Tampilkan postingan dengan label Lana Berlari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lana Berlari. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Agustus 2026

Mules Berlari

Ketakutan terbesar saya saat berlari adalah kemunculan hasrat ingin berak. Seperti berlari sore kemarin, mendadak hasrat itu muncul. Padahal sudah berlari 8 km, tinggal sedikit lagi akan sampai 10 km. 

Dengan tenaga yang tersisa saya meneruskan perjuangan. Kali ini yang ada di benak saya adalah Akaza, Iblis Tingkat Atas, karakter antagonis di anime Kimetsu No Yaiba atau Demon Slayer. Sebelum menjadi iblis dia adalah manusia bernama Hakuji. Dia berusaha menjadi lebih kuat untuk melindungi orang-orang yang disayangnya. 

Dia mencuri untuk pengobatan ayahnya. Namun nahas, ayahnya gantung diri setelah mengetahui Hakuji tertangkap lagi untuk yang ke sekian kali dan dihukum dengan dipukuli. 

Perasaan Hakuji sedih bercampur marah saat pulang diberitahu tetangga kalau ayahnya gantung diri. Dia melampiaskan kemarahannya dengan menghabisi 7 algojo yang menghukumnya dengan tangan kosong. Saat itulah dia bertemu dengan Keizo yang mengajaknya jadi murid di dojonya yang tak punya murid. 

Hakuji bertobat. Di dojo, dia berlatih bela diri aliran soryu. Selain itu, Keizo mengharuskannya untuk merawat putrinya, Koyuki, yang sakit. Kemudian berangsur-angsur kondisi Koyuki membaik. 

Hakuji dan Koyuki saling cinta. Keizo berencana menikahkan mereka. Namun nahas, kemalangan kembali menimpa Hakuji. Keizo dan Koyuki mati setelah minum air dari sumur yang telah diracun. Pelaku berasal dari dojo ilmu pedang yang memang tak suka dengan dojo soryu. 

Dengan amarah yang memuncak, Hakuji menghabisi semua pendekar di dojo ilmu pedang seorang diri. Hakuji kehilangan arah. Kemudian muncul antagonis utama, Muzan, mengubah Hakuji menjadi iblis bernama Akaza. Dan ingatannya saat masih manusia lenyap. 

Semangat juang Hakuji yang ingin menjadi lebih kuat memotivasi saya untuk terus berlari meski sambil menahan mules. Kaki yang sudah berat diangkat ini saya paksa melangkah. Perlahan-lahan akhirnya saya berhasil menuntaskan 10 km. 

Sekembalinya ke kantor saya masih sempat minum es sirup dan air ion. Sepuluh menit sebelum magrib saya membereskan hasrat yang tertunda. Saat itu, perasaan saya benar-benar lega. 

Selasa, 28 Juli 2026

Merayakan Lari

Sudah lama saya tidak berlari. Terakhir kali saya berlari adalah tahun lalu, 5 Desember 2025. Kangen juga merasakan sensasi runner's high karena adanya lonjakan hormon endorfin dan endokanabinoid setelah berlari. 

Belakangan ini kepala saya dipenuhi pikiran-pikiran soal pekerjaan dan soal kehidupan. Hobi saya memang merenung, itu yang saya tulis di Daftar Riwayat Hidup terbaru saya. Saya perlu melakukan sesuatu untuk melepaskan apa-apa yang menjejali kepala saya atau bahasa kerennya adalah stress release. 


Kemudian di akhir Juni lalu saya putuskan mulai berlari lagi. Saya jadwalkan setiap  selasa sehabis jam kerja. Seminggu sekali saya rasa cukup untuk saat ini. 


Dua minggu pertama saya berlari 5 km seperti yang biasa pernah saya lakukan dulu. Di minggu ketiga saya rasa saya masih sanggup berlari lebih jauh. Terbukti dengan kaki saya yang terus melangkah hingga 6 km. 


Di minggu keempat saya menambah jarak lagi hingga 8 km. Hari ini atau minggu kelima saya menargetkan harus bisa 10 km. Meski minggu lalu hidung saya agak mampet dan sedikit beringus setelah berlari 7 km. 


Hari ini, setelah kilometer kedelapan kaki saya mulai agak kebas. Tapi kata-kata favorit saya dari Pak Joko Widodo terus memotivasi saya. Saya masih sanggup. Saya masih sanggup. Saya masih sanggup. Dan ketika dua ratus meteran lagi sampai 10 km saya hampir menyerah. Kaki saya sudah berat untuk diangkat. Lagi-lagi kata-kata 'Saya masih sanggup' terngiang di kepala saya. Saya paksakan untuk terus lanjut sampai target yang sudah saya tetapkan. 


Betapa senangnya saya ketika bisa berlari 10 km. Saya yang waktu sekolah dulu lemah dalam pelajaran olahraga lari, tetapi hari ini bisa berlari sejauh itu. Saya langsung melakukan panggilan video via whatsapp kepada istri saya untuk memberitahu pencapaian saya ini. Meski saya tahu tanggapannya mungkin akan terkesan biasa saja. Hahaha. 


Malam ini, selepas menjemput Salman dari rumah Omanya kami pergi Threelight Cakes. Merayakan 10K dengan memakan gelato bersama Salman. Karena mamanya masih di Rantau.

Jumat, 31 Oktober 2025

Menuju 10K

Setelah sepekan lebih paska ikut acara lari PLN 19 Oktober lalu, rabu kemarin saya mulai berlari lagi. Seperti biasa, cukup 5:02 km saja, pace-nya 7:39 /km. Sebenarnya pengin mencoba lebih jauh lagi tapi nanti pulang ke Banjarmasin kemalaman. Jarak tempat saya biasa berlari ke rumah sekitar 45 sampai 50 menit waktu perjalanan. 

Mengenang acara lari PLN yang saya ikuti tempo lalu, ternyata tidak semenakutkan yang saya bayangkan karena bakalan bertemu banyak sekali orang. Saya orang yang bisa minder berada di tengah-tengah orang banyak. Ternyata ketika dijalani saya merasa biasa saja. Karena sepertinya kekhawatiran-kekhawatiran itu hanya ada di dalam pikiran, yang semakin dipikirkan malah semakin membebani pikiran. Padahal ya, jalani saya bila ingin, orang lain juga sebenarnya fokus dengan dirinya sendiri. 


Setelah tujuan untuk ikut acara lari tercapai, saya tidak punya tujuan lari jangka pendek lagi. Hari ini pertama kalinya di hari jumat saya berlari sore sepulang kerja. Iseng, saya mencoba menambah jauh rute berlari. Pada jarak 6:02 km dan dengan pace 7:46 /km saya setop Strava di ponsel. Lalu tetap berlari kira-kira 750 m lagi. Jadi, mulai hari ini saya putuskan untuk sedikit demi sedikit menuju 10K.

Minggu, 19 Oktober 2025

Lari PLN

Perdana ikutan acara lari 5K, saya malah mendapat insiden. Acaranya hari Ahad tanggal 19 Oktober 2025, di Banjarbaru. Penyelenggaranya adalah PLN ULP Banjarbaru. Saya diajak teman saya Sandi. Dia pelari kalcer yang juga seorang ASN. 

"Jerseynya bagus," bebernya. Dia pernah ikut acara Lari PLN bulan Februari 2025 lalu. 


"Gasss!" Jawab saya. 


Saya berencana berangkat pukul 4 Wita. Itu berarti saya sudah harus bangun pada pukul 3 Wita, karena setengah jam untuk membuang hajat, lalu setengah jam lagi untuk mandi dan persiapan. Alhamdulillah saya bangun tepat pukul 3 Wita, dengan penawaran waktu 10 menit. Kemudian berangkat ke Banjarbaru pukul 4.17 Wita. 


Mengendarai Beat Karbu dengan kecepatan 90 km/jam membuat saya sampai di PLN Banjarbaru pada waktu salat Subuh tiba. Saya ke Masjid Al-Ikhlas yang ada di Kompleks Perkantoran PLN dulu bersama orang-orang lainnya yang ingin salat. Selesai salat Subuh, saya pemanasan sebentar lalu beranjak menuju tempat Start. 


Orang-orang sudah banyak berkumpul di tempat Start. Ada muncul sedikit perasaan aneh karena pertama kalinya berkumpul bersama banyak orang untuk berlari. Tapi saya mencoba untuk tetap tenang dan keren. Pada hampir pukul 6 Wita, para peserta lari 10K mulai berlari. Berselang beberapa menit kemudian giliran peserta 5K. 


Kira-kira pada kilometer kedua insiden terjadi, tali sepatu kiri saya lepas. Saya terpaksa menepi untuk mengikatnya kembali. Pada sebelum mulai berlari tali sepatu sudah saya kencangkan. Eh, beberapa ratus meter kemudian dan pada kilometer keempat lepas lagi. Akhhh! Pada saat seperti ini malah sering lepas. 


Sewaktu hampir finish saya menyalakan kamera untuk merekam momen tersebut. Saya melakukan kecerobohan, lupa menyetop Stava. Setelah mengambil air mineral baru ingat. Saya segera menyetop dan menyimpannya. Tercatat lari saya sejauh 5,55 km dengan pace 7:30 /km dengan waktu 41 menit 39 detik. Lebih cepat dari saya latihan rabu lalu: 5,08 km dengan pace 7:43 /km. Untuk hasil resminya pace saya hanya 8:27 /km dengan waktu 42:16.


Ternyata saya bisa menikmati lari yang sebelumnya saya khawatirkan karena tidak terbiasa dengan banyak orang. Lari 5K tidak terasa tahu-tahu sudah hampir finish. Dan lupa menyetop Strava. Dan dapat medali yang bagus karena bisa diputar, bisa jadi mainan Salman. Dan bertemu teman SD, Aldy, sampai jumpa di acara lari yang lain. Boston marathon, mungkin. Hahaha.

Rabu, 08 Oktober 2025

Kaos Kaki

Pagi hari ini bumi bagian Banjarmasin terasa lebih panas daripada kemarin. Mungkin terjangkit oleh Salman. Dia deman. Panasnya naik turun. 

Sejak hari senin dia tinggal bersama saya. Tidak mau ikut mamanya ke Rantau. Berkali-kali ditanyai, jawabannya tetap sama: Salman tinggal saja, mau ke sekolahan Kaka Shanum—sepupu dia, anak dari adik istri saya. 


Di hari rabu ini berarti sudah 3 hari Salman bersama saya. Pagi hari saya ada penambahan aktivitas: mengurus Salman. Dimulai dari membangunkannya yang bisa memakan waktu sampai setengah jam bila sedang rewel. Lalu mengajaknya pipis di wc. Kemudian minum obat. Bila sudah dipakaikan jaket dan topi, berarti keadaan sudah terkendali. 


"Hari ini Salman mau pakai sepatu lagi atau pakai sandal?" tanya saya. 


"Pakai sepatu."


Saya mengambilkan kaos kaki dari jemuran lalu memakaikan ke kaki Salman, "ini kaos kaki gambar mobil Salman sudah kering."


Tanggapan membuat saya senang, terharu, dan bangga. Saya tidak menyangkanya. Patut untuk saya rekam ke dalam cerita. 


"Terima kasih, Babah."


"Sama-sama."


Rabu ini Gusti Irwan Wibowo banget. Maksud saya, seperti lagunya yang viral itu: Hari yang Mantap. Agenda pekerjaan tumpang tindih, sementara ada Pendidikan dan Pelatihan Chatbot AI yang masih saya ikuti. Saya jadi ingin menguasai Kage Bunshin no Jutsu milik Naruto. Atau memiliki robot copy seperti P-Man. 


Sore hari, seperi biasa, saya berganti baju olahraga untuk bersiap latihan lari 5K. Berlari adalah proses mengubah masalah dan pikiran-pikiran yang mengganggu menjadi peluh yang keluar dari pori-pori kulit. Lalu menempel membasahi pakaian dan sebagian lagi menguap ke udara. Kemudian mengeluarkan hormon endorfin, dopamin, dan serotonin. Alhamdulillah, saya masih bisa berlari 5K dengan rincian: 5,05 km dan pace 7:17 /km.

Senin, 06 Oktober 2025

Lari Kocak

Seharusnya kemarin adalah balapan lari 5K pertama saya, fun run. Lari garis bawah gembira nama akun instagram penyelenggaranya. Saya mendaftar pada 31 Juli 2025 lalu karena dipromosikan oleh akun instagram infobanjar titik id. Juga karena saya lihat di profil instagram penyelenggarannya sudah pernah mengadakan acara lari di kota-kota lain. 

Awal bulan Oktober tiba-tiba masuk email dari alamat tidak jelas, a73491657@gmail.com, memberitahukan bahwa peserta Lari Gembira Banjarmasin Series wajib gabung ke grup whatsapp yang baru. Karena nomor admin error dan tidak bisa dipulihkan. Bodohnya saya tidak menaruh curiga dan gabung ke grup tersebut. 


Di grup baru, ada 3 kali pemberitahuan untuk mengajak teman-teman yang belum gabung. Lalu H-2 acara, ada pengumuman penyesuaian jadwal acara, yang awalnya tanggal 5 Oktober 2025 menjadi 26 Oktober 2025. Karena ada persyaratan event yang belum bisa diselesaikan penyelenggara, katanya. Di akhir pengumuman dilampirkan tautan google form untuk yang mau refund. Saya kembali menjadi bodoh dengan mengisi data di google form yang sekarang sudah tidak aktif lagi tersebut. 


Kemudian saya melihat postingan terbaru dari akun yang mempromosikan acara, Event Lari Gembira Banjarmasin diduga penipuan, katanya. Ah, kocak. Pada komentar yang disematkan ada pihak pengelola Stadion Lambung Mangkurat—tempat rencana acara akan dilangsungkan. Mereka tidak menerima pemberitahuan dari panitia tentang acara tersebut, jelasnya. Lengkap sudah kekocakan acara lari yang pertama kali saya ikuti. 


Hari ini setelah seharian mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Chatbot AI secara daring, saya memutuskan untuk berlari. Meskipun mata berat karena mengantuk dan badan lelah karena seharian duduk menatap layar komputer, otak memaksa untuk segera berganti pakaian. Saya sudah ketagihan lari, kata saya kepada senior di kantor yang mengatakan kepada saya joging lebih baik daripada lari. Alhamdulillah, di ujung jalan saya berhasil menyelesaikan lari 5,01 km dengan pace 7:23 /km.

Rabu, 01 Oktober 2025

Lari Hujan

Hari ini saya sudah yakin, pace 6 saya Senin lalu adalah anomali. Hari ini saya berlari sore harus menempuh jarak yang lebih jauh daripada kemarin untuk mencapai 5K. Sedangkan jarak kemarin lebih dekat, di aplikasi sudah mengatakan 5 km. Catatan lari saya hari ini adalah jarak 5:06 km dengan pace 7:13 km. 

Setelah lumayan banyak berlari 5K yang saya lalui, hari ini yang membuat sekujur baju saya sangat basah alias jimus. Padahal hanya lari 5K. Bukan karena peluh, melainkan dominan air dari langit. Iya, saya lari dalam kondisi sedang diguyur hujan gerimis yang lama kelamaan semakin deras saja gerimisnya. 


Hampir saja saya membatalkan rencana lari hari ini. Sebelum lari perut saya mules. Terpaksa saya harus menuntaskannya dulu ke wc. Mungkin karena saya sebelumnya makan cokelat Kinder Maxi yang sudah expired 2 bulan. 


Setelah berganti baju olahraga, saya bersiap pemanasan sebelum lari. Ternyata langit mendung, awan kelabu, disertai angin. Selesai pemanasan, langit pecah, tapi petir tidak dihujamkan ke bumi, rintik gerimis mulai turun. Saya sempat ragu untuk berlari, tapi kaki terus melangkah melupakanmu lelah hati perhatikan sikapmu. 


Saya kadung penasaran, apakah saya benar-benar sudah di tahap belari dengan pace 6 atau tidak. Jadi, ini kali pertama saya berlari sambil berhujan. Asyik juga. Seandainya saja ada yang merekam saya berlari, mungkin saja akan jadi video lari yang sinematik nan dramatis. Sayangnya saya hanya pelari konten yang kontennya hanya foto dan cerita lewat tulisan. Bukan konten yang lebih diminati pada masa sekarang seperti video reels instagram atau tiktok. 


Berlari sambil berhujan juga cukup merepotkan. Karena berkali-kali saya harus menyeka air yang sudah banyak menempel di wajah. Udara panas aspal yang sesekali terhirup saat saya menarik napas juga cukup mengganggu. Dan yang paling menyebalkan adalah berlari menjadi semakin berat karena tekanan hujan dan baju yang mengandung air. 


Sepatu saya juga jadi basah. Saya pikir, saya memang perlu membeli sepatu baru satu lagi sebagai cadangan. Sebenarnya sudah lama saya punya keinginan tersebut tapi masih terlalu banyak pertimbangan. Hari ini saya sudah yakin. Saya juga sudah bercerita kepada isteri. Dia tidak menolaknya dan tidak juga mengiyakan. Kalau tidak salah ingat seperti itu sih.

Senin, 29 September 2025

Pace 6:35

Apa-apaan ini. Sore hari ini saya berlari 5,03 km, kok bisa pacenya tiba-tiba jadi 6:35 /km? Padahal lari beberapa kali sebelumnya pace saya rata-rata hanya 7 menitan. Saya curiga ini anomali aplikasi lagi. Namanya juga buatan manusia. Kalau salah minta maaf. Kalau benar tambah 10 poin. Kalau bulan bisa ngomong dia jujur tak akan bohong, kata Doel Sumbang. 

Syukur alhamdulillah sore hari hujan sudah reda. Setelah siang harinya Banjarbaru diguyur hujan deras. Lengkap disertai angin kencang. Dan tetap reda hingga saya sampai rumah. Kalau sudah sampai rumah tidak apa-apa hujan lagi. Saya sih terserah Allah saja. 

Saya masih kurang percaya pace saya sudah di tahap pace 6. Mungkin di lari selanjutnya bila pace 6 lagi saya akan meyakininya. Besok, saya mau 𝘳𝘦𝘤𝘰𝘷𝘦𝘳𝘺 atau pemulihan dulu. Insyaallah rabu sore saya berlari lagi. Semoga tetap sehat dan cuaca mendukung. Saya sih terserah Allah saja.

Jumat, 26 September 2025

Terus Berlari

Pagi jumat ini saya berlari 5K dengan pace 7:39 /km dan total waktu 38:16 menit. Saya bisa menyombongkan diri kepada diri saya yang berlari di GBK selasa lalu. Saya berlari lebih cepat. Meski pada malam sebelumnya saya begadang hingga pukul setengah 1 pagi, mengerjakan sesuatu yang harus segera saya selesaikan. Tapi saya tidak jadi sombong. Saya tidak pantas sombong ternyata. 

Saya payah dalam bidang olahraga, khususnya lari. Masa ikut ekskul Taekwondo SMA dulu saya pernah ikut seleksi Kejuaraan Nasional Taekwondo. Berlari mengelilingi lapangan SKB Mulawarman sebanyak 8 putaran. Di putaran keempat saya sudah sangat kepayahan. Selanjutnya saya berlari dengan terseok-seok hingga akhir. 


Masa SMP saya mengalami kegagalan yang kurang lebih sama. Lokasi SMP saya berseberangan dengan Gelanggang Olahraga Hasanuddin HM. Guru olahraga membawa saya dan teman-teman ujian lari di sana. Dekat, tinggal menyeberang. Kami berlari per 5 orang. Saya termasuk yang paling lambat di antara 5 orang tersebut. Bahkan teman saya yang perokok jauh lebih cepat daripada saya. 


Hari ini, tentu saja jauh berbeda dengan masa SMA maupun SMP. Sedikit demi sedikit saya akan melampui diri saya yang kemarin. Juga untuk tubuh yang sehat bugar di masa tua nanti. Saya akan mengutip lirik lagu Kapten Tsubasa: Lari lari lari. Tendang dan berlari. Dengan tendangan halilintar dia cetak golllll. 


Di jalan saya menemukan energi gel ketika pendinginan setelah selesai berlari. Energi gelnya sudah ludes, hanya tersisa bungkusnya. Saya jadi penasaran bagaimana rasanya dan apa efek meminumnya.

Kamis, 25 September 2025

Lari Nostalgia

Kemarin saya punya kesempatan menjadi pelari kalcer, yaitu berlari di GBK. GBK yang saya maksud adalah Gelora Bung Karno, Jakarta. Ini bukan pertama kalinya saya ke GBK. Tapi ini pengalaman pertama saya berlari 5K dengan pace 7:50 /km di 𝘫𝘰𝘨𝘨𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘳𝘢𝘤𝘬 GBK. 


Setelah lari saya pergi ke vending machine alias mesin penjual otomatis. Beli Pocari Sweat Rendah Kalori seharga Rp10.000. Bayarnya pakai Qris, saya memilih Gopay. Betapa mudahnya kehidupan dengan teknologi sekarang. Tapi saya jadi bertanya, bagaimana saya melakukan akad jual beli sedangkan penjualnya adalah mesin? 


Kalau orang Banjarmasin pasti terbiasa melakukan akad jual beli dengan berkata 'Makasih, Paman. Ditukar.' bila sebagai pembeli. Atau 'Makasih, dijual', bila menjadi penjual. Kadang, ada juga yang menambahkan dengan 'Minta rela'. Pertanyaan saya tak terjawab, karena saya bertanya kepada diri sendiri yang tentu belum tahu apa jawabannya. 


Pada malam harinya saya ketemuan dengan Haji Abuk alias Tirta. Kawan SMA yang bekerja dan menetap di Jakarta. Sayangnya teman saya yang satunya Ucup alias Yusuf tidak bisa ikut. Jadi, saya hanya berdua dengan Abuk. 


Abuk menjemput saya ke hotel untuk pergi makan malam ke Warteg di Benhil alias Bendungan Hilir. Lepas makan kami menyeberang ke angkringan. Memesan 2 jahe panas. Harganya Rp8.000 segelas. 


Lidah saya masih latang sampai sekarang. Dalam setiap sesapan jahe panas mengalir obrolan dua medioker. Soal masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. 


Masa lalu: Tentu saja kami membicarakan ekskul Taekwondo yang pernah kami ikuti masa SMA dulu. Abuk pernah menjadi Ketua waktu kelas XI. Lainnya mengenang masa SMA dan sedikit masa SMP. Kami juga satu SMP. 


Masa sekarang: Saya pamer olahraga lari yang saya jalani. Juga pamer saya menjadi MC meski pemalu. Dia juga pamer menjadi pembaca doa pada suatu acara. Itu hal yang sederhana tapi bagi kami itu sesuatu yang hebat. 


Masa depan: Abuk bercerita impiannya pada perkopian yang sedang dikerjakannya semaunya. Saat ini dia berjualan kopi giling dan kopi botolan secara tidak konsisten. Nanti, dia mau punya kedai kopi sendiri beserta dua barista. Nama tidak resmi kopi botolannya adalah Kopi Ananta Botol dan ada singkatannya. Tapi saya tidak mau menuliskan singkatannya.

Rabu, 17 September 2025

Pace Anomali

Sudah saya duga. Ini terasa anomali. Senin lalu saya berlari 5K bisa pace 7:00 /km, dengan 1 km pertama dicapai dengan waktu 3:05. Cepat sekali. Saya belum bisa berlari secepat itu.

Hari ini saya berlari sore lagi. Dengan kondisi tubuh yang lebih fit daripada senin lalu. Saya berlari 1 km pertama dengan mencatat waktu 6:45. Ini lebih masuk akal. Lalu pace berlari 5K saya adalah 7:42 /km.

Entah apa yang membuat Strava kemarin salah hitung. Saya menganggapnya sebagai bug—kesalahan atau cacat dalam sebuah aplikasi sehingga tidak berfungsi dengan baik. Tapi saya rasa suatu saat nanti pace saya akan benar-benar seperti yang dicatatkan Strava senin lalu. Lihat saja nanti.

Senin, 15 September 2025

Alhamdulillah 5K

Bulan Juli kemarin saya sedang lumayan aktif berlari 5K, yaitu 3 kali. Bulan selanjutnya saya ikut pendidikan dan pelatihan digital selama sepekan. Setelah itu musim hujan. Hujan turun tiap sore. Jadi saya tidak berlari di bulan Agustus, kecuali di awal bulan. Saya berlari di Rantau. Mengelilingi siring Rantau Baru. Itu pun hanya 1,93K.

Hujan sudah jarang. Bulan ini saya kembali berlari. Masih tipis-tipis. Jumat lalu saya berlari pagi. Saya kepayahan pada jarak 2,69K. Tidak saya paksakan. Akhirnya saya lanjutkan dengan berjalan menuju warung makan. 

Sore ini, seperti biasa, saya berlari sepulang bekerja. Pemanasan sebentar. Berjalan ke depan kantor, mengaktifkan Strava, lalu mulai berlari. Awalnya pelarian saya berjalan lancar. Kemudian setelah 3K ke atas perut sebelah kanan saya terasa keram. Tapi otak memaksa untuk tetap lanjut. 

Ketika saya menambah kecepatan lari, keram di perut juga bertambah. Kecepatan pun saya kurangi sambil mengayunkan kaki dengan gontai karena sambil menaham keram di perut. Saya dilema. Ingin langsung berhenti saja tapi ingin juga berhenti di 5K. Akhirnya pelan-pelan ternyata saya bisa juga mencapai 5K dengan pace 7:00/km. Alhamdulillah. Saya masih bisa berlari 5K.

Rabu, 30 Juli 2025

Pace 7

Setelah target lari berubah, yaitu ingin pace menjadi 7 menitan, saya rasa perlu memasang aplikasi baru pelacak aktivitas olahraga. Tepat sebelum memulai lari sore hari ini saya memasang aplikasi populer Strava. Agak sedih sebenarnya meninggalkan aplikasi bawaan Infinix yang telah membersamai hingga saya kuat berlari 5 kilometer. 

Hari ini saya hampir menyerah di kilometer 2,4. Perut sebelah kanan saya mendadak kram. Ingin berhenti saja tapi sudah separuh perjalanan. Saya paksa tetap berlari. Saya pelankan kecepatan hingga berangsur-angsur kramnya berkurang. Lalu saya tambah lagi kecepatan semampunya. 

Di kilometer keempat nafas saya mulai berat. Kedengaran nyaring di telinga. Saya jadi teringat dengan adegan lari di film Children of Heaven. Film asal Iran yang saya tonton di televisi Digitec Ninja semasa SD dulu. Adegan ikonik seorang kakak laki-laki yang harus bergantian memakai sepatu sekolah dengan adiknya karena miskin. Ketika pulang sekolah dia tanpa sengaja menjatuhkan sepatunya di selokan yang airnya mengalir. Ini membuatnya harus berlari mengejar sepatu yang terbawa arus air. Sementara adiknya di rumah sedang menunggu sepatunya untuk segera dipakai ke sekolah. Seingat saya seperti itu ceritanya. Nafas tersengal-sengal saya mengingatkan saya dengan bunyi nafasnya yang sedang mengejar-ngejar sepatu. 

Tak disangka, di hari pertama saya menggunakan Strava pace saya tembus 7:57/km. Sedikit lebih cepat daripada Senin kemarin. Perasaan gembira saya mirip dengan ketika saya kuat berlari 5 kilometer untuk pertama kalinya pada September 2024 lalu. Meski di akhir saya hampir muntah karena mendadak berjalan setelah berlari kencang. Sebisa mungkin saya tahan untuk tidak muntah. Tentu saja saya malu kalau dilihat orang.

Target Berubah

Tahun 2024 lalu saya menantang diri saya sendiri. Dalam waktu 1 bulan saya harus kuat berlari sejauh 5 kilometer. Saya jadwalkan pada senin, rabu, dan jumat. Lari pertama sangat payah. Saya lejar hanya untuk bisa mencapai 1 kilometer saja. Kadang sambil berjalan, lalu lari lagi. Lari selanjutnya meningkat. Begitu seterusnya hingga akhirnya saya bisa berlari sejauh 5 kilometer tanpa henti di akhir bulan September. Saya diliputi kebahagiaan waktu itu. Tidak peduli dengan kecepatan rata-rata yang hanya 9 menitan. Asal sudah kuat berlari 5 kilometer saja saya rasa sudah oke. Alhamdulillah. 

Musim hujan tiba. Seringkali hujan deras turun di sore hari. Hampir setiap hari dan tepat di hari jadwal saya akan berlari. Saya terpaksa berhenti dulu. Setelah lama tidak lari, rabu lalu saya mulai kembali. Alhamdulillah, saya masih kuat berlari 5 kilometer dengan kecepatan rata-rata yang meningkat jadi 8:58/km. Hari ini meningkat lagi ke 8:12/km. 

Lari 5 kilometer sudah tercapai. Target diperbarui. Sekarang saya ingin menaikkan kecepatan rata-rata menjadi 7 menitan. Semoga bisa. Lan, lari, Lan!

29 September 2025

Rabu, 23 Juli 2025

Uyuh Tapi Rami

Sore hari ini tidak hujan, jadi saya bisa menjalankan rencana untuk berlari sepulang kerja. Ternyata saya masih sanggup lari 5 km meski sudah lama tidak berlari, dengan kecepatan rata-rata 8 menitan. Meningkat semenit dari lari April lalu, 9 menitan. 

Saya tidak melewati area para fotografer bersiap memfoto. Akibatnya saya tidak bisa pasang aksi pura-pura cuek ketika melewati mereka tapi diam-diam menghafal nama akun instagram yang mereka pajang. Kemudian malam harinya saya akan mengecek story instagram mereka. Lalu masuk ke tautan google drive. Mencari-cari foto yang ada sayanya dengan cermat di antara foto lainnya. Bila saya rasa bagus dan keren akan saya tebus. 


Saya sengaja melewati area sunyi. Saya tidak terlalu suka banyak orang dan tidak sedang ingin difoto. Lagipula saya punya bukti yang bisa saya pamerkan bahwa saya benar-benar lari 5 km. Tepatnya 5,45 km. Karena di ponsel saya punya aplikasi bawaan yang bisa melacak data olahraga, termasuk lari. Sebenarnya saya ingin memasang Strava yang terkenal itu, tapi karena ukurannya yang lumayan besar, 60 Mb, saya urung melakukannya. Masih belum perlu. Lebih baik memanfaatkan yang ada saja. 


Ada yang bertanya, lebih baik lari atau jalan cepat? Sama-sama baik sih, ketimbang tidak olahraga. Sesuai selera saja, yang penting sesuai kemampuan. Kalau hanya mampu jalan cepat, ya lakukan itu. Tapi kalau dikejar anjing gila, ya lari secepat mungkin. Sambil teriak: Dasar Anjiiinggg! 


Saya pernah dikejar anjing bersama teman saya Gusti waktu bekerja di Palangkaraya 2014 lalu. Beruntung kami sedang berada di atas Beat Karbu. Saya langsung tancap gas hingga keluar dari gang tempat si anjing bertempat tinggal. Di lain hari kami dikepung 3 atau 4 ekor anjing sewaktu mau putar balik motor keluar dari gang. Anjing-anjing itu menyalak tanpa henti. Sementara si pemilik anjing yang bejenis kelamin perempuan dan bermata sipit tersebut hanya diam menonton kami yang berusaha terlihat tenang meski sebenarnya gugup. 


Berlari dan melarikan diri adalah hal yang berbeda tapi memiliki kesamaan. Sama-sama melelahkan ketika melakukannya. Dan terasa melegakan ketika menyudahinya. Kesamaan lainnya adalah: uyuh tapi rami.

Senin, 14 April 2025

Lawas Kada

Setelah cukup lama tidak berlari, hari ini saya berlari lagi. Cukup lama yang saya maksud adalah hampir setengah tahun. Seperti biasanya, saya melakukannya sore sepulang kerja. Alhamdulillah, 5 kilometer bisa saya selesaikan. 


Sebenarnya saya tidak menargetkan harus 5 kilometer. Ini baru memulai lagi. Masih pembiasaan. Setelah 2 kilometer langkah saya lumayan berat. Tapi saya tidak puas kalau hanya di bawah 5 kilometer. Saya rasa masih bisa hingga 5 kilometer. Oleh sebab itu, dengan susah payah akhirnya sampai juga di garis akhir. 


Sama seperti sebelumnya, saya masih menghitung jarak dengan aplikasi bawaan yang ada di handphone saya. Malas untuk memasang aplikasi populer seperti Strava atau Relive. 


Jam tangan saya juga masih jam tangan digital biasa. Jam tangan Casio F-91W yang tinggal mesinnya saja yang asli. Talinya sudah berkali-kali diganti karena putus dan casingnya 1 kali diganti karena lapuk. Saya masih setia dengan jam ini karena cukup kecil dan ringan, tidak membebani lengan ketika dipakai lama. 


Bila konsisten berlari sepertinya saya akan mempertimbangkan membeli jam tangan pintar. Itu pun kalau ada uangnya. Hahaha. Demi perhitungan yang lebih akurat. 

Senin, 30 September 2024

Lari Selama Sebulan

Hari ini saya berhasil menyelesaikan tantangan kepada diri saya sendiri, yaitu: Lari Selama Sebulan. Tantangan ini muncul setelah saya menonton video youtube Agusleo Halim yang berjudul Hasil Lari Pagi Selama 30 Hari. 

Berawal dan berakhir di hari Senin, tanggal 2 September dan 30 September 2024. Saya menjadwalkan lari pada hari Senin, Rabu, dan Jumat. Kecuali hari Senin dan Rabu pada pekan ketiga, waktu itu saya libur lari karena ada kesibukan. 

Pada awal saya memulai lari, untuk mencapai 1 kilometer saja rasanya berat sekali. Saya ngos-ngosan ketika baru 900-an meter, dan tidak sanggup lagi melanjutkan lari. 

Namun, perlahan saya bisa berlari sejauh 1 kilometer. Perasaan saya sungguh senang waktu itu. Kemudian naik menjadi 2 kilometer, 3 kilometer, 4 kilometer, dan hari ini rekor pertama saya mampu berlari sejauh 5 kilometer. Alhamdulillah, saya senang luar biasa. Rasanya seperti tidak mungkin saya bisa melakukannya. 

Meski kecepatan rata-rata saya hanya 9 menitan, tapi tidak apa-apa. Itu sudah cukup hebat bagi saya. Nanti akan saya tingkatkan lagi, insyaallah. 

Kepada Bang Agusleo Halim, terima kasih. Saya akhirnya berlari, setelah beberapa tahun yang lalu berlari hanya ada di angan dan ingin saja. 

#LaRUN #LanaBerlari