Tampilkan postingan dengan label Kisah Tidah Inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Tidah Inspiratif. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juni 2026

Hari Absurd

Pagi sore minum kopi leci. Sudah macam warung nasi padang saja saya hari ini. Saya berhasil membuat satu orang teman membeli kopi leci ini juga dan dia menyatakan suka ketika pertama kali meminumnya. 

Seorang teman lagi menanyakan saya apa nama kopinya di menunya, yang saya jawab 'Iced Black Lychee'. Saya kira dia juga akan membelinya. Dengan begitu saya berhasil menjadi pemengaruh Kopi Leci dari Bean Alfamart. Setidaknya untuk dua orang. 


Siang hari, saya dihubungi kurir Lion Parcel. Dia memastikan alamat pengantaran paket untuk saya. Saya sempat mengira ini adalah paket palsu karena tidak ada barang yang sedang saya tunggu kedatangannya. Lalu saya baca chat dari kurir, pengirim paket tertulis: ZIGGY. 


Hah? Kenapa penulis buku 'Kita Pergi Hari Ini' itu mengirimi saya paket? Sungguh absurd, saya mendapat kiriman paket dari penulis terkenal. Tapi kenapa? Kok bisa? 


Pasti ada alasannya. Saya menelusuri ingatan dengan membuka profil Ziggy di X (dulu namanya Twitter): @monamiCROISSANT. Setelah menggulir layar sampai bulan Maret, saya segera ingat kalau pernah ikut 'semacam kontes' yang diadakan Ziggy. 


Barangsiapa yang turut serta menggambar ulang gambar 'Manusya Wortel' yang digambar Ziggy, maka berkesempatan mendapatkan buku Jakarta Sebelum Pagi bersampul warna putih merah muda itu. Dengan antusias saya menggambar 'Manusya Wortel' versi saya, lalu mengunggahnya di X. Namun sayang, gambar saya bukan yang menjadi pilihannya. 


Ziggy memang baik, semua yang ikutan membuat 'Manusya Wortel' diberi hadiah hiburan fakezine/merch. Akhirnya saya mengingat kalau pernah mengirim email untuk mengklaim hadiah hiburan tersebut. 


Menjelang sore hari saya berpura-pura jadi orang yang baru datang naik haji. Saya mengasih bingkisan berbentuk kakbah kepada teman pertama yang seruangan kerja dengan saya. Isinya kosong. 


Kepada teman kedua, saya kasih bingkisan bergambar kakbah berisi seplastik klip kacang arab. Teman ketiga saya kasih seplastik klip 3 biji kurma. 


Lalu ada satu teman lagi dari ruangan lain masuk, saya kasih sebotol kecil air zam-zam. Kepada mereka semua saya ungkap kalau saya baru datang naik haji furoda sembari meminta maaf karena memberi oleh-oleh seadanya. 


Sungguh menyenangkan membual jadi haji ini. Lalu teman-teman seruangan mengamininya dengan menimpali bualan saya. Karena memang kepala saya saat ini sedang gundul semi sejak kemarin. Seperti orang yang baru datang haji pada umumnya.

Kamis, 16 April 2026

Telepon Pak Ali

Sebulan yang lalu ada panggilan masuk di Whatsapp saya, tepatnya 9 Maret 2026. Segera saya angkat teleponnya karena sedang senggang. Saya berada di dalam mobil bersama teman-teman, menunggu waktu penukaran uang di bank yang masih lama. 

"Halo, Pak. Wa'alaikumussalam."


Namanya Pak Ali, lengkapnya Aliansyah. Usianya jauh di atas saya, tapi kami pernah satu rekan kerja di ruangan yang sama. Dia sudah lama pensiun.


"Haur kah, Lan?" tanya Pak Ali. 


"Kada, Pak. Ulun lagi di luar. Lagi antre behurup duit di bank. Ada habar apa nih, Pak?" Saya penasaran. 


"Kada apa-apa. Handak menelpon banar ai,"  jawabnya. "Apa habar, sehat ja kalo?"


"Alhamdulillah sehat, Pak. Pian pang?" 


Kemudian percakapan berlanjut ke kabar dia yang sudah beberapa kali keluar masuk rumah sakit lantaran sakit yang dideritanya. Kami juga membicarakan hal-hal lainnya hingga kurang lebih seperempat jam. Saya lalu keluar dari mobil mengambil nomor antrean. 


Sudah sebulan berlalu. Saya dibangunkan oleh suara imsak dari musala. Berita duka seringkali datangnya di saat bumi sedang sunyi. Ada pesan WhatsApp dari Baihaki, anaknya Pak Ali, mengabarkan kalau abahnya meninggal pukul 23.50 tadi malam. 


Saya jadi tahu kalau teman lama yang sudah lama tidak berkomunikasi tiba-tiba menghubungi itu tidak selalu ingin pinjam uang. Mungkin saja hanya kangen. Mungkin juga tidak hanya kangen, tapi juga sekaligus menyampaikan salam perpisahan tersirat.


Semoga Allah mengampuninya, mengasihaninya, menyejahterakannya, dan memaafkannya. Amin.

Sabtu, 02 Agustus 2025

Dilema Pertalite

Seringkali saya diserang rasa dilema ketika dihadapkan dengan situasi bensin beat karbu saya yang hampir habis. Perasaan itu muncul tatkala ingin mengisi pertalite di pom bensin tapi antreannya panjang sekali. Atau beli di eceran yang harganya Rp12.000 dengan isi pertalitenya sebotol rata-rata hanya 800 ml. Itu pun kadang ada yang isinya tidak penuh. Dengan harga Rp12.000 per 800 ml, berarti per 100 ml harganya adalah Rp1.500. Jadi kalau 1 liter harganya jadi Rp15.000. Selisih Rp5.000 dengan pom bensin. Seakan sebuah konvensi, seluruh penjual pertalite eceran sepakat menaruh harga 12 ribu per botol. 


Saya akan sabar mengantre di pom bensin selama dalam keadaan punya waktu luang yang banyak. Terkadang rasa tidak sabaran menghinggapi saya, didukung dengan cuaca siang hari yang terik. Saya telah kadung berada di pom bensin, alih-alih berada di antrean yang panjang, saya mengarahkan motor ke bagian pertamax. Sekitar 2 ribuan lebih mahal daripada pertalite. 


Awal tahun 2025 sedang ramai isu praktik pertamax oplosan oleh pertamina. Saya tidak terlalu mengikuti perkembangan kasusnya hingga terakhir. Tapi ini menimbulkan trust issue alias krisis kepercayaan di masyarakat, termasuk saya. Sehingga muncul anekdot: Pertamax adalah pertalite yang tidak antre. Sejak saat itu sampai sekarang saya menghindari mengisi pertamax di pom bensin, kecuali terpaksa. 


Sore lalu dalam perjalanan bertolak dari Banjarbaru menuju Rantau, saya masuk ke antrean pertalite di pom bensin di Tambak Baru, Martapura. Antrean mengular. Saya sempat bertahan mungkin 2 atau 3 menit. Kemudian saya memperkirakan ada 10 orang lagi di depan, dengan asumsi 1 orang dilayani selama 2 menit. Berarti saya harus menunggu selama paling cepat 20 menit lagi hingga tiba giliran saya. Sementara saya tidak ingin terlalu malam sampai di Rantau. Tanpa pikir panjang lagi saya segera meninggalkan pom bensin. 


Kemudian saya menemukan pom bensin yang sepi. Senonohan ada yang sepi, pilihan saya hanya pertamax. Saya putar balik dan melanjutkan perjalanan kembali sembari mencari pertalite eceran. Saya rasa cukup sepadan memangkas waktu 20 menit dengan membayar seharga Rp5.000.

Rabu, 09 Juli 2025

Balacuk

Kata orang tua bahari, bila makan buah beserta bijinya maka akan tumbuh di dalam perut. Saya tidak percaya. Mana mungkin bisa begitu. Seperti kata Ari Lesmana: Gila tak masuk logika. 


Tetapi hari ini sekonyong-konyong di atas kepala saya balacuk tanaman. Tidak tumbuh di dalam perut. Tidak juga karena permainan 'Sarang burung di atas kapala, isuk-isuk kunaiki.' Ini benar-benar tumbuh di atas kepala. 


Memang belakangan terakhir saya sering makan jeruk peras. Saya makan langsung atau dengan bacacap uyah. Tentu saja bijinya saya buang. Apa enaknya makan biji jeruk? Kecuali biji bunga matahari, itu enak, tanya saja Hamtaro. Apa yang paling dia senangi? Biji bunga matahari. 


Hari ini saya makan jerus peras sebanyak, kalau tidak salah, lima buah. Ukurannya kecil tapi rasanya manis. Nah, di antara 5 jeruk tersebut mungkin ada biji yang tak sengaja tertelan oleh saya. Karena lidah saya sedang ceroboh menjalankan tugasnya dalam menyortir biji untuk dilepeh ketika saya mengunyah dan menelan jeruk. Ternyata ada biji jeruk tak terdeteksi olehnya lalu masuk ke dalam perut saya. Bergabung bersama keripik pisang, cokelat, dan ketupat kandangan. 


Bersamaan dengan saya mendengarkan lagu Reality Club berjudul Is It The Answer, di atas kepala saya balacuk tanaman. Awalnya satu daun, lalu dua, tiga, hingga tujuh daun. Setelah itu tidak ada daun yang muncul lagi. Kalau kamu tidak percaya, biarkan saya membuka topi, lalu lihatlah sendiri.

Sabtu, 05 Juli 2025

Tahi Cecak

Saya dan cecak tidak akan pernah menjalin hubungan yang akrab. Bila melihat cecak di dalam rumah dengan segera akan saya buru hingga si cecak tak berdaya dan tak bernyawa. Bila keberuntungan lagi menghinggapi cecak, saya akan membukakan jendela atau membukakan pintu untuk membiarkannya lepas begitu saja. Atau, saya tidak bisa menemukannya ketika si cecak bersembuyi dengan istikamah di balik benda besar semacam lemari. 


Saya akan memburu cecak dengan benda-benda yang ada di dekat saya, atau bila tidak menemukan benda apapun maka saya menggunakan telapak tangan atau kaki untuk menghabisi cecak. Tapi saya pernah dikejutkan oleh cecak ketika suatu malam membuka pintu belakang rumah. Tiba-tiba saja di atas pintu muncul cecak sebesar tokek. Mungkin dia juga terkejut ketika melihat saya sehingga terjatuh ke lantai lalu segera kabur ke belakang lemari. 


Ini pertama kalinya saya berhadapan dengan cecak sebesar tokek. Dengan cepat saya ambil sapu dan obat nyamuk semprot. Kemudian saya periksa belakang lemari tapi nihil. Di bawah lemari juga tidak ada. Meski saya semprot dengan obat nyamuk, tidak juga dia menampakkan diri. Saya merasa kalah dan menghibur diri dengan menganggap si cecak sudah kabur keluar rumah lewat pintu yang belum saya tutup. 


Kamis pagi kemarin sewaktu mau berangkat kerja saya menemukan cecak kecil di bawah sandal di pelataran. Dia mau kabur, tapi tangan saya lebih cepat untuk menepuknya hingga menempel di lantai pelataran. Si cecak masih hidup. Ekornya bergerak ke kanan ke kiri berulang-ulang. Saya mendapatkan ide untuk mengolok-oloknya. Saya rekam cecak yang menggoyangkan ekornya tersebut sambil berkata satu-dua satu-dua satu-dua, seolah-olah si cecak sedang berolahraga. Kemudian saya pergi. Membiarkan si cecak menempel di pelataran dan berharap dia akan mati perlahan-lahan karena bosan tidak bisa ke mana-mana. Namun ketika saya pulang, si cecak telah lenyap. 


Besoknya ketika mau berangkat kerja lagi tidak ada cecak di bawah sandal di pelataran, melainkan ada tahi cecak di pijakan kaki beat karbu 125 saya. Bukan saya mau bersuuzan dengan cecak kecil kemarin, tapi tahi cecak ini berukuran kecil. Bahkan bila ternyata bukan cecak itu yang berak di motor saya tapi tetap saja semua cecak berwatak kurang ajar dan kada tahu dibasa. 


Saya biarkan saja tahi cecak itu tanpa dibersihkan. Saya parkir motor di tempat seperti biasa lalu naik bus menuju tempat kerja. Berharap motor saya akan bersih dengan sendirinya oleh hujan. Benar saja, sepulang kerja saya dapati tahi cecak telah lenyap diguyur hujan deras. Suatu kehilangan yang alih-alih saya sedihkan, senyum saya malah terkembang.

Kamis, 03 Juli 2025

Membaca Menumis Itu Gampang

Menumis Itu Gampang: Menulis Tidak. Begitu judul buku yang barusan saya selesaikan membacanya dengan cara mencicil: di bis sewaktu berangkat kerja, di dalam pesawat ketika tidak bisa 𝘮𝘦𝘯-𝘴𝘤𝘳𝘰𝘰𝘭 media sosial, di kursi paling belakang mobil ketika berkunjung ke desa, di rumah ketika lagi sendirian, dan di tempat lainnya ketika ada kesempatan. 

Buku karya Mahfud Ikhwan ini saya beli karena judulnya yang unik. Menumis dan menulis, kata kerja yang terdengar mirip tapi memiliki makna yang jauh berbeda. Disandingkan dalam sebuah judul, masing-masing dirangkai menjadi frasa yang saling berlawanan. Jadilah judul yang tidak hanya unik tapi juga menarik, bagi saya. 

Saya memang menyukai tulisan yang unik. Misalnya tulisan pada plang larangan membuang sampah di ujung Jalan Banjar Indah Permai, di depan tanah kosong bersemak belukar, begini tulisannya: 

YA ALLAH.. 

SAYA RELA MELARAT

SAMPAI ANAK CUCU

JIKA SAYA

MEMBUANG SAMPAH

DI SEPANJANG JALAN INI

Aamiin ... (emotikon berdoa) 

Buku Menumis Itu Gampang adalah kumpulan sebagian tulisan-tulisan Mahfud Ikhwan pada kolom mingguan yang bernama "Rebahan" di Mojok.co. Cerita sehari-hari pada masa pandemi 2020 lalu yang dibentur-benturkan dengan kejadian yang pernah terjadi yang dialami oleh penulis. Membacanya terasa seperti sedang mendengarkan seorang teman yang sedang bercerita.

Penulis piawai dalam menceritakan kejadian yang sebenarnya biasa saja menjadi sesuatu yang seru dan filosofis. Seperti cerita menumpuk ampas teh di pot kecil di atas wastafel yang berjudul Hasil, cara mengupas kulit gembili pada cerita berjudul Tercerabut, tahi-tahi ayam tetangga di beranda rumah yang berjudul Ayam di Beranda, atau kegemaran menonton film India pada cerita Tiga Jumat.

Sepertinya setelah ini saya akan mencari dan 𝘮𝘦𝘯-𝘤𝘩𝘦𝘤𝘬𝘰𝘶𝘵 buku lainnya dari Mahfud Ikhwan. Semoga ada rezekinya. Saya tidak pernah membuang sampah di sepanjang ujung Jalan Banjar Indah Permai yang bersemak belukar itu.

Sabtu, 28 Juni 2025

Perkara Kopi

Segelas kopi hitam panas di pagi hari rasanya sungguh nikmat. Apabila disajikan oleh tangan istri dengan selengkung senyum maka sudah dapat dipastikan akan bertambah kenikmatannya, meski tanpa tambahan gula. 

Pada mulanya saya senang minum kopi susu. Coffeemix adalah kopi susu andalan. Menurut saya manis dan rasanya pas, tidak kelebihan atau kekurangan. Kadang sesekali memesan Good Day kalau lagi makan di kantin kampus. Tapi memesan Good Day tidak semudah memesan Coffeemix. Saya harus menentukan pilihan rasa terlebih dahulu, yang saya pikir semua rasanya enak dan menarik. Apalagi untuk saya yang sering bingung menentukan pilihan ketika dihadapkan dengan banyak pilihan. Pada akhirnya saya mengikuti rasa pilihan teman saya, yaitu: Collin' Coffee. 


Suatu waktu saya mendapat informasi dari Pak Haji bahwa minum kopi instan kurang baik untuk kesehatan. Mengandung bahan pengawet, katanya. Dia menceritakan bahwa ada orang yang kesehatannya bermasalah karena setiap hari meminum kopi instan. Saya mendengarkan ceritanya dengan seksama. Namun, bukan berarti 'saya mendengar dan saya taat'. Kalau minum kopi instan sesekali saja tidak setiap hari saya rasa tidak apa-apa. 


Namun ada waktu ketika saya tidak mau lagi minum kopi susu, baik yang instan atau buatan kafe. Minum kopi susu rasanya tidak lagi senikmat dulu. Perut saya segera mual ketika meminumnya. Mungkin karena saya pengidap asam lambung alias ada penyakit maag. 


Kemudian hari saya mencoba kopi hitam dan ternyata perut saya bisa menerimanya. Padahal dulu bila minum kopi hitam perut saya langsung mual. 


Sebagai seorang yang belakangan menjadi penikmat kopi hitam, saya kadang masih minum kopi susu. Ketika istri saya membuat kopi susu, dia akan menyodorkan sedotan ke depan mulut saya sambil tersenyum tanpa berkata apapun. Saya paham apa maksudnya. Saya akan menyedot untuk minum beberapa teguk dan berkata 'enak'.  Meski perut saya akan sedikit mual, ini lebih baik daripada saya akan melihat wajahnya yang merengut.

Minggu, 22 Juni 2025

Pentas Seni Pertama

"Sore ni salman gladi nah.." Pesan istri saya masuk ketika saya sedang duduk di depan komputer. Mengerjakan pekerjaan yang harus segera diselesaikan. 

Refleks saya tertawa membacanya. Anak sekecil berumur 3 tahun itu akan diatur-atur untuk menari. Saya yakin nanti dia akan melakukan gerakan dengan semaunya dia. 


Sabtu lalu, Salman tergabung dalam kelompok Tempat Penitipan Anak (TPA) yang akan menampilkan 'tarian singa' pada acara Pentas Seni Serta Pengukuhan & Pelepasan Peserta Didik Paud. Tarian singa ini merujuk pada lagu di kanal youtube BaLiTa - Baba Lili Tata berjudul Singa. Kebetulan lagu ini favorit Salman ketika dia beusia 1 tahunan. 


Setelah salat asar saya bertolak dari kantor menuju Rantau mengendarai Beat Karbu 125 kesayangan saya sejak 2008. Begitu tiba di Rantau, saya singgah terlebih dahulu ke Indomaret membeli air minum, ke langgar untuk menjamak qasar salat maghrib dan isya, dan ke warung gorengan favorit saya. Semua di dekat lampu merah Kelurahan Kupang. 


Sesampainya di rumah kontrakan istri saya, Salman yang lagi menonton kartun di youtube menyambut saya dengan senyuman canggung. Karena dia tidak tahu saya bakalan datang. Dia bangkit memeluk saya lalu mengajak saya bergulat di atas kasur. Saya kira itu cara dia untuk mengekspresikan rasa senang. 


Besoknya kami datang ke aula tempat acara, orang-orang sudah lumayan banyak. Acara sedikit ngaret dari jadwal. Sebelum Salman dan bocil-bocil lainnya tampil, lagu-lagu diperdengarkan. Di antaranya ada soundtrack film Jumbo. Baru kali ini saya mendengarkan dan memperhatikan lagunya. Karena yang saya tahu dari lagu itu hanya lirik 'Sedikit demi sedikit'. Ternyata lagunya sedih dan bikin mewek. Hampir saja saya menangis di tempat itu bila tidak bisa menahan air mata yang mendesak ingin keluar. 


Masalah datang ketika para bocil yang akan tampil dikasih aksesoris rumbai untuk dipasang di pinggang. Salman tidak mau memakainya. Beberapa kali disuruh memakai rumbai, sebanyak itu pula dia tolak. Tapi untungnya dia mau maju setelah diberitahu tidak usah pakai rumbai. 


Semua bocil maju ke depan, kecuali yang masih menangis tidak mau maju. Lagu singa diputar: Panggil aku singa. Rarwwrr! 


Para orang tua masing-masing bocil merapat ke depan sambil mengeluarkan kamera ponsel untuk merekam aksi anak mereka. Keadaan di depan tidak karuan. Sebagian bocil berdiri mematung kebingungan. Sebagian lagi ada yang berlarian, ada yang melepas balon properti, dan satu bocil yang melakukan tarian dengan benar sebentar lalu terdiam kebingungan. Salman membuat tariannya sendiri: berputar, menendang udara, dan melompat-lompat. 


Kami segera pulang menuju Banjarmasin begitu Salman selesai tampil. Ini perjalanan terjauh kami bertiga naik Beat Karbu 125. Alhamdulillah kami selamat sampai di rumah ketika hari sudah sore.

Batuk Tetapi Mengisap Dji Sam Soe

Teman saya Doddy mengomentari cerita saya bertajuk Menunggu Hujan Reda tempo lalu. "Kenapa pian beroko pas batuk? Wwkw" Tanyanya melalui pesan Whatsapp. 


Pada cerita tersebut saya mengungkapkan bahwa bila saya sedang terserang batuk yang lama dan tak kunjung sembuh maka saya ke warung membeli Dji Sam Soe Premium. Rasa-rasanya tidak masuk akal, batuk malah mengisap rokok. Tetapi begitulah yang saya alami. 


Sekitar 2 tahun yang lalu, yaitu awal tahun 2023, saya terserang batuk. Gejala awalnya seperti yang jamak diketahui adalah tenggorokan terasa gatal. Dilanjutkan batuk sekali-sekali. Lalu puncaknya batuk berkali-kali dan sering. 


Beraktivitas terganggu. Tidur pun tak karuan. Hidup menjadi kurang menyenangkan. Apalagi bila jauh darimu. Akayahhh, ulai manggg! Tasandar pulang lakiannya. 


Untuk mengatasinya saya mengonsumsi vitamin c, degirol, juga obat batuk yang saya lupa apa namanya. Sudah sebulan, batuk tak kunjung sembuh. Obat pun sudah habis. Saya lalu mencari-cari solusi di google. Akhirnya saya menemukan artikel di website mojok.co oleh Nanda Naradhipa: Alasan Dji Sam Soe Kretek Sering Dijadikan Alternatif Obat Batuk oleh Perokok. 


Dari artikel tersebut saya tergerak untuk mencoba Dji Sam Soe kretek. Setelah berpikir berkali-kali, beberapa hari kemudian saya membelinya dengan niat menjadikannya obat. 


Saya merokok bersama teman-teman di tempat kerja dengan perasaan canggung. Lepas merokok saya segera menyikat gigi lalu minum susu untuk menghilangkan rasa tidak nyaman di mulut. Ajaibnya, gatal di tenggorokan berkurang. Entah itu pengaruh tembakaunya yang sakti atau efek placebo. 


Kata teman saya, Rahmadi, Dji Sam Soe Premium lebih enak karena lebih ringan ketika diisap. Sejak saat itu saya mengisap Dji Sam Soe Premium sebatang-dua batang untuk dijadikan pilihan terakhir bila cara lainnya belum mempan meredakan batuk. Tentu saja tidak selalu saya lakukan dan saya harus berpikir berkali-kali dulu, karena saya bukan perokok.

Kamis, 19 Juni 2025

Menunggu Hujan Reda

Menunggu hujan deras reda tidak masalah selama tidak kebelet pengin kencing dan tidak kebelet pengin berak. Sore sepulang kerja saya duduk di halte bus menunggu hujan reda. Saya pengin pipis tapi masih bisa ditahan. 

Meski di bawah jok beat karbu saya ada jas hujan, saya tetap bertahan di halte bus. Karena hujan sangat deras. Pasti akan membasahi sepatu. Saya tidak membawa kantong kresek. 


Di saat seperti ini kadang ada saja gangguan. Ketenangan saya terusik ketika orang yang menaiki motor roda tiga berbak belakang alias Tossa HTM datang. Saya menggeser duduk untuk memberinya tempat di sebelah kanan saya. Tidak lama setelah dia menaruh helm dan duduk, sebatang rokok dinyalakan dan diisapnya. Saya agak menyesal telah memberinya tempat duduk. 


Angin membawa asap rokok ke arah saya dan orang lainnya di sebelah kiri. Refleks saya menaikkan ransel yang saya peluk untuk menutupi hidung. Sesekali saya kibaskan tangan untuk menghalau asap yang lewat di depan wajah. Itu saya lakukan untuk menjaga pernapasan saya sekaligus ingin mengetahui reaksi dia. 


Sebenarnya saya bisa saja menegurnya dengan nada santun dan lemah lembut tapi saya malas. Saya juga bisa tahan mencium asap rokok tapi saya tidak suka menciumnya. Saya pun bisa merokok tapi saya bukan perokok. Saya hanya sesekali merokok bila sedang terserang batuk dan batuknya berhari-hari, maka saya akan ke warung membeli Samsu Premium sebungkus. 


Setelah berkali-kali mengembuskan asap rokok, dia berjalan sedikit ke depan lalu melanjutkan isapan rokok sambil berdiri. Dengan demikian asap rokoknya tidak mengenai saya. Entah karena merespon sikap saya atau bukan, tapi kemudian dia membenarkan posisi terpal yang menutupi bak belakang motornya. Lalu kembali duduk dan tidak menyalakan rokok lagi hingga dia pergi meski hujan masih belum berhenti.

Jumat, 29 September 2017

Hikayat Santan

ilustrasi: aa lana


Santan berkata pada tahun 1965: Apalah daya, diri sudah terlanjur begini, tidak bisa kembali menjadi kelapa yang digantung di pohon. Di hadapan Wadah Plastik dan Saringan, Santan bercerita.

"Dulu aku adalah kelapa," ungkap Santan kepada Wadah Plastik dan Saringan.

Wadah Plastik dan Saringan tidak begitu saja memercayai pengakuan Santan. Dengan berbarengan mereka bertanya kepada Santan, "bagaimana bisa?" Dahi mereka mengkerut. Tapi sebenarnya mereka tidak memiliki dahi. Dahi mereka hanya rekaan.

"Tentu saja bisa," jawab Santan. "Kalian bertanya seakan-akan aku sedang menyampaikan kabar dusta."

"Tenang, Santan. Tenang." Kata Saringan.

"Iya, Santan. Tenang. Itu lebih baik bagimu." Wadah Plastik menimpali.

"Maafkan kekhilafanku," kata Santan.

"Tidak masalah," kata Saringan.

Wadah Plastik mengulangi kalimat yang diucapkan Saringan.

Kemudian Santan mulai dapat menguasai diri. Karena hanya dengan tenang ia bisa mengelola kata-kata yang akan dipakai untuk disampaikan kepada Saringan dan Wadah Plastik.

"Aku sudah tidak sabar nih," keluh Saringan.

"Iya, aku juga. Ayo ayo, Santan." Wadah Plastik suka sekali menimpali ucapan Saringan. Karena itu hobinya.

Kali ini Santan yang berusaha menenangkan Saringan dan Wadah Plastik. Mereka mulai riuh karena dikuasai oleh rasa penasaran. Setelah semuanya tenang, Santan memulai kembali ceritanya.

"Iya, dulu sekali aku adalah kelapa. Tempatku di atas pohon di mana aku bergantung bersama kelapa-kelapa lainnya. Hingga...."

"Hingga apa?" Tanya Wadah Plastik.

"Hinggap maksudku. Kamu sih menyela," kata Santan.

"Hinggap apa, Santan?" tanya Wadah Plastik lagi.

"Hinggap burung pipit di bagian tertinggi pohon kelapa. Kemudian terbang lagi."

"Di mana bagian kamu berubah wujud? Langsung ke situ saja deh." Pinta Saringan.

"Oke, sebentar lagi kita akan sampai ke situ." Jawab Santan.

"Duk! Begitu bunyinya. Teman sesama kelapa di sebelahku jatuh ke bumi. Hanya tinggal menunggu waktu saja akan tiba giliranku, pikirku waktu itu."

Saringan menjerit.

"Kenapa bisa jatuh, Santan? Apakah karena lelah bergelantungan?” Tanya Wadah Plastik.

"Bukan," jawab Santan.

"Ini berawal dari kedatangan seekor monyet bersama pawangnya. Monyet itu dirantai di lehernya. Sepanjang tiga meter kira-kira. Ia diperintah pawangnya menaiki pohon kelapa kami. Lalu, kalian sudah tahu apa yang terjadi selanjutnya."

"Pasti sakit," kata Saringan.

"Tentu saja," sahut Santan.

"Hebat sekali Si Pawang bisa membuat Si Monyet berlaku seperti manusia," Wadah Plastik menyatakan kekagumannya.

“Si Monyet juga hebat,” kata Saringan.

"Iya. Tapi ia dirantai." Kata Santan.

"Selanjutnya bagaimana nasibmu?" Tanya Saringan.

"Aku dan kelapa-kelapa lainnya dimasukkan ke dalam karung oleh Si Pawang. Karung diikatnya. Perlu kalian ketahui, sungguh tidak enak rasanya berjejalan di dalam karung itu. Kemudian aku merasa karung yang kami tempati saat itu seperti diangkat dari bumi. Aku bertanya-tanya sendiri dalam hati: 'akan dibawa ke mana kami ini?' Karena kalau aku bertanya-tanya kepada kelapa-kelapa lainnya pasti mereka akan menggeleng. Karena kalau aku bertanya-tanya dengan berteriak kepada Si Pawang pasti sia-sia, di telinganya tersumpal ear phone."

"Itu benar, Santan." Wadah Plastik mengomentari.

"Ketika karung dibuka, aku tahu kami sudah berada di pasar tradisional. Si Pawang dan monyetnya sudah tidak ada."

"Ke mana mereka?" tanya Saringan.

"Mana kutahu. Yang aku tahu, Manusia Tambun Bersinglet itu mengambilku dari karung. Kemudian menanggalkan sabutku dengan parang. Memotong-motongku menjadi empat bagian, lalu memasukkanku ke dalam kantong plastik hitam kecil dan diikat."

"Apa yang kamu rasakan, Santan?" tanya Saringan.

"Iya. Apa kamu rasakan, Santan?" tanya Wadah Plastik juga.

"Sakit. Tapi tidak berdarah." Jawab Santan. "Kembali aku merasakan sensasi berada di tempat gelap. Tapi kali ini aku hanya sendirian."

"Kasihan sekali kamu," seru Saringan dan Wadah Plastik berbarengan.

"Aku tidak merasa perlu dikasihani. Aku rasa aku lebih perlu untuk melanjutkan ceritaku. Kalian juga memerlukannya kan?"

"Iya iya, Santan." Jawab Saringan dan Wadah Plastik berbarengan.

"Kantong plastik hitam kecil terbuka lagi. Tangan seorang Perempuan Berdaster mengeluarkanku dari kantong plastik hitam kecil. Aku digeret-geretnya ke parutan kelapa hingga aku menjadi serbuk kelapa. Waktu itu aku sudah berada di dalam mangkok kaca, air putih dituang dan bercampur denganku. Aku diperas oleh Perempuan Berdaster tadi. Ampasku tertinggal di atasmu, Saringan. Dan di sinilah aku sekarang ada di dalammu, Wadah Plastik. Menjadi santan yang menceritakan masa lalunya kepada kalian."

"Oh," seru Saringan dan Wadah Plastik berbarengan. Dan itu oh yang lumayan panjang.

Lima detik kemudian Perempuan Berdaster kembali dari urusannya yang tidak perlu diketahui Santan, Saringan dan Wadah Plastik. Ia memindahkan Santan ke tempat lain. Di tempat yang baru itu, Santan akan bercerita lagi.

Kamis, 31 Desember 2015

Hari Rabu

HARI RABU


"Lihat deh,” Maya menunjukkan sebuah kalender masehi kepada Abdul. “Menurut informasi di sini bahwa hari ini adalah rabu.” kata Maya seolah-olah itu adalah suatu kabar berita besar.

"Barangsiapa yang hidup pada hari rabu maka dipastikan dia sudah melewati hari selasa." kata Abdul yang duduk bersila di atas bara api berupa poster.

"Oh."

"Dengan begitu, pantaslah ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang menjelajahi waktu."

"Hmm."

"Kita sedang berada di hari ini yang di hari semalam kita masih menyebutnya hari esok. Bukankah itu keren, kita bisa berpindah ke hari esok meski harus menunggu sebanyak 24 jam?"

"Lama dan membosankan."

"Tidak juga. Asalkan ada temannya tidak akan terasa lama."

"Siapa?"

"Kamu."

“Apa? Aku?”

"Pipimu jadi merah."

"Anu, aku tadi habis mengisi tinta printer," kata Maya dengan sedikit menunduk yang sebelumnya menggaruk pipinya yang gatal.

"Lagipula menunggu lampu menjadi hijau terasa lama sekali, padahal cuma 90 detik. Sedangkan menonton film bagus 1 jam 53 menit tidak terasa."

"Aneh ya, seperti kamu."

"Kenapa?"

"Apa tidak panas?"

"Apanya?"

"Itu." Maya menunjuk pantat Abdul.

"Tenang saja, ini cuma gambar.

"Syukurlah. Kukira kamu sudah gila."

"Mungkin gagasan itu ada benarnya."

"Kamu bilang apa tadi?" Maya sebenarnya mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Abdul. Tapi dia ingin mendengarkannya lagi."

"Sudah, lupakan saja. Jadi, kamu ke sini cuma untuk mengatakan bahwa ini adalah hari Rabu?"

"Tidak juga."

"Lalu?"

“Seperti katamu, kita adalah penjelajah waktu. Aku ingin bertanya, maukah kamu berbagi waktu denganku?”

Rabu, 28 Januari 2015

Nyanyian Taman Kanak-kanak

Assalamu’alaykum ibu serta bapak
Pergi ke sekolah taman kanak-kanak
Akan berangkat meninggalkan rumah
Mohon do’a restu kepada ibu ayah
Selamat jalan selamat berpisah
Mulai berangkat dengan baca bismillah



Ia menyanyikan lagu itu sambil mengetuk-ngetukkan bilah kecil ke bumi dengan tangan kanannya. Dengan duduk bersila, tubuhnya bergoyang-goyang maju mundur seperti orang khusyuk berdzikir. Aku tidak bisa melihat ekspresi mukanya. Pandanganku terhalang oleh pagar sekolah. Aku melihatnya hanya sebatas kaki dari celah bawah pagar.

Aku sedang duduk di depan salah satu kelas di sekolah taman kanak-kanak. Menunggu acilku*) menyelesaikan urusan dengan guru di sekolah itu. Waktu itu sudah hampir siang, jadi anak-anak sekolah sudah pada pulang.

Untuk mengatasi bosan aku memotret beberapa benda di lapangan sekolah. Di tengah keasyikanku mengamati hasil jepretanku terdengar suara nyanyian di luar pagar. Itu berasal dari mulut perempuan yang duduk di atas tanah di seberang sekolah. Dia mengenakan sarung cokelat bermotif batik. Rambut kelabu sebahu. Kulit keriput.

Awalnya aku mengira ia seorang pengemis ketika melewatinya mau masuk ke sekolah. Kulihat tangannya memegang beberapa koin rupiah. Tapi dugaanku keliru, ternyata ia senang meracau sendiri sebelum kudengar menyanyikan lagu itu.

Lagu itu ia nyanyikan berulang kali. Sehingga menarik minatku untuk mencatatnya di ponselku. Kemudian dari arah kanan tempatku duduk datang lelaki dengan menunggang motor bebek melewati si perempuan itu.

“Ah, aku belum selesai mencatat semua liriknya,” kataku dalam hati.

Nah kan, dugaanku benar. Nyanyiannya terhenti. Ia kembali meracau. Tapi untunglah, tidak lama setelah itu ia menyanyi lagi. Ia berhasil menghipnotisku. Aku turut bersenandung begitu selesai mencatat semua liriknya. Sambil menggoyang-goyangkan kepala membuatku lupa bahwa menunggu itu membosankan.

Beberapa kali lagu diulang, ia berhenti bernyanyi dan kembali meracau. Fokusku beralih kepada acilku yang keluar dari ruang guru. Aku dan dia mendatangi motor untuk pulang.

Sewaktu keluar sekolah aku ingin melihat lagi muka si penyanyi taman kanak-kanak. Tapi tak kutemukan di mana ia duduk tadi. Kucari ia, kuarahkan pandangan ke arah sana, tempat lelaki tadi datang. Kulihat ia tersenyum ke arahku kemudian menghilang di tikungan.

*) Acil itu bahasa Banjar. Bahasa Indonesianya tante.


Maulana Usaid

Minggu, 26 Oktober 2014

Kentut Semut

KENTUT SEMUT


Selamat pagi, Semut-semut. Silakan cokelatnya dimakan. Dan dihabiskan. Jangan berebut. Ini cukup untuk kalian. Sebutir Chacha warna oranye. Jangan mondar mandir begitu. Lekas berkumpul. Makan di sini saja. Jangan dibawa pulang. Lepas itu, ada yang ingin kutanyakan ke kalian. Oke? Nah, begitu.


Ini sudah hari kedua. Cokelat yang kukasih belum juga habis. Padahal kalian beramai-ramai mengerumuni cokelat itu. Tapi kuperhatikan, ada perkembangan juga. Cokelat dalamnya sudah nampak, warna oranye yang melapisinya sudah habis kalian makan.

Kuperhatikan lagi, tapi dengan mengendap-endap seperti maling. Aku tahu, kalian pasti langsung bubar ketika aku tiba-tiba datang. Melihat kalian berkerumun begitu aku jadi teringat film serial The Walking Dead. Kalian seperti walkers yang beramai-ramai mengerumuni korban yang sedang nahas.

Tapi kalian bukan walkers, kalian semut. Yang senang mendatangi benda-benda manis, macam gula, cokelat, atau susu kental manis. Kalian mendeteksi bau manis lewat antena di kepala itu. Saling berbagi informasi kepada semut lainnya ketika bertemu di jalan dengan menempelkan antena masing-masing.

Beberapa orang tua menceritakan kepada anak mereka bahwa aktifitas kalian itu adalah berjabat tangan. Aku tidak mempercayainya. Maka aku mencari kebenarannya di mesin pencari google. Dari situlah kuketahui itu bukan aktifitas berjabat tangan.

Sebenarnya aku tidak tahu yang kutemukan itu suatu kebenaran atau bukan. Kukira, sekarang sulit untuk mencari kebenaran. Apalagi di dunia maya. Orang-orang dengan mudah menulis, menyebarkan informasi, padahal informasi itu tidak lebih dari hanya sekedar dusta alias mengada-ada.

Meski mungkin yang kutemukan itu bukan suatu kebenaran, tapi setidaknya aku mempercayainya. Aku juga tidak tahu apa yang kulakukan itu sudah benar. Aku hanya meyakininya.

Kupikir-pikir, mungkin para orang tua ingin mengajarkan suatu kebaikan kepada anak-anaknya dengan kisah kalian berjabat tangan itu. Tapi hei, apa benar untuk mengajarkan kebaikan bisa dengan mengada-ada?

Sudah lama aku ingin memberi kalian makan. Baru kemarin pagi aku menyempatkan diri. Maka kubuka sebungkus cokelat Chacha. Kukeluarkan secara acak sebutir dari bungkusnya, warna oranye yang keluar.

Kuletakkan sebutir Chacha Oranye itu di pojok kamarku. Cokelat yang tersisa aku habiskan sambil menonton film di laptop. Sambil nonton, sekali-sekali aku memeriksa Chacha Oranye. Belum ada yang mendatangi. Padahal di lantai kamarku kalian berlarian.

Film yang kutonton sudah habis. Kulihat Chacha Oranye. Ada perkembangan. Ada salah satu dari kalian berada di situ. Aku tidak tahu itu kamu atau bukan, kalian semua terlihat sama.

Aku bosan seharian cuma di dalam kamar saja. Kuputuskan untuk membaur bersama manusia lainnya. Lepas magrib pergi ke toko buku yang ada di dalam mal. Membeli Max Havelaar dengan ada dua penerbit yang menjualnya. Kubandingkan sebentar, kubaca sinopsisnya di kover belakang. Dan kuputuskan untuk membeli yang lebih murah, kovernya lebih bagus.

Kuperiksa lagi Chacha Oranye. Perkembangannya membuat hati senang. Kalian berkerumun di cokelat yang kuletakkan di pojok kamarku.

Perlu diingat, urusanku dengan kalian tidak hanya sekedar memberi makan. Seperti yang sudah kukatakan di awal. Ada hal yang mau kutanyakan kepada kalian. Tenang saja, bukan pertanyaan yang sulit.

Aku sudah dua jam di kafe ini. Mie goreng dan roti bakar cokelat sudah kuhabiskan. Yang tersisa adalah minuman soda yang masih seperempat gelas.

Aku mulai bosan di sini. Menuliskan kisah ini dengan kebisingan suara lagu dari pemutar musik kafe dan suara penjudi-penjudi poker online di meja di depanku yang mengobrol nyaring. Juga wifi yang tidak mau tersambung.

Makanya, tolong lekas dihabiskan cokelat itu. Ini sudah sore. Aku pulang dulu.

Hari keempat. Kuperiksa lagi Chacha Oranye. Aku agak kecewa.

“Hei, di mana kawan-kawanmu?” tanyaku.

Kamu terkejut. Menoleh ke arahku sebentar. Lalu lari ke sembarang arah. Enam sentimeter kemudian kupanggil lagi kamu.

“Ayolah, sebentar saja. Satu pertanyaan.”

Kamu berhenti. “Apa itu?”

“Sudah lama aku memikirkannya. Apa kalian juga kentut seperti kami manusia?”

“Iya. Kami juga.”

“Tolong buktikan.”

“Aku tidak memiliki keharusan untuk membuktikan apapun kepadamu. Lagipula aku bukan semut yang bisa mengontrol sesuka hati kapan aku mau kentut. Tapi baiklah, kuusahakan.”

Brut! 


Maulana Usaid