Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resensi Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 Juli 2025

Membaca Menumis Itu Gampang

Menumis Itu Gampang: Menulis Tidak. Begitu judul buku yang barusan saya selesaikan membacanya dengan cara mencicil: di bis sewaktu berangkat kerja, di dalam pesawat ketika tidak bisa 𝘮𝘦𝘯-𝘴𝘤𝘳𝘰𝘰𝘭 media sosial, di kursi paling belakang mobil ketika berkunjung ke desa, di rumah ketika lagi sendirian, dan di tempat lainnya ketika ada kesempatan. 

Buku karya Mahfud Ikhwan ini saya beli karena judulnya yang unik. Menumis dan menulis, kata kerja yang terdengar mirip tapi memiliki makna yang jauh berbeda. Disandingkan dalam sebuah judul, masing-masing dirangkai menjadi frasa yang saling berlawanan. Jadilah judul yang tidak hanya unik tapi juga menarik, bagi saya. 

Saya memang menyukai tulisan yang unik. Misalnya tulisan pada plang larangan membuang sampah di ujung Jalan Banjar Indah Permai, di depan tanah kosong bersemak belukar, begini tulisannya: 

YA ALLAH.. 

SAYA RELA MELARAT

SAMPAI ANAK CUCU

JIKA SAYA

MEMBUANG SAMPAH

DI SEPANJANG JALAN INI

Aamiin ... (emotikon berdoa) 

Buku Menumis Itu Gampang adalah kumpulan sebagian tulisan-tulisan Mahfud Ikhwan pada kolom mingguan yang bernama "Rebahan" di Mojok.co. Cerita sehari-hari pada masa pandemi 2020 lalu yang dibentur-benturkan dengan kejadian yang pernah terjadi yang dialami oleh penulis. Membacanya terasa seperti sedang mendengarkan seorang teman yang sedang bercerita.

Penulis piawai dalam menceritakan kejadian yang sebenarnya biasa saja menjadi sesuatu yang seru dan filosofis. Seperti cerita menumpuk ampas teh di pot kecil di atas wastafel yang berjudul Hasil, cara mengupas kulit gembili pada cerita berjudul Tercerabut, tahi-tahi ayam tetangga di beranda rumah yang berjudul Ayam di Beranda, atau kegemaran menonton film India pada cerita Tiga Jumat.

Sepertinya setelah ini saya akan mencari dan 𝘮𝘦𝘯-𝘤𝘩𝘦𝘤𝘬𝘰𝘶𝘵 buku lainnya dari Mahfud Ikhwan. Semoga ada rezekinya. Saya tidak pernah membuang sampah di sepanjang ujung Jalan Banjar Indah Permai yang bersemak belukar itu.

Kamis, 24 Agustus 2023

Resensi Buku - Hidup Tenang

Baiklah, saya baru selesai membaca buku Hidup Tenang. Terbitan dari Ujung Pesiar. Sebuah antologi yang semua penulisnya perempuan, dan beberapa nama penulisnya yang bagi saya unik, seperti: Saviera Yonita Hadi, Labiqotul Fatiyasani, dan Lungit Fika Fauzia.

Kovernya sedap dipandang. Sebuah bangku di ujung dermaga. Berjejer di sebelahnya ada termos dan gelas, di atasnya tergeletak buku yang terbuka. Warna biru air yang mendominasi memperkuat kesan judul buku ini: Hidup Tenang.

Di dalam buku ini ada lima belas bab yang diberi judul dengan nama emosi dan perasaan, yaitu: Bahagia, Sedih, Takut, Harap, Sakit Hati, Sabar, Dengki, Syukur, Iri, Ikhlas, Malu, Optimis, Putus Asa, Galau, dan yang terakhir Tawakal.

Awal mula melihat Hidup Tenang saya mendapatkan kesan buku motivasi. Ketika membacanya ternyata benar. Saya kurang suka membaca buku motivasi, tetapi entah kenapa membaca Hidup Tenang merasa nyaman-nyaman saja. Bahkan menambah wawasan dan perspektif baru dalam memandang suatu emosi dan perasaan. Apalagi juga disertai ayat-ayat Alqur'an, hadis Nabi, dan nasihat Ulama sebagai pendukung, ini memperkuat emosi pada narasi yang dijelaskan.

Pada bab Bahagia ada kutipan ayat 43 surah An-Najm yang terjemahannya: "Dan bahwasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis."

Pada bab selanjutnya yaitu, Sedih, ada kutipan hadis Rasulullah shallahu 'alaihi wasallam: "Tidak ada yang menimpa seorang muslim, berupa kepayahan, kesakitan, duka cita, kesedihan, gangguan, dan kesusahan, hingga duri yang menusuknya kecuali dengan sebab itu Allah menggugurkan dosa-dosanya." (HR. Bukhari, no. 5641 dan Muslim, no. 2573).

Pada bab Galau ada kutipan nasihat Ibnul Qayyim: "Bahaya terbesar yang dialami oleh seorang hamba adalah adanya waktu nganggur dan waktu luang, karena jiwa tidak akan pernah diam. Ketika dia tidak disibukkan dengan hal yang bermanfaat, pasti dia akan sibuk dengan hal yang membahayakannya. (Thariq Al-Hijaratain).

Kalau mau menenangkan hati dengan nasihat-nasihat agama Islam, buku ini cocok dijadikan bacaan. Caranya: beli di toko daring. Atau, kalau tidak mau beli bisa pinjam sama teman, seperti saya. Itu kalau temannya mau meminjamkan sih.

Kamis, 03 Agustus 2023

Resensi Buku - Di Tanah Lada

Di Tanah Lada, novel dengan sudut pandang anak kecil berusia 6 tahun, berjenis kelamin perempuan. Namanya Salva, nama panggilannya Ava.


Ini novel kedua Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie yang saya baca. Sebelumnya saya sudah membaca Kita Pergi Hari Ini.

Novel ini mengandung bawang, bawang goreng dan bawang merah mentah, tetapi lebih banyak bawang merah mentahnya.

Kalau tidak suka dengan narasi yang bertele-tele mungkin akan kesal membaca novel ini. Kalau saya sih suka. Tentu saja bertele-tele, Di Tanah Lada novel yang menggunakan sudut pandang anak kecil berusia 6 tahun yang ke mana-mana membawa kamus pemberian mendiang kakeknya, Kakek Kia.

Setiap kata yang Ava temui dan tidak tahu artinya, dia akan mencarinya di kamus, lalu memberitahukan hasil pencariannya itu. Unik juga. Saya juga sering mencari arti kata di google bila ada kata yang tidak saya tahu artinya atau saya kurang yakin artinya. Saya akan ketik kata tersebut plus kbbi di kolom pencarian google lalu tekan enter, misalnya kontemplasi kbbi, maka akan muncul daftar laman yang menjelaskan arti kontemplasi.

Ava punya Mama dan Papa, tetapi Papanya jahat. Senang berjudi dan senang memukuli Ava. Ava sekeluarga pindah rumah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Di sana Ava bertemu dengan seorang anak laki-laki yang lebih tua darinya, namanya P. Iya, cuma satu huruf, P.

P pandai bermain gitar sampai-sampai Ava mengira dia seorang pengamen. P juga punya Papa yang jahat, tetapi lebih jahat daripada Papa Ava.

Dari awal pertemuan mereka sudah akrab. Ke mana-mana bersama, menempuh petualangan hidup, kesenangan dan kesedihan. Ava dan P sehidup semati.

Ada banyak kata-kata yang saya suka. Saya garisi dengan pulpen PILOT. Salah satunya kalimat pada halaman 153 ini:

Kata Kakek Kia, kadang-kadang, kesalahan terbesar dilakukan oleh orang terpintar. Kata Kakek Kia, itu karena, orang pintar punya fokus yang luar biasa. Orang bodoh, kata Kakek Kia, tidak punya fokus, jadi mereka bisa melihat lebih banyak hal.


Ada juga kalimat yang menurut saya lucu, terdapat pada halaman 177:

Lagunya berbunyi: "Antrilah di loket untuk beli tiket."


Sontak saya tertawa karena saya tahu lagu ini, judulnya Antrilah di Loket milik P - Project. Lagunya kocak, video klipnya juga.

Di bagian akhir cerita saya menemui plot twist--pelintiran alur--yang membuat saya terkejut. Tidak hanya saya, Ava dan P sang tokoh utama pun terkejut dengan pelintiran alur tersebut.

Senin, 06 Maret 2023

Resensi Buku - 60 Rahasia Jadi Ayah Hebat

60 Rahasia Jadi Ayah Hebat

 

60 Rahasia Jadi Ayah Hebat, begitu kata judul bukunya. Penulisnya dua orang, Ustadz Bendri Jaisyurrahman dan Ayah Irwan Rinaldi. Katanya rahasia tapi malah dibeberkan. Hmm, terkadang rahasia memang untuk disampaikan. Makanya ada istilah 'rahasia umum'. Dan sebagian lagi tetap untuk disimpan.

Buku kecil ini hanya seukuran handphone Xiaomi Redmi A1, namun lebih pendek 5 cm dan lebih lebar 5 cm dari Xiaomi Redmi A1. Dengan halaman seperti ukuran memory handphone zaman dulu, yaitu 128. Berisi nasihat-nasihat pendek kepada ayah dalam mendidik, mengasuh dan menjaga anaknya. Satu rahasia panjangnya rata-rata 1 atau 2 halaman.

Membaca 60 Rahasia Jadi Ayah Hebat akan membuka pemahaman dan wawasan baru dalam mendidik anak. Buku ini cocok dibaca dalam keadaan santai maupun tidak santai. Tidak perlu konsentrasi penuh untuk memahami maksud dari 60 rahasia yang disampaikan. Karena bahasanya mudah dimengerti dan to do point, yang berarti langsung ke poin yang dibicarakan.

Dan entah kenapa ketika saya melihat kover bukunya jadi teringat poster film The Pursuit of Happyness. Ah, jadi pengin nonton.