membuat anak sekecil itu pusing, pikir saya. Sepagi ini apa yang sedang dia lamunkan dan pikirkan? Ketika saya tinggalkan di sekolah pun dia duduk melamun di ujung perosotan. Mengingatkan saya dengan meme "Pablo Escobar Menunggu".


Jangan-jangan dia sedang memikirkan ini: 'Oh, begini rasanya hidup di dunia. Baru aja 4 tahun.' Atau ini: 'Hidup sekali malah jadi WNI.'

Jumat, 24 Juli 2026

Salman Berdoa

Jumat lalu Salman diturunkan mamanya dari motor ketika pulang dari sekolah. Ini akibat dari informasi Salman yang bilang kalau dirinya terpipis. Salman harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 4 buah rumah untuk sampai ke rumah. Jarak yang sangat tidak jauh. 

Mamanya sampai rumah lebih dulu. Lalu menaruh barang-barang bawaan ke dalam rumah. Begitu kembali ke luar rumah mamanya sedikit panik. Harusnya Salman sudah sampai rumah, tapi dia malah lenyap. 

Ternyata Salman berjalan melewati rumah hingga berdiri sendirian di halaman musala yang berjarak 1 buah rumah dari rumah kami. 

"Salman beapa di sini? Tanya mamanya. 

"Salman lagi berdoa."

"Berdoa apa?"

"Berdoa biar Salman tidak terpipis di celana lagi." Salman mengangkat kedua tangannya sambil komat-kamit mengeluarkan bunyi-bunyi 'wess wess wesss'.

Saya baru pulang dari kegiatan kantor untuk bersih-bersih dan langsung terbahak ketika mendapati cerita soal apa yang barusan terjadi. Saya makin terbahak mendengar lanjutannya bahwa sebenarnya Salman tidak terpipis melainkan hanya berkeringat. 

Alhamdulillah, sepertinya doa Salman telah Allah kabulkan. Sepekan ini dia sudah benar-benar bisa mengontrol hasrat kebelet pipis. Tengah malam kemarin pun saya dibangunkannya. 

"Babah." Salman memanggil serta menepuk lengan kiri saya. 

"Apa, Salman?"

"Gapapa."

"Mau pipis kah?"

"Iya."

Kami berdua berjalan terhuyung menuju wc. Setelah pipis, kami melanjutkan tidur karena masih pukul setengah 2 dini hari. Masih ada waktu untuk bermimpi sebelum ke rutinitas yang gedebak gedebuk.

Kamis, 23 Juli 2026

Hari Anak

Selamat hari anak, selamat hari kamis. Ayolah, ubah hujan di pipimu itu menjadi gerimis. Biar wajahmu itu terlihat lebih manis. Di pagi ini babah tidak ingin menjadi antagonis. 

Waktu menyikat gigi Salman, saya bilang kepadanya kalau hari ini dia saya antar ke rumah Oma. Nanti pergi ke sekolah bareng Oma. Karena saya hari ini ada upacara peringatan Hari Anak Nasional. Jangan terlambat datang ke kantor. 

Salman menolak keputusan saya. Dia mau diantar babah langsung ke sekolahan seperti hari kemarin. Dia meringis sementara saya menyikati giginya. 

"Hari ini mama pulang, jadi besok bisa diantar mama langsung ke sekolah," jelas saya. 

Salman tetap meringis. Matanya mulai berair dan hidungnya memproduksi ingus. Dia bersikeras dengan pendiriannya. Bujukan saya tidak mempan. Saya mengalah. Lagipula ini tidak selamanya, akan datang masanya nanti dia sudah bisa ke mana-mana sendiri. Saat seperti ini tidak akan bisa terulang dan pasti akan saya rindukan. 

Sesuai dengan dugaan saya, sekolah masih lengang. Salman siswa pertama yang datang ke sekolah. Dia naik ke ayunan besi sambil mengudap roti pizza seribuan yang kami beli di warung sebelum ke sekolah.

"Tolong dorongkan, Babah." Minta Salman. 

"Ayunkan," sahut saya. 

Salman mengacungkan jempolnya. Enak, katanya, mengomentari roti pizza seribuan yang dimakannya sampai habis. Belakangan ini dia selalu begitu bila makan makanan yang dirasanya enak. 

Salman beranjak ke mainan jembatan bergoyang. Tidak begitu lama kemudian ibu guru piket datang. Saya mengulurkan tangan untuk dicium Salman. Saya balas mencium tangannya juga, lalu pipi kanan dan kirinya. Saya meminta dia mencium pipi saya.

Setelah berpamitan dengan ibu guru piket saya meninggalkan Salman di sekolah. Bergegas mengejar bis kantor yang akan saya tumpangi hingga Pal 11 Jalan A Yani. Untuk bergabung dalam Upacara Peringatan Hari Anak Nasional 2026.

Rabu, 22 Juli 2026

Saya Lawan!

Persoalan ini acap kali terjadi ketika menidurkan Salman. Dia ogah-ogahan. Masih ingin nonton lah. Masih ingin main lah. Masih ingin baca buku lah. 

Sudah satu setengah dot susu dia tandaskan, kalau belum terlalu mengantuk dia akan meminta dot yang ketiga. Tentu saja akan saya tolak, untuk menghindari dia mengompol saat tidur. Saya suruh dia membaca doa sebelum tidur dengan 3 kali pengucapan: 1) Bismika; 2) allahumma ahya; 3) wa bismika amut. 


Setelah baca doa alih-alih memejamkan mata, dia bergerak menindihi tubuh saya. Dia masih ingin bermain. Saya akan meladeninya bergulat. Saya gelitiki pinggangnya seraya mengeluarkan kata 'cukurukuk'. Ketika menggelitiki ketiaknya saya berkata 'kuruk-kuruk', begitu pun bila saya menggelitiki lehernya. Salman akan terbahak serta berusaha menghindari gelitikan saya sampai terlepas. Bila sudah terlepas dia kembali menindihi saya. Begitu terus berulang-ulang hingga dia ngos-ngosan. 


Saya tahu dia masih ingin bermain dengan abahnya di waktu yang sedikit ini. Saya pun juga. Saya jadi dilema. Tapi malam semakin larut. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Saya harus segera membuatnya tidur demi besoknya mudah dibangunkan. 


Bila sudah begitu saya akan berpura-pura tidur dengan mengintip sedikit supaya tahu apa yang dia lakukan. Kadang dia masih menindihi saya. Kadang juga dia melamun melihat ke plafon kamar. Kadang juga dia mengejam dengan pelipis matanya bergetar lalu melek lagi.


Malam lalu setelah minum susu dan baca doa dia bergerak membelakangi saya. Saya lega. Karena setelah dia tertidur pulas saya akan bangkit menuju dapur untuk mengeluarkan cucian pakaian dari mesin cuci ke jemuran. Kemudian melipat pakaian yang sudah menumpuk di kamar sebelah. Atau mengerjakan proyek rumahan lainnya. 


Tiba-tiba dia berkata,"Tolong garukkan belakang Salman, gatal."


Saya lantas menggaruki punggungnya hingga gatalnya hilang dan dia tertidur pulas. Tahu-tahu jam di dinding sudah pukul setengah 5 subuh. Suara mengaji dari toa musala sebelah rumah sudah terdengar. Saya tertidur lagi untuk yang kesekian kali saat menidurkan Salman. 


Pakaian kering terus menumpuk. Buku-buku yang dibeli tidak terbaca. Lantai rumah berdebu. Saya tidak bisa terus-terusan diam. Tapi sore tadi saya sudah minum es kopi leci. Malam ini saya sampaikan: Saya akan lawan!

Rabu, 13 Mei 2026

Sakit Lagi

Saya membuka aplikasi pemutar musik Spotify. Lalu saya putar single terbaru Sheila On 7 bertajuk Sederhana. Kepala saya mengangguk-angguk sembari menyimpan piring, sendok, garpu, sumpit, wadah plastik yang sudah kering dari rak tirisan ke dalam lemari. 

Saya duduk bersiap mencuci piring, gelas, sendok, wadah tupperware kotor. Saya pindahkan sendok-sendok yang bertebaran ke dalam satu gelas. Tapi belum selesai saya menempatkan sendok dalam satu gelas, terdengar langkah kaki tergesa-gesa menuju dapur. 


Saya kira Salman sudah mulai terlelap. Sebelum ke dapur, saya memastikan kamar sudah berganti lampu tidur. Salman sedang menuju tidur dengan mamanya yang menjaga di sampingnya. Kenyataannya dia sekarang sudah ada di dapur. 


Saya menghentikan kegiatan dan berpaling ke belakang. Mungkin Salman mau pipis atau mau muntah, pikir saya. Ternyata bukan keduanya, melainkan Salman mau berbaikan dengan Babah, katanya. Dia ulurkan tangan kanannya ke hadapan saya. Kami bersalaman. Salman menciun tangan saya. Saya balik mencium tangannya, lalu pipinya. 


Salman balik kanan kembali ke kamar beserta mamanya. Saya mengikuti di belakang. Suhu tubuhnya meninggi lagi, 39 derajat celcius. Saya keluar membeli Hufagripp warna kuning di toko obat seberang komplek. Begitu saya pulang, dia sudah tertidur. 


Ada-ada saja kelakuannya bila sakit. Dan bila ada mamanya saya dimusuhi dan disuruhnya keluar dari kamar. Tentu saja  selalu saya olok-olok dengan memeluk, mencium, dan menggelitikinya. 


Saya kembali ke dapur. Melanjutkan pekerjaan yang belum selesai. Duta Sheila on Seven kembali bernyanyi.

Rabu, 29 April 2026

Zoom Diare

Hidup memang tidak selalu berjalan mulus. Hari ini saya izin tidak masuk kerja. Anak saya Salman sakit demam dan diare sejak saat saya jemput dari rumah omanya kemarin. Saya harus merawat dan menjaganya. Namun hari ini juga ada zoom dan saya harus mengikutinya. 

Pada pukul 9 saya tanya Anita, teman saya yang juga harus mengikuti zoom tersebut. 

"Zoomnya sudah mulai kah?"

"Mulai. Masih sambutan."

Salman sudah selesai makan dan minum obat penurun demam. Dia kembali ke kamar. Naik ke kasur lalu bersiap tidur. Saya bilang kepadanya mau ke dapur. Dia mengangguk. 

Saya menyalakan laptop di atas meja makan. Sembari menunggu layar laptop menampilkan desktop, saya mengambil cucian pakaian dari mesin cuci dan menjemurnya. 

Begitu saya join meeting, narasumber sedang menyampaikan materi. Saya ketinggalan dan lantas mengetik pesan di kolom chat: Izin, bisa tolong ulang caranya kah? Ulun ketinggalan. 

Sepertinya narasumber membaca pesan saya. Dia mengulang penjelasannya dari awal. Namun di tengah-tengah penjelasan, laptop mati, saya tidak sempat menyambungkan charger ke stopkontak. 

Terpaksa saya hidupkan ulang laptop. Join meeting lagi tapi apa daya saya gagal. Saya kirim tangkapan layar ke Anita dengan caption: "I'm done."

"Kenapa begitu?"

"Kalah war tiket."

"Wkwkwkwk. Nanti ada rekamannya."

Zoom meeting sudah mencapai peserta maksimal. Saya tidak bisa lagi memasuki room meeting. Saya harap persangkaan Anita benar. 

Saya tinggalkan laptop untuk menyelesaikan penjemuran pakaian. Tidak lama kemudian ada panggilan dari luar rumah. Titipan saya datang. 

Karena hanya berduaan Salman saja di rumah, saya tidak bisa keluar rumah sendirian, sedangkan bila mengajaknya juga tidak mungkin. Takutnya dia cepirit di atas motor. 

Saya ingat, ada teknologi masa kini bernama @suruhgen_z. Jasa suruh sekitaran Banjarmasin di instagram. Saya chat whatsapp-nya. Minta belikan obat diare dan obat muntah buat Salman. Alhamdulillah pelayanannya cepat. 

Sampai malam ini terhitung sudah sebelas kali Salman cepirit. Dan besok adalah hari terakhir di bulan April. Alhamdulillah 'ala kulli haal. 

Jumat, 03 April 2026

Pak Haji

Sepertinya Salman menganggap saling mengenal dengan semua manusia yang ada di dunia ini. Pernah ketika kami buang sampah di 'jalan tol' ada seseorang berada di atas bak sampah. Dia mengubek-ubek sampah, mungkin mencari sesuatu yang dianggapnya masih bisa digunakan atau dijual. 

Salman memanggilnya. "Ommmm! Ommmm!"

Orang tersebut asyik dengan aktivitasnya. Tidak mengindahkan panggilan Salman. Salman bingung kenapa tidak ditanggapi. Anak sekecil itu masih belum tahu kalau di dunia ini ada orang bintang satu alias tidak ramah. 

Di hari Jumat ini kami sarapan di warung nasi kuning di Beruntung. Mulanya kami ingin sarapan di warung di Gerilya tapi tutup. Kami balik arah menuju AMD mencari-cari warung nasi kuning pengganti. Ternyata juga tutup. 

Pencarian diteruskan ke Pemurus. Seandainya Salman mau ketika saya tawari makan mi habang, kami akan ke warung mi habang Beruntung di depan Hayam Wuruk. Namun dia bersikeras ingin makan nasi kuning yang tidak kami temukan di sepanjang jalan Pemurus, akhirnya ke warung nasi kuning di Beruntung samping tempat praktik dokter gigi. 

Kami memesan 2 porsi. Lauk ayam dan lauk telur ayam. Saya menyuap nasi sendiri. Salman disuapi mamanya. 

Di tengah-tengah kami makan Bapak penjual bilang ke istrinya yang ada di belakang warung, "Pak Haji datang."

Mendengar itu seketika Salman juga berseru, "Pak Hajiii!" Dia memanggil seolah-olah sudah kenal dengan Pak Haji. Memanggilnya pun tidak hanya sekali. Saya dan mamanya berusaha menahan tawa. 

Pak Haji yang dimaksud adalah orang yang mengantar pesanan telur bebek dan daun pandan sekantong kresek. Menunggu bayaran diambilkan, Pak Haji duduk di kursi warung paling depan. Tiba-tiba muncul ide saya kepada Salman yang langsung dilaksanakannya. 

Saya bilang kepadanya dengan nada lembut, "Salman, datangi Pak Hajinya. Salaman dengan Pak Haji."

Untungnya Pak Haji seorang yang ramah.

Kamis, 02 April 2026

Air Aneh

Nasi lele lalapan krispi seporsi dia habiskan sendiri. Alhamdulillah Salman makan lahap. Malam kemarin air leding mati, saya jadi malas mencuci bekas makan meski air tampungan ada. Air itu buat mandi dan cebok besok. Menurut informasi Intan Banjar, leding mati selama 10 jam. Jaga-jaga kalau matinya melebihi estimasi. 

Selepas saya salat isya, kami menutup panggilan video dengan mama Salman yang ada di Rantau. Lalu tancap gas menuju warung bebek sinjay langganan dekat rumah. 


Saya memesan lele goreng pakai krispi seporsi, segelas air es untuk saya, dan segelas es setrup untuk Salman. Sembari menunggu pesanan datang, Salman terus memperhatikan meja lesehan di belakang kami. Meja di mana ada sekeluarga makan. 


Tentu saja yang diperhatikan Salman bukan orang-orangnya, melainkan layar ponsel yang menayangkan tontonan youtube. Saya tegur, tapi dia tetap duduk menghadap belakang. 


"Salman mau nonton," pintanya. 


"Salman masih istirahat nonton," tolak saya. 


"Lamanyaaa."


Dia minta berulang kali sampai saya hampir menyerah. Saya buka youtube lalu mengetik 'kak nisa kinderflix' tanpa sepengetahuannya. Kemudian pesanan datang, saya urung membuka video kak nisa dan segera menyuapi Salman. 


Air es saya rasanya aneh. Lantas saya meminta untuk ditambahkan setrup. Begitu sudah jadi es setrup, rasa anehnya masih ada. Salman pun bilang kalau es setrup dia rasanya pahit. Saya coba es setrup dia, dan benar, rasanya pun aneh. Saya menyesal sudah pesan minum 2 gelas. Mau diminum tapi rasanya aneh. Tak diminum tapi haus.


Salman hampir meludeskan lele beserta nasinya. Saya memesan seporsi lagi untuk makan di tempat. Namun saya mendadak mules begitu Salman selesai makan. Saya jadi punya alasan logis untuk kabur dari air aneh dengan bilang ke ibu penjual: Bungkus aja, ulun sakit perut. 

Sabtu, 28 Maret 2026

Hukuman di Empat Tahun

Hari ini Salman berusia 4 tahun. Seperti biasa, tidak ada perayaan khusus. Kami berkeyakinan tidak ada perayaan ulang tahun. Bahkan di usia yang baru ini dia masih menjalani hukuman. 

Salman kami larang menonton. Menonton youtube, baik yang offline maupun yang online. Karena pada acara kumpul keluarga saat momen lebaran dia malah mau nonton. Ketika kelamaan nonton dan disetop, dia tantrum hebat. 


Kalau tidak salah ini hari ketujuh Salman menjalani hukuman. Awalnya dia marah. Lalu kami ganti kata 'hukuman' menjadi 'istirahat nonton'. Dia lebih menerima dengan kata tersebut. 


Ada sesekali Salman minta nonton, tapi kami ingatkan kalau sedang istirahat nonton. Dia menurut lalu kembali bermain. Bermain dengan mainan nyata: mobil-mobilan, lego, dan mainan lainnya. 


Malam tadi kami makan di Recheese Factory Pal 5. Karena malam sebelumnya sepulang dari rumah Kai Nini kami melewatinya dan Salman refleks pengin ke situ. 


"Mau makan ke situ. Ke Krispi," pinta Salman sambil menunjuk dan menoleh ke Recheese. 


"Nanti saja, sudah kemalaman." Saya dan Emma bergantian menjelaskan. Nyatanya, Recheese buka 24 jam. 


Saat makan, Salman terdistraksi. Dia berulang kali menoleh ke meja di depan samping kanannya. Di meja tersebut duduk satu keluarga: ayah, mama, satu kakak perempuan mungkin 5 tahun, dan satu adik laki-laki mungkin 2 tahun. 


"Salman jangan lihat-lihat orang. Fokus makan," larang saya. 


"Dia nonton. Tidak boleh nonton. Dia harus dihukum tidak boleh nonton 1 bulan," kata salman sambil menguyah makanan dan tangan kanannya memainkan Jeep Polisi 


Ujung bibir kami tertarik ke atas. Dia ingat dengan omongan mamanya kalau dihukum tidak boleh nonton selama satu minggu, selama satu bulan. 


"Biar saja dia nonton. Yang dihukum itu Salman," kata saya. 


Berkali-kali dia terdistraksi, berkali-kali juga dia kami tegur. Tapi masih dalam tahap aman hingga kami pulang, hingga hari ini Salman berusia 4 tahun.

Jumat, 20 Februari 2026

Tarawih Ketiga

Pada malam ketiga ramadan saya mengajak Salman ke masjid. Bermodal nekat dan keinginan kuat untuk salat berjamaah di masjid, saya ajak dia, "Salman, mau ikut Babah ke masjid kah?"

Awalnya dia menggeleng dengan pandangan tetap ke tontonan yang terpasang di dinding kamar. Saya ajak lagi sambil menjelaskan kalau ikut ke masjid Salman harus pintar. Tidak boleh menggangu. Tidak boleh teriak-teriak. Tidak boleh jalan ke sama kemari. 


"Iya. Salman hanya gambar-gambar," jawabnya beranjak bangkit. 


Saya suruh dia mematikan tontonannya. Saya pakaikan dia kopiah rajut. Sekitar waktu 4 atau 5 menitan menjelang azan isya kami berangkat.


Di lampu merah Salman mengeluh bau asap rokok. Saya tahu datangnya asap dari pengendara di sebelah kanan kami. Saya tidak ingin berurusan dengan orang lain, jadi saya menggas motor maju semeter. Begitu lampu berubah hijau, Salman menunjuk sumber asap, "Asapnya dari oom baju biru itu." Oom baju biru tetap menggas motornya. Saya mengiyakan Salman dan tersenyum. Entah tidak mendengar atau sengaja cuek. Di depan kami, ada lagi yang berkendara sambil mengisap rokok. Hmmmpph. 


Alhamdulillah, semenit setelah kami sampai di masjid Al Amin iqamah berkumandang. Saya mengambil posisi saf paling kiri dan menyuruh Salman duduk di samping kiri saya. Saya buka aplikasi Keep di hp lalu menyerahkannya kepada Salman. Saya ingatkan lagi di soal Standar Operasional Prosedur (SOP) kalau ikut ke masjid. Tidak lupa juga, bila dia menurut akan saya kasih hadiah jajan. Setelah itu saya mengangkat takbir mengikuti imam. 


Salman hendak eek, kata Salman. Untungnya keinginannya itu ketika sudah selesai salat witir. Saya bilang, eeknya di rumah Kai. Karena lebih dekat untuk pulang ke rumah Kai dulu. 


Sepulang dari rumah Kai kami singgah ke Indomaret membeli susu UHT buat hadiah Salman lalu bergerak menuju rumah. 


Alhamdulillah Salman bersikap kooperatif ketika di masjid. Meski tipis-tipis melanggar SOP, tapi saya bisa memakluminya. 

Senin, 02 Februari 2026

Salman Bertumbuh

Tahun ajaran depan Salman akan masuk Kelompok Bermain (KB). Usianya waktu itu sudah 4 tahun. Sepertinya di usia tersebut dia sudah paham kalau setiap hari harus memakai seragam. Tidak seperti hari-harinya di Tempat Penitipan Anak (TPA). Bebas pakai baju apa saja. 

Ketika keranjingan dengan kartun polisi anjing di youtube, dia minta dibelikan baju polisi. Mamanya lantas membelikan selembar dua lembar baju bergambar mobil polisi. Setiap hari dia hanya ingin memakai baju polisi. Kerepotan terjadi ketika bajunya dicuci. Dia bersikeras memakai baju polisi. Perlu tenaga dan kesabaran membujuknya agar mau memakai baju yang lain. Akhirnya mamanya menambah stok baju polisi lagi, setengah lusin. 


Sekarang dia lagi senang-senangnya dengan Boboiboy. Tempo hari dia minta dibelikan jam tangan Boboiboy. Saya belikan dia jam tangan Boboiboy proyektor, yang bila tombolnya ditekan maka akan keluar cahaya visual karakter-karakter Boboiboy. Karena jam tangan yang persis seperti di filmnya harganya lumayan mahal.  Untungnya dia senang saja dengan jam tangan tersebut. 


Setelah jam tangan, Salman minta dibelikan baju Boboiboy. Saya belikan satu stel baju Boboiboy Air beserta topinya. Rasanya menghangatkan hati melihat reaksinya ketika pertama kali memakai baju tersebut. Selanjutnya dia minta dibelikan kartu Boboiboy tapi tidak saya belikan. 


Dia sudah tidak pakai popok lagi. Kadang dia terpipis sedikit di celana. Tapi sangat jarang. Bila sudah terjadi saya katakan kepadanya kalau pipis di celana itu bayi. 


"Salman mau jadi bayi lagi? Bayi tidak bisa lari-lari. Hanya digendong," tanya saya. 


"Salman anak kecil. Salman sudah besar. Salman bertumbuh," jawabnya. 


Kalimat terakhir membuat saya tertawa. 


Pernah suatu ketika pulang dari rumah oma Salman menguap. 


"Tutup mulutnya. Baca ta'awudz." Saya mengingatkannya. 


Lantas dia menutup mulutnya lalu membaca ta'awudz. 


"Aaaaa panas panas. Setannya kepanasan bila Salman baca doa ta'awudz," jelas saya. 


"Enggak ada kipas angin?" tanyanya. 


"Hahaha!"

Kamis, 08 Januari 2026

Pertanyaan Kejutan

"Babah, nanti kita ke Eropa?" Tanya Salman di atas Beat Karbu dalam perjalanan menuju rumah penjahit kemarin. Refleks saya mengangkat alis dan membuka lebar mata. 

Secepat itu dia tahu Eropa. Usianya masih 3 menjelang 4 tahun. Seingat saya, saya baru mengenal Eropa waktu kelas 4 SD. Kalau tidak salah saat jam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau saat membaca buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL). 


"Iya nanti ya," jawab saya. 


"Iya."


Saya diserang rasa penasaran. Kemudian menanyanyinya. 


"Dari mana Salman tahu eropa?"


Salman diam tak menjawab. 


"Salman tahu eropa dari tontonan Salman ya? cecar saya. 


"Iya, dari tontonan MarBel di hp Salman," ungkap Salman akhirnya. 


"Oh..."


"Jar mama, Eropa itu jauhhh." Lanjutnya. 


"Mudah-mudahan nanti kita ada rezekinya ke Eropa. Doakan ya."


"Iya."


Salman kerap mengasih pertanyaan kejutan kepada saya ketika di atas motor. Saya teringat ketika dia pernah menanyakan apa itu kuota sepulang main dari rumah sepupunya, Khalid. Saya jawab saja sekenanya bahwa kuota adalah jatah. Karena sebelumnya tidak pernah mencarinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia. 


Belakangan saya ketahui maksud Salman sebenarnya bukan kuota melainkan quwwata. Quwwata yang dimaksudnya adalah yang ada di dalam Doa Saat Keluar Rumah. Astaga, mana saya tidak tahu arti quwwata. Dasar, saya!

Sabtu, 03 Januari 2026

Beli Gorengan

Kenapa Babah? Tanya Salman. 

Saya menyetop Beat Karbu lalu memantau ke arah depan dan belakang. Saya beritahu dia bahwa kami akan putar balik membeli gorengan. Kami pulang dari rumah Kai Nini. 

Di kaca gerobak tertulis angka 1.500. Dengan begitu pelanggan harusnya paham itu adalah harga satu gorengan. 

Saya harus beli gorengan dengan jumlah genap biar harga yang saya bayar juga genap. Jadi ketika ditanya acil penjualnya beli apa, saya menjawab: tahu isi 5, tempe 3, onde-onde 4, bakwan 2.

Jadi berapa, tanya saya. Maksudnya menanyakan harga yang harus saya bayar. 

Dua satu, jawabnya. Saya paham. Maksudnya adalah 21.000. Saya kasih sepuluhribuan 2 lembar dan dua ribu selembar. Lalu saya dapat gorengan satu kantongan dan selembar uang seribu. Pertukaran setara. 

Di perjalanan pulang saya mengingat-ingat harga gorengan pada 20 tahunan yang lalu. Di gerobak yang sama. Penjual yang berbeda tapi pemiliknya masih sama. Waktu itu harga satu gorengan masih 250. Berarti harganya sudah naik 6 kali lipat. 

Dulu saya sendirian dari rumah menuju gerobak gorengan dengan mengayuh sepeda besar. Sekarang saya juga dari rumah. Naik sepeda motor. Berdua dengan anak. Gorengannya sama. Situasinya berubah. 

@30haribercerita

#30hbc2602

Kamis, 01 Januari 2026

Pergantian Tahun

Saat itu saya sedang berak. Di wc, suara-suara di luar rumah menjadi lebih nyaring di telinga. Saya belum selesai dengan urusan saya ketika tiba-tiba suara menggelegar terdengar di langit. 


Saya jadi membayangkan situasi di daerah perang. Dentuman keras silih berganti terdengar. Saya khawatir Salman akan terbangun. Kami hanya berdua saja di rumah. Buru-buru saya menuntaskan urusan lalu beristinja. 


Saya lihat Salman masih pulas. Alhamdulillah, syukurlah. Saya keluar rumah. Kembang api menyala di atas rumah. Berasal dari blok sebelah. Pantas saja, sudah pukul 12 tengah malam. Berarti tahun 2025 sudah berganti menjadi 2026.


Saya kembali masuk rumah setelah berbicara sebentar dengan Dayat, tetangga seberang rumah. Saya mau tidur, sedangkan dia mau pergi menjemput penumpang. 


Saya tidur pukul setengah 1 dini hari. Satu jam kemudian saya dibangunkan Salman. Mau pipis, katanya. Belum sempat ke wc, dia sudah pipis duluan di atas kasur. 


Sungguh pergantian tahun yang merepotkan. Tahun 2025 saya akhiri dengan membuang kotoran. Tahun 2026 saya awali dengan membersihkan kotoran. 


Salman hanya meringis. Untungnya dia tidak menangis. Untungnya saya juga tidak. 


Tahun ini harus lebih baik. Apakah bisa? 


@30haribercerita

#30hbc2601

Rabu, 10 Desember 2025

Cerita Mangaradau

Masa kecil saya dipenuhi dengan cerita-cerita. Abah saya membelikan buku kumpulan cerita rakyat dari berbagai penjuru daerah di Indonesia, cerita 25 Nabi dan Rasul, komik-komik nabi, dan buku-buku lainnya. Dia juga suka membawa saya ke perpustakaan kota milik pemerintah. 


Di sekolah dasar, saat mendapat buku paket Bahasa Indonesia, saya selalu mencari-cari cerita pendek yang ada di dalamnya. Satu-satunya cerita yang saya ingat dulu adalah dongeng fabel Angkaro dan Tunturana, cerita persahabatan dua ekor kepiting. Namun saya lupa cerita detailnya bagaimana. Selain itu, ada komik Gareng dan Petruk karya Tatang S., komik nabi, komik Siksa Neraka, dan komik Taman Firdaus di Amang-amang jualan mainan. 


Di televisi, ada acara khusus dongeng untuk anak-anak. Sang pendongeng bercerita sambil menggambar di kertas putih besar dengan spidol hitam kepada anak-anak yang hadir di studio TVRI. Nama aslinya Drs. Suyadi, tapi akrab dipanggil sebagai Pak Raden. Dia pendongeng favorit saya. Dialah yang menciptakan Si Unyil. Tokoh fiktif legendaris. 


Belakangan ini Salman suka minta saya bercerita ketika mau tidur. Cerita tentang truk sampah, tentang ambulans, tentang polisi, tentang truk angkut, dan tentang banyak lagi. Sampai-sampai saya lelah bercerita. 


"Besok lagi ceritanya," seru saya berkali-kali. 


"Iya, ceritanya disimpan buat besok," jawabnya akhirnya. 


Sepertinya ini gara-gara mengikuti sepupunya, Shanum. Sabtu lalu saya menjaga Salman dan Shanum sementara istri saya dan oma mereka bertakziah. Shanum minta dibacakan buku cerita sebelum tidur siang. 


Sejak hari itu Salman minta diceritakan sesuatu terus sewaktu akan tidur malam. Saya bercerita saat dia mengedot susu. Saat lampu kamar berganti redup. Di lain waktu, dia meminta cerita saat di atas sepeda motor pulang ke rumah. Tidak apa-apa, ini kebiasaan yang bagus. Hanya saja saya jadi harus sering mangaradau.

Jumat, 05 Desember 2025

Kehendak Bebas

Sambil menjilati es krimnya, Salman mendadak bertanya, "Babah, kita ini orang?"

Saya yang duduk di sebelahnya sedang menulis cerita Anak Babah agak terkejut dengan pertanyaan itu dan langsung maklum karena yang bertanya itu adalah Salman. 


"Iya, orang. Kita bukan hewan," jawab saya. 


Salman kembali menjilati es krimnya. Es krim warna warni: ungu, biru, dan merah muda. 


Sehabis magrib, kami pulang dari rumah Oma. Saya ajak Salman jalan-jalan dulu mencari es krim dan ke rumah Kai Nini. Karena rabu malam lalu saat mau buang sampah dia minta jajan es krim. 


Kami mampir ke Indomaret yang saya pernah bilang kepada Salman bahwa di situ 'Ada Macan'. Kali ini tidak ada 'Macan', melainkan sepupu saya Rizqon, seorang jurnalis. Dia mondar-mandir di sekitar rak susu. 


"Sorangan ja kah"? Saya mengeluarkan basa basi yang sudah umum dipakai ketika bertemu orang lain yang sendirian. Kami bersalaman. Iya, katanya. 


Ternyata dia mau membeli popok buat anaknya tapi yang diinginkan tidak ada. Kami dipisahkan oleh Salman yang tidak mau diam. Dia ke kasir, saya dan Salman menuju chiller es krim. 


Saya beri Salman kesempatan memilih es krimnya sendiri. Tanpa pikir panjang dia menujuk salah satu es krim. Saya beruntung, dia memilih es krim murah: Rp3.200.


Setelah menuntaskan pembayaran di kasir kami lantas duduk di meja depan Point Coffee. Kemudian keluarlah pertanyaan tadi dari mulutnya. Salman mempertanyakan eksistensinya sebagai orang. 


Apa jangan-jangan karena dia merasa tidak punya free will atau kehendak bebas lalu meragukan identitasnya sebagai orang? Kemudian saya teringat bahwa pernah meloncat-loncat seolah-olah dia adalah kodok. Dia juga pernah berjalan dari dapur ke kamar dengan 2 kaki dan 2 tangan. Salman jadi semut, katanya.