Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2018

Mencari Hikmah

Hai, Mila. Apa kabar? Semoga bangun tidurmu dalam keadaan tenang dan bahagia.

Bumi ini dipenuhi dengan orang-orang yang patah hati, Mila. Perasaannya dihancurkan, membuat lubang yang kita sebut luka, kemudian dipulihkan kembali oleh waktu yang entah kapan dan pengalaman-pengalaman. Kemudian patah hati lagi. Pulih lagi. Patah hati lagi. Berkali-kali patah hati. Berkali-kali pulih. Hingga muncul imunitas di dalam hati dan menjadi terlatih, meski sebelumnya harus tertatih.

Hidup di bumi ini benar-benar aneh, Mila. Setiap momen perjalanan kehidupan ini pasti saling berkaitan dengan momen lainnya. Ada suatu rencana yang batal dikerjakan dan lantas akhirnya mengerjakan sesuatu yang lain. Kukira karena memang seharusnya begitu. Batalnya mengerjakan sesuatu hanya sebagai penyebab.

Suatu kali aku jalan-jalan ke toko buku yang ada di dalam mall. Kamu tahu namanya. Hanya ada satu mall di kotaku yang ketika hari minggu parkirannya penuh sekali.

Ketika sudah mau pulang karena sudah kelaparan tiba-tiba aku bertemu dengan seseorang yang sebelumnya kami pernah membuat janji untuk bertemu namun gagal. Tapi dalam suatu kesempatan yang tidak direncanakan kami malah bertemu. Sedangkan waktu itu mukaku sudah dalam kondisi yang awut-awutan.

Seminggu kemudian aku ke mall lagi untuk menonton film di bioskop yang ada di sana. Saat film masih separuh perutku terasa lapar sekali. Setelah nonton aku berencana akan makan ayam goreng di restoran amerika. Tetapi ada yang lebih penting, ketika pesan whatsapp masuk dari mamaku yang minta jemput di rumah nini. Aku urungkan niat makan ayam goreng amerika. Dan tanpa aku duga sebelumnya malah bertemu dengan seseorang di eskalator yang kami sudah lama tidak berkomunikasi. Aku turun, sedangkan dia naik. Hai!

Beraneka macam persoalan berebut memenuhi kepala, berharap menjadi yang diprioritaskan. Persoalan ini, persoalan itu, membuat kepala pusing. Mereka tidak mau tahu kalau tidak bisa dibereskan bersama-sama. Tanganku hanya ada sepasang, kanan dan kiri. Iya sih ada dua puluh pasang lagi, di dalam khayalanku.

Perasaan datang silih berganti. Hidup tidak melulu soal senang. Ada kalanya menjadi sedih. Dan sedih tidak selamanya. Kadang bisa juga marah. Dan manusiawi bila ketiak basah setelah beraktifitas.

Pada akhirnya, dalam upaya penerimaan, aku mencari di mana hikmah. Kamu tahu di mana hikmah bersembunyi, Mila? Besok, akan menjadi hari yang lain.

Sabtu, 14 April 2018

Bayi Ajaib

Hai, Mila. Apa kabarmu?

Mila, apa kamu pernah merenungkan manusia? Aku pernah. Dan itu menyebabkanku berseru: Ajaib sekali manusia. Dia titipkan air kehidupan kepada kekasihnya yang perempuan di suatu tempat yang sunyi dengan cara yang sah lagi baik. Maka perut kekasihnya itu akan membesar. Kemudian dari perempuan itu lahir manusia yang disebut bayi, yang disayangi, dikasihi, dicintai. Manusia pemilik bayi akan disebut orang tua, yang tidak boleh berkata kasar kepadanya walau sekadar 'ah' atau 'cih' sekalipun.

Ajaib sekali bayi. Ketika hati sedang gundah dan lelah, memandangi ia yang sedang tidur seketika hati berubah hangat. Tenang. Hilanglah penat atas kehidupan duniawi yang dijalani seharian. Mengajaknya bicara menimbulkan titik-titik rasa gembira di dalam hati. Rasa yang sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata, tetapi sangat mudah untuk dirasa. Entah suara macam apa yang diocehkan bayi, itu sudah cukup untuk membuat tertawa. Entah juga ia mengerti atau tidak apa yang diucapkan oleh orang dewasa kepadanya. Mengobrol dengan bayi adalah pekerjaan yang menyenangkan.

Ia menangis bila ingin memberi tahu bahwa lapar. Ia menangis bila ingin memberi tahu bahwa haus. Ia menangis bila ingin memberi tahu bahwa pipis dan berak. Ia menangis bila ingin diajak jalan-jalan. Ia menangis bila ayunan berhenti bergerak. Karena memang ia belum pandai berbicara seperti orang dewasa. Belum pandai merangkai kata-kata menjadi indah didengar. Ia hanya bisa mengoceh tidak keruan dan menangis.

Melihat ia rasanya seperti tidak ingin ia pernah menjadi besar saja. Tetap bayi selamanya. Dan itu hanya sebuah keinginan yang tidak akan pernah menjadi nyata, kecuali bayi meninggal sebelum ia sempat menjadi besar. Itu benar-benar sesuatu yang menyedihkan. Tetapi ketika melihat ia tumbuh menjadi besar, rasanya itu seperti hal yang tiba-tiba. Baru semalam melihat ia bisa mengoceh, sekarang sudah bisa tiarap. Kemudian bisa berdiri. Bisa berjalan, bahkan berlari. Itu akan menimbulkan keharuan.

Ketika mulai tumbuh besar, bersama itu juga terkadang ia bisa menyebalkan. Dan orang dewasa sering memakai pemahamannya sendiri dalam menyikapinya, sedangkan bayi belum mencapai pemahaman itu. Jadilah orang dewasa marah seakan-akan bayi yang mulai tumbuh itu mengerti.

Ketika ia sudah bisa berjalan, berlari dan lancar berbicara seperti orang dewasa, ia sering melakukan tindakan-tindakan yang lucu dan konyol. Di luar dari yang sempat dipikirkan oleh orang dewasa. Ia berperilaku sesuai dengan imajinasi dan rasa ingin tahunya.

Ketika ia benar-benar tumbuh menjadi orang dewasa, terkadang bisa menjadi orang yang menyebalkan sekali. Berbuat sekehendak hati. Tidak memedulikan perasaan orang lain demi kesenangan sendiri.

Dalam penjalanannya hingga mencapai orang dewasa akan selalu menemui irisan pertemuan dengan orang lain. Dan kita manusia bertemu dengan manusia lainnya sesuai dengan cerita yang sudah dituliskan. Pertemuan-pertemuan memiliki batas waktunya sendiri-sendiri. Ada yang bertemu hanya untuk waktu yang sebentar lalu berpisah untuk menciptakan pertemuan dengan yang lain. Ada yang dituliskan untuk bertemu dalam waktu yang lama untuk kemudian berpisah juga akhirnya. Lalu kita, Mila, apa pertemuan kita bisa bertahan sampai salah satu di antara kita mati lalu nanti dihidupkan lagi dan bertemu kembali di kampung akhirat? Aku tahu kamu tidak punya jawabannya. Tapi mungkin, kamu punya keinginan yang sama denganku?

Senin, 27 November 2017

Kepada Mila Lagi


Mila, apa kabarmu?

Apa kabar. Pertanyaan yang klise. Tapi itu kalimat yang cocok untuk diungkapkan kepada orang yang sudah lama tidak bertemu. Dan seringkali mendapat jawaban: baik. Padahal dibalik jawaban baik mungkin saja tidak benar-benar baik. Kelihatan baik-baik saja belum tentu memang baik-baik saja.

Beberapa orang pandai sekali menyembunyikan kesedihan. Tak nampak dari wajahnya yang tenang. Kamu juga kan, Mila? Mengaku saja, di mana kamu menyembunyikan kesedihan? Apa di bawah lipatan pakaian di dalam lemari? Atau bank konvensional? Atau malah di bank syariah dengan akad wadiah?

Aku rasa malam ini adalah waktu yang cocok untuk menonton film yang kutunggu-tunggu, Mila. Menonton di bioskop di dalam mall bersama orang-orang yang sudah membeli tiket dengan harga mahal.

Apa kamu sudah menontonnya, Mila? Film yang gayanya seperti film-film koboi barat itu. Aku tahu kamu suka film-film koboi. Kamu pernah bilang bahwa kamu suka melihat koboi melakukan aksi saling tembak. Katamu, aku suka sekali kalimat di film The Good, The Bad and The Ugly. "Apa itu?" Tanyaku. "Bila kamu harus menembak, tembak. Jangan banyak omong," katamu.

Setelah film selesai aku singgah ke toko buku. Melihat-lihat buku, mencari-cari buku yang akan membuatku tertarik untuk membelinya.

Aku menemukan 1 buku menarik. Cetakan ketiga, bulan September 2017. Buku yang dulu pernah ingin kubeli tapi tidak jadi karena tidak ada duit. Dan akhirnya lupa. Buku itu kuambil dan kubawa ke kasir.

Sewaktu mencari kasir, aku tidak sengaja saling tatap dengan perempuan berbaju hitam dan berkerudung yang aku lupa bermotif apa yang berdiri di rak sebelah sana. Kulihat ia seperti seseorang yang salah tingkah. Salah tingkah yang pasti bukan karena melihat lelaki ganteng rupawan. Aku bukan golongan lelaki seperti itu, kamu tahu. Kukira ia salah tingkah karena merasa pernah melihat atau bertemu lelaki yang saat ini saling tatap dengannya entah di mana sebelumnya. Kejadian itu sangat singkat. Mungkin 3 detik. Aku berlalu mencari kasir yang berubah posisi letaknya. Hingga akhirnya aku temukan setelah bertanya kepada perempuan yang rambut panjangnya diikat. Aku tahu dia pegawai toko buku hanya dengan melihat baju yang ia kenakan. Tapi aku tidak merasa menjadi seperti Sherlock Holmes.

Di luar ternyata gerimis sudah menjadi hujan. Orang-orang banyak yang memilih untuk berteduh setelah membayar parkir. Mataku mencari-cari jalan keluar. Petugas parkir mendatangiku. Di sana, Pak, kalau mau berteduh. Atau mau berhujan? Aku jawab dengan anggukan kepala sambil bergumam hmm. Kemudian ia mempersilakan aku. Lewat sini, katanya.

Di bawah hujan aku ucapkan doa: Allahumma shoyyiban nafi'an. Hujan yang tidak terlalu deras itu memberiku rasa senang. Aku tidak tahu kenapa. Aku mulai bersiul menirukan musik di film yang baru saja kutonton. Aku baru tahu, bersiul di bawah hujan itu sulit. Sulit untuk membuat suara siul yang bagus dan nyaring. Di bawah hujan, suara siul jadi melempem. Kalau kamu tidak percaya, coba saja. Itu pun kalau tidak dilarang mamamu mandi hujan dengan alasan nanti sakit. Kecuali kalau kamu orang yang nekat.

Kamu orang yang nekat kan, Mila? Ayo kita mandi hujan sampai gigi bergemelutuk. Berjoget-joget dengan gerakan asal. Ketawa-ketawa, walau mungkin menyimpan beberapa luka. Mengering air mata, menjadi tahi mata.


Sabtu, 25 November 2017

Kamis, 22 Juni 2017

Rintik Hujan

Jadi, ada berapa rintik hujan yang sampai ke bumi hari ini? Aku coba menghitungnya. Azan isya sudah diperdengarkan oleh muadzin melalui pengeras suara masjid. Waktu itu hujan lumayan deras, tapi tidak terlalu. Aku berlindung dari hujan di bawah payung motif kotak-kotak yang kupegang dengan tangan kanan. Meski begitu, tempias hujan tetap mengenaiku. Kudongakan sedikit kepala. Dengan bantuan lampu jalanan, jelas kulihat hujan berjatuhan serupa jarum-jarum. Aku coba menghitung rintiknya. Satu dua tiga empat lima. Satu dua tiga. Satu dua. Ah, cepat sekali hujan itu jatuh. 

Hujan sudah turun sejak sore. Sehabis asar. Kira-kira pukul 4 lewat 17 menit. Tik. Rintik hujan pertama jatuh ke bumi. Kemudian diikuti rintik-rintik lain sekian mili detik berikutnya. Gerimis, lalu menjadi deras. Kejadian itu begitu cepat sehingga tidak ada yang menyadari. Dan aku rasa tidak ada yang memedulikannya. Yang dipedulikan orang-orang ketika turun hujan adalah berteduh atau menambah laju motor atau mengambil jemuran atau memakai jas hujan atau membereskan dagangan atau melanjutkan tidur atau apa saja yang dimaui. 

Sesampainya di musala, segera aku mengatup payung dan mengikuti jamaah salat isya. 

***

Aku jadi teringat percakapan denganmu waktu itu, Mila. Waktu yang aku sudah lupa kapan. Aku bisa melupakan waktu. Tapi waktu bisa membuatku lupa. 

"Apa kamu tidak sedih?" tanyamu kepadaku. 

"Kenapa?" tanyaku balik. 

"Apa kamu tidak sedih ketika tidak bisa salat berjamaah di masjid? Apa kamu tidak sedih ketika mendengar azan dan iqamah, kamu tidak bisa mendatanginya? Dengan segala macam alasan duniawi. Pernah kulihat Si Kakek melangkah ke masjid begitu mendengar azan, meski ia bungkuk. Ada juga pemuda yang berjalan dibantu tongkat, kaki kirinya cacat, ia tetap ke masjid. Ada juga anak kecil yang belum tahu tentang agama, senang ke masjid. Apa kamu tidak sedih mendengar kabar bahwa jamaah masjid adalah angkatan 45? Kalau tidak berempat, ya berlima. Apa kamu tidak..... "

"Sudah, Mila. Sudah."

"Kenapa?"

"Itu sudah azan, aku mau ke masjid."

"Ikut."

***

"Jadi, ada berapa rintik hujan yang sampai ke bumi hari ini?" tanya Mila. 

"Ada banyak. Aku tidak sanggup menghitungnya. Kukira lebih baik menikmatinya saja daripada mempermasalahkan bilangannya."

"Mudah-mudahan hujan yang bermanfaat," sahut Mila. 


Kamis, 22 Juni 2017

Kamis, 26 Januari 2017

Ulangan Harian


1

Dan benar kukira, Mila, hidup di bumi penuh dengan aneka macam kemungkinan. Bagaimana pun, kita mesti siap. Kita tak pernah mengira dan menyangka sebelumnya: Pada suatu subuh handphone berbunyi ketika kamu tiduran di atas ranjang sambil mendengarkan radio. Panggilan masuk itu mengabarkan sebuah berita duka. Kamu mesti siap. Paling tidak, siap untuk membiarkan air mata keluar. Dan juga mungkin, uang.

Kita di bumi, kukira hanya mengulang ulang hari saja, Mila. Hari ini kamis. Tujuh hari kemudian akan kamis lagi. Begitu terus, sampai kita habis. Dan tiga hari lagi adalah minggu. Hari di mana sebagian orang ketakutan akan datangnya hari setelah minggu. Kamu tahu, dari situ muncul lelucon yang bunyinya: Besok senin. Atau yang ini: Kenapa dari senin ke minggu memerlukan 6 hari, sedangkan dari minggu ke senin sehari saja?

Hari ini sudah 2017 tahun masehi. Tahun lalu aku bisa membaca hanya 20 buku saja. Tapi masih lebih banyak dari tahun 2015 yang hanya 12 buku. Aku sudah membaca 2 buku di tahun ini, berarti harus membaca 18 buku lagi supaya paling tidak, sama dengan tahun lalu. Untuk judul buku apa saja aku rasa tidak perlu kuberi tahu. Kecuali bila kamu menanyakannya.

2

Atas dasar apa aku menyukai gorengan yang ikut berperan dalam munculnya kolesterol? Yang beraneka macam namanya: tahu isi, bakwan, pisang goreng, singkong dan lainnya yang tak ingin aku sebut karena malas. Yang digoreng dengan minyak yang sama berulang-ulang. Yang apa lagi?

"Yang semakin renyah tahan lama semakin dicurigai digoreng bersama plastik. Yang banyak micinnya," kata Arin.

Yang akan tambah enak kalau dimakan bersama petis. Tanpa petis, akan berasa seperti ada yang kurang. Seperti ketika aku makan gorengan di Jalan Dagen, Jogja.

Kadang-kadang aku berpikir, untuk apa aku memposting sesuatu ke internet. Mencari perhatian, hiburan, pamer atau bukti eksistensi atau yang lain-lainnya kah. Memikirkan alasan-alasan itu seringkali membuat kepalaku pusing. Pikiranku ke mana-mana dan acak. Tidak jarang aku membatalkan untuk menekan tombol 'post'.

Tahun-tahun yang lalu dan apa-apa yang menyangkut dengannya biarlah sudah. Semoga kita membaik. Terima kasih, Mila. Dan ini terima kasih sentimental yang berasal dari dasar perasaan. Dan mungkin saja terima kasih terakhir. Apa begitu, Mila?  


Kamis, 26 Januari 2017

Kamis, 03 November 2016

Naik Ojek

1

Apa kabarmu, Mila? Bagaimana pun aku selalu punya cara untuk membuat segalanya menjadi oke. Tapi kali ini gimana ya, sulit untuk menjelaskannya. Seperti diriku yang biasanya menghilang. Seperti sulit untuk mengeluarkan emosi. Seperti ingin menangis tetapi tidak bisa.

Perasaanku benar-benar berantakan. Ada apa ini. Aku benar-benar kacau. Aku merasa seperti seorang alien yang baru datang ke bumi. Tidak mengenal siapa-siapa di sini. Tidak tahu bagaimana orang bumi berkomunikasi. Tidak mengerti terhadap apa-apa yang dilakukan orang bumi. Bahkan sebenarnya aku tidak sepenuhnya yakin itu yang dirasakan seorang alien ketika pertama kali datang ke bumi.

Aku tidak bohong ketika kubilang bahwa: sulit untuk menjelaskannya. Beraneka macam kondisi memenuhi kepalaku. Aku sedang berusaha menjelaskannya, dengan koleksi kosa kataku yang terbatas. Aku yakin, bahkan tidak sampai seperempat Kamus Besar Bahasa Indonesia yang tebal itu. Aku juga tidak pernah mengira sebelumnya bahwa ada kata langgas dalam bahasa Indonesia.

Aku temukan kata langgas di postingan orang di instagram. Aku tahu kamu penasaran dengan arti langgas tetapi terlalu malas untuk mencari artinya dengan hanya mengetik 'arti langgas' di google sekalipun. Tidak penasaran pun tidak apa-apa. Namun, sekarang aku sedang berbaik hati ingin menuliskannya di sini. Langgas adalah tidak terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang; bebas.

Kukira, aku perlu waktu dengan diriku sendiri. Aku tidak tahu berapa waktu yang kuperlukan. Salah satu usaha yang kulakukan adalah keluar dari kamar, turun menuju lobi hotel. Kemudian duduk sendirian di coffe shop menghadap jalan melihat-lihat orang lalu lalang melalui kaca.

Perutku memberi tanda bahwa aku sedang lapar. Menyuruhku untuk memesan bakso di depan hotel. Ketika Si Bapak menuangkan semua yang diperlukan ke dalam mangkuk, baru aku tahu bahwa itu adalah pentol kuah. Bukan bakso seperti yang aku sangka.

"Minimarket dekat sini di mana ya, Pak?" Aku bertanya karena sebenarnya memang tidak tahu.

Setelah membayar sepuluh ribu kepada Si Bapak, aku menuju arah yang ditunjukkannya. Sebelum menemukan minimarket aku mendapati gerobak yang menjual minuman. Di situ aku membeli sebotol air mineral. Kemudian berbalik arah setelah ditunjukkan penjualnya di mana tempat Toko Gunung Agung. Tapi begitu tiba di sana, yang kudapati adalah Toko Wali Sanga. Aku tetap masuk dan kemudian keluar setelah tidak menemukan ada yang menarik, kecuali seorang pegawai perempuan yang mukanya kearab-araban mengenakan seragam hijau dan kerudung hitam.

Aku berjalan lagi, melewati hotel tempatku menginap dan berhenti di depan bangunan yang ada tulisan Toko Gunung Agung di depannya. Di sana aku membeli Diary Si Bocah Tengil #6 yang kemudian aku baca sambil duduk-duduk di coffe shop.

Aku jadi ingat orang-orang yang menenangkan pikiran dengan duduk melamun sambil menghisap rokok. Kebetulan di coffe shop menjual rokok. Aku beli sebungkus beserta koreknya. Kuapit rokok di bibirku, lalu kubakar ujungnya. Setelah itu apa, mulutku mengeluarkan asap berbau tembakau. Kemudian suara orang konvoi menghentikan khayalanku.

Buku kututup. Aku kembali ke dalam kamar.

Bila aku tertawa ketika mendengar leluconmu, mungkin aku sedang berusaha terlihat tenang, tetapi nyatanya aku sedang kacau balau.


2

Ketika aku sedang mengetik untuk membalas pesan kawanku di BBM tiba-tiba datang suara dari sebelah kiriku, "Ojek kah, Cu?" (Ojek ya, Cu?)

Setelah kutengok ke kiri sambil menyimpan handphoneku ke saku baru aku tahu siapa yang mengira aku tukang ojek. Dia nenek, bungkuk, dan terlihat  tua. Aku pernah melihat ia sebelumnya. Dia tinggal satu gang denganku.

"Kada ni ai. Handak ke mana pian?" aku menjawab. (Bukan, Nek. Mau ke mana nenek?)

"Antarakan aku ke parak Pasar Binjai. Kena kubari 5 ribu." (Antarkan aku ke dekat Pasar Binjai. Nanti kukasih 5 ribu.)

"Kadusah ni ai. Si nah ulun antarakan. Ulun handak ke pekapuran jua." (Nggak usah, Nek. Ayo saya antarkan. Saya mau ke Pekapuran juga.)

"Mun kaitu, antarakan ke Melati 1." (Kalo gitu, antarkan saya ke Melati 1.)

Di jalan, Si Nenek tanya apakah aku sudah kerja. Aku juga tanya apakah si nenek mau ke rumah anaknya. Aku bertanya supaya seakan-akan aku seperti ingin mengetahui tentang hal yang berhubungan dengan Si Nenek.

"Mudahan ikam ditolong jua kena. Bahari, mun menolong urang ditolong urang jua." (Mudahan kamu ditolong juga nanti. Dulu, kalau menolong orang ditolong orang juga.)

"Aamiin."

Aku aminkan sambil berharap perkataan Si Nenek terkabul. Setelah mengantar Si Nenek ke tempat tujuannya, aku melakukan urusanku sendiri.


3

Sebenarnya aku punya target setidaknya minimal ada 1000 kata untuk surat ini. Biar kamu capek bacanya. Tapi biarlah nanti aku tulis surat lagi. Ini saja dulu.

Begini saja, Mila. Mau kah kamu menyisihkan sebagian waktu 24 jam-mu itu untuk menghabiskannya bersamaku? Di mana di sebagian 24 jam itu kamu bisa naik ojek.


3 November 2016

Rabu, 08 Juni 2016

Bilang Bilangan

Kepada Mila,

Kamu tahu kenapa aku memelihara kaktus? Tentu saja tidak. Aku belum cerita, sedangkan kamu bukan peramal. Baiklah, biar aku cerita.

1.

Waktu itu, ketika bosan, aku merasa untuk perlu melakukan sesuatu. Aku ingin sesuatu untuk dipelihara. Kalau ikan hias sudah pernah dan tidak berbakat. Kemudian aku menemukan foto kaktus di media sosial kawanku, Ulan. Aku tertarik untuk mengikutinya.

Aku pernah mendengar deddy corbuzier mengutip perkataan seseorang yang aku lupa siapa, kira-kira begini: "Bila orang sudah mapan dan tidak perlu mencari uang lagi, maka yang dia lakukan adalah berkebun." Nah, aku ingin begitu.

Setelah kupikir-pikir, kaktus cocok denganku yang lumayan pemalas. Tidak sulit memelihara kaktus. Mengairinya tidak perlu setiap hari, cukup sekali seminggu. Simpel sekali.

Mestinya sekarang sudah setahun lebih beberapa hari aku sudah memelihara kaktus. Tapi catatanku hilang. Untungnya masih ada cacatan kapan aku beli kaktus yang kedua: 7 Juni 2015. Waktu itu aku beli kaktus bulat dan bambu ogi. Untuk sementara tanggal 7 Juni aku tetapkan sebagai Hari Kaktus Regional hingga ditemukannya catatan yang hilang itu.

Bila kamu ingin mengucapkan selamat, silakan, kepada aku saja. Mereka tidak mengerti bahasa manusia. Biar aku nanti yang akan menyampaikannya kepada kaktus-kaktusku. Tenang saja, aku mengetahui caranya.

Sekarang kaktusku sudah 6 pot. Ditambah sukulen dan bambu ogi, masing-masing 2 dan 1 pot. Insya Allah akan terus bertambah.

2.

Selamat berpuasa ya! Mudah-mudahan tahun ini puasanya oke dan keren. Menjadi manusia yang semakin bagus, bahkan setelah ramadhan usai. Bertambah pengalaman dan pemahaman. Supaya kamu merasa tentram.

Untuk kamu ketahui, sebagian besar buka puasa aku lakukan di musala. Di sana makanannya enak, bubur ayam. Biasanya aku campur dengan mie merah.

Tapi tujuanku bukan cuma itu. Dengan buka puasa di musala membuatku belajar bersosialisasi dengan orang lain. Supaya saling mengenal. Lagipula kalau aku buka puasa di musala berarti dapat dipastikan aku salat maghribnya berjamaah di musala. Kan bagus.

3.

Mila, kita adalah bilangan prima, yang habis dibagi satu dan diri sendiri. Jadi, maukah kamu menjadi ganjil? Biar aku juga. Biar kita bisa saling menggenapi.

Jumat, 22 Januari 2016

Berebut Kepala

Kepada Mila,

Sudah lama sekali aku tidak menyuratimu. Sudah setahun ya? Ya, anggap saja begitu. Kira-kira saja. Kamu tidak usah repot-repot menghitungnya hingga tahu bahwa suratku sebelumnya sudah 15 bulan 27 hari yang lalu. Tidak perlu detail. Seperti kamu yang sering menanyaiku jam berapa. Aku menjawab jam 7 atau, hampir jam 7. Sedangkan yang tepat adalah jam 6 lebih 57 menit atau jam 7 kurang 3 menit.

Akhir-akhir ini ada banyak hal yang memenuhi pikiranku. Mereka berebut menguasai kepalaku. Berusaha menjadi yang paling dipikirkan. Untuk suatu alasan yang sebenarnya tidak ada, aku merasa perlu untuk membaginya sebagian denganmu. Kemudian kutulis ini.

1

Aku bertanya kepadaku tentang manusia. Aku jawab, manusia adalah dia yang senang bercerita. Kemudian kataku: Hmm.

Di hari yang lain aku bertanya lagi kepadaku tentang manusia. Aku mendapatkan jawaban yang berbeda. Manusia adalah dia yang senang mendengarkan cerita, kataku.

Pada hari yang lain lagi aku bertanya lagi kepadaku tentang pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. Jawaban yang berbeda lagi kudapatkan. Manusia adalah dia yang senang mengeluh.

Aku ulang lagi pertanyaan yang sama di hari yang lain. Tetap saja kudapat jawaban yang berbeda. Manusia adalah dia yang pelupa, kataku pada hari itu.

Aku bertanya lagi pada hari yang lain. Apa yang kudapat? Jawaban yang tak sama dengan jawaban-jawaban sebelumnya. Aku bertanya terus. Berkali-kali kutanya, berkali-kali juga aku dapat jawaban yang berbeda.

2

Aku sungguh ingin kembali ke masa abad ke-4 Sebelum Masehi. Spesifiknya sewaktu Diogenes dari Sinope duduk santai berjemur kemudian didatangi Alexander Agung. Alexander Agung bertanya apakah ada sesuatu yang bisa dilakukannya untuk membantu Diogenes.  Kemudian Diogenes berucap, ”Ya. Bergeserlah ke samping. Anda menghalangi matahari."

Aku ingin duduk bersama Diogenes. Menikmati sinar matahari. Memakan gorengan: tahu isi, bakwan, tempe, pisang goreng, dan kroket. Minum teh hangat, untukku. Kalau Diogenes, mungkin kopi hitam. Tapi yang rendah gula.

3

Kenapa tidak ada tempat khusus untuk membaca buku? Di mana waktu 1 jam di sana sebanding dengan 1 detik waktu normal di bumi. Kukira ini akan sangat berguna bagi golongan orang-orang yang lamban dalam membaca.

Aku termasuk ke dalam golongan itu. Di perpustakaan daerah, sekitar 1 jam aku membaca The Historian hanya sampai pada halaman 32. Kalau begitu, ada banyak sekali jam aku habiskan ke perpustakaan daerah kalau ingin membacanya sampai tuntas—soalnya aku sedang malas untuk memperbarui kartu anggotaku. Aku hanya bisa sekali seminggu ke perpustakaan daerah. Itu pun kalau aku sengaja menyempatkan waktu dan tidak ada pekerjaan lain.

4

Mila, apa kamu salah satunya?

Minggu, 06 September 2015

Kepada Orang Sakit

Duhai kamu yang sakit, lekaslah sembuh.

Tapi kurasa kamu tidak perlu menarik perhatian orang-orang sedunia supaya mengasihanimu.

Cukuplah orang-orang terdekat dan keluargamu.

Dan terpenting adalah kasih sayang Allah.

Mudah-mudahan kamu kuat dan tenang.

Akan datang waktunya hingga kamu bisa makan es krim lagi.

Minggu, 05 April 2015

Delapan Pertanyaan


Mila,
Aku membuat beberapa pertanyaan untukmu.

Pertama.
Apa kamu benar-benar berduka ketika bilang turut beduka cita ketika aku mati nanti? Aku curiga, jangan-jangan itu kamu lakukan sekedar basa basi. Kalau memang begitu, tolong jangan.

Kedua.
Apa kamu begitu? Yang ketika kamu tiada seperti ada yang beda. Orang-orang membicarakanmu. Merasa seperti kamu masih ada dan mengungkit-ungkit kebiasaanmu dengan cara sendu. Berhari-hari, hingga akhirnya mereka kembali sibuk kepada aktifitas mereka masing-masing. Dan mengenangmu lagi nanti dengan cara yang khusus.

Ketiga.
Setiap akan menyelesaikan membaca novel aku selalu memelankan laju membaca, menajamkan fokus, juga sekali-sekali mengulang kalimat. Padahal ingin cepat-cepat selesai biar tahu apa yang terjadi di bagian akhir. Apa kamu juga begitu?

Keempat.
Apa kamu mengenal Videl? Dia salah satu pemain di anime Dragon Ball Z dan GT. Anaknya Mr. Satan. Istrinya Gohan. Ibu dari Pan. Ketika sebelum ia dan Gohan menikah, Videl belajar terbang. Karna ia hanya manusia bumi biasa. Sedangkan Gohan adalah keturunan Goku yang berasal dari planet Vegeta yang bisa terbang. Videl berusaha keras untuk bisa terbang. Dan hasil usahanya menggembirakan. Nah, melihat adegan itu aku pernah ingin belajar terbang juga. Tapi sampai sekarang aku belum pernah terbang. Bahkan dengan pesawat terbang.

Nah, apa kamu sudah ingat Videl? Atau baru pertama kali mendengar namanya?

Kelima.
Kenapa orang-orang di sinetron berdo'a dengan mengangkat tangan sambil agak menengadah?

Keenam.
Apa kamu ingat episode Bakabon di mana ada penulis yang karyanya indah ketika dibaca, sedangkan rumahnya berantakan? Mama Bakabon mengagumi tulisannya. Ia mendatangi penulis ke rumahnya. Ia tidak tahan melihat keadaan rumah idolanya, sehingga membereskannya. Jadilah karya si penulis berantakan seperti rumahnya pada awalnya. Apa kamu sudah ingat?

Ketujuh.
Apa kamu termasuk ke dalam golongan orang yang senang dikasihani?


Kamu mungkin akan bertanya: mana pertanyaan kedelapan? Tapi maaf, sebenarnya pertanyaanku cukup tujuh saja. Tapi aku juga tidak mau berbohong karena sudah terlanjur menulis judul begitu. Baiklah, aku buat pertanyaan kedelapan: Mila, maukah kamu menjawab pertanyaan-pertanyaanku ini? Dalam hati juga tidak apa-apa.

Rabu, 25 Februari 2015

Kepada Kamu Istriku



Kekasih,

Apa kabarmu di sana? Di tempat barumu itu. Setelah kau meninggalkan aku, tiba-tiba pergi tanpa memberi tahu sebelumnya. Ditambah lagi, kamu tidak meninggalkan nomor telepon yang bisa kuhubungi. Oh, tentu saja kan.

Sebenarnya malu untuk mengakuinya, saat kamu pergi aku menangis. Andai saja kamu memberitahu lebih dulu sebelum pergi, aku pasti lebih siap. Setidaknya aku akan lebih bisa mengendalikan emosiku.

Kukira tidak salah bila lelaki menangis. Buat apa aku punya air mata kalau tidak aku gunakan. Lagipula aku menangisi orang yang aku sayangi. Mungkin dengan menangis hanya akan membuatku terlihat lemah. Lalu, kalau caraku menyikapi kepergianmu dengan menangis, apa itu salah? Lantas, apakah ini yang benar bila aku berpura-pura kuat dengan membuat senyuman yang dipaksakan?

Sebenarnya surat ini tidak kutulis sendiri. Kamu tahu, aku tidak pandai menulis. Aku menyuruh seseorang di tempat pengetikan samping kelurahan untuk menuliskannya, sementara aku yang mengarang kata-katanya.

Sayang, tahukah kamu bagaimana aku setelah kamu tinggalkan? Pasti tidak tahu. Makanya akan aku ceritakan supaya kamu tahu, walau sebenarnya mungkin kamu tidak ingin tahu. Semenjak kamu pergi aku selalu dirundung sepi. Tidurku tidak nyenyak. Makanku tidak berselera. Ditambah lagi dengan sakit gigiku yang kumat. Tentu saja aku tidak pergi ke dokter gigi untuk mengatasinya. Aku hanya minum obat dari apotek.

Aku masih takut ke dokter gigi. Kamu masih ingat kan cerita waktu aku SD itu? Orang tuaku membawaku ke dokter gigi untuk mencabut gigi gerahamku yang goyang. Demi sepeda bmx, aku seolah-olah tidak peduli dengan rasa takutku yang bersumber dari cerita kawan-kawanku yang pernah ke dokter gigi. Aku mau saja ketika dibawa ke dokter gigi. Tapi nyatanya aku menangis sambil menutup mulutku dengan tangan sewaktu dokter akan memeriksa. Mama, ayah, juga dokter membujukku. Aku tetap menangis, tidak mau membuka mulut. Lalu akhirnya mereka menyerah dan orang tuaku meminta maaf kepada dokter. Itu pertama dan terakhir kali aku ke dokter gigi.

Kawan-kawanku menasihati untuk melupakanmu dan mencari yang lain saja. Lucu sekali mereka. Menyuruhku untuk melupakanmu sama saja dengan mendoakanku hilang ingatan. Mana mungkin aku bisa melupakanmu, sedangkan sudah banyak waktu dan tempat yang kita habiskan bersama. Tidak akan bisa seseorang melupakan orang lain bersama hal-hal yang terikat emosi dengannya di masa silam, kecuali dia seorang pelupa.

Sebulan. Dua bulan. Empat bulan dua belas hari. Perasaan sepi masih betah bersarang di hatiku. Perasaan itu menjadi semakin kuat ketika malam semakin dingin dan berisik oleh suara hujan. Ingatan bersamamu dan hal-hal yang berkaitan dengan dirimu merasuk ke dalam pikiranku. Aku bisa apa, hanya menikmatinya.

“Hari ini aku akan menemuinya,” kataku kepadanya setelah dia selesai menuliskan surat ini.

“Lalu bagaimana dengan mereka yang selama ini peduli kepadamu? Keluarga. Teman-teman,” tanyanya.

“Aku sudah mempertimbangkannya. Lagipula sore ini akan ada satu keluarga yang bahagia dengan kedatangan anggota baru mereka.”

“Kenapa selalu begitu? Aku sudah pernah melihat seperti yang kamu bilang ini,” dia menutup laptopnya setelah layarnya benar-benar mati.

“Entahlah.” Aku bangkit dari tempat dudukku, “Baiklah, ini sudah waktunya aku pergi. Terima kasih sudah membantuku.”

“Mudah-mudahan kamu bahagia di sana.”

Benar, Sayangku. Hari ini aku pergi menemuimu. Aku sudah mempertimbangkan konsekuensinya. Aku tahu bila aku pergi menemuimu, aku tidak akan pernah bisa kembali lagi. Bukan masalah bagiku. Tapi kali ini aku sudah tidak bisa menahannya. Aku ingin sekali melihatmu, bertemu denganmu.

Sudah diputuskan. Di 23 April ini aku tinggal tepat di sebelah kanan lubang tanammu itu. Aku lega, akhirnya sekarang bisa berada di sampingmu lagi. Jadi, bagaimana kabarmu?

Sabtu, 27 September 2014

Kepada Mila


Mila,

Seperti hatimu, kering kemarau. Dilanda panas yang lama. Sunyi berkepanjangan. Hatimu akan mengeras. Seperti air di dalam kulkas, menjadi es. Lalu kemudian menjadi pecahan-pecahan tak beraturan ketika dihantamkan kepadanya benda keras macam batu, atau palu. Akibat ulahmu sendiri yang tak bisa mengontrol pikiran dan perasaan. Namun bisa juga meleleh, kembali menjadi air lagi.

Itu terserah kamu maunya apa. Aku tidak tahu apa maumu. Tapi mauku adalah membuatmu senang. Yang sekaligus membuatku juga senang. Kamu tidak perlu mengkhawatirkanku. Kamu lah yang mesti mengkhawatirkan dirimu sendiri bahwa mungkin saja tidak menjadi senang oleh diriku.

Ketika kamu bertanya apa serunya naik motor sendirian tidak tentu arah tujuan sewaktu malam, aku diam. Tujuh detik kemudian aku bilang kepadamu, “Baik, aku ceritakan sekarang.”

Kamu harus percaya bahwa itu benar-benar tujuh detik. Aku menghitungnya dalam hati. Kamu tidak tahu saja. Nyatanya benar, kamu tidak bisa membaca hati orang lain. Kecuali kamu adalah dokter yang mendiagnosisku mengidap liver atau tidak. Kamu tentu tahu, aku lebih memilih sehat. Aku tidak suka minum obat. Tapi, siapa yang mau sakit, dia pasti orang yang aneh.

Tentu kamu juga sudah tahu bahwa aku tidak terbiasa menarik gas motorku dengan kecepatan rendah. Aku sering terburu-terburu untuk sampai tujuan. Berkejaran dengan pengemudi motor lain seperti sedang balapan. Atau menyalip mobil di depan yang menghalangi pandangan. Atau menyalip motor di depan yang knalpotnya menembakkan asap bau.

Kemudian aku merasa untuk perlu menurunkan kecepatanku. Untuk lebih menikmati perjalananku. Melihat-lihat toko-toko, orang berjualan, sepasang kekasih di atas motor di pinggir jalan yang gelap, pohon-pohon di median jalan.

Hei, aku sekarang jadi menyukai lampu jalanan. Mereka berjejer di median atau pinggir jalan, berpendar kuning atau putih. Apalagi kalau sedang gerimis. Coba kamu perhatikan gerimis yang jatuh di bawah lampu jalanan itu, kamu tidak akan sadar, tahu-tahu lampu sudah jadi hijau dan orang di belakangmu membunyikan klaksonnya dengan perasaan jengkel.

“Itu saja?” tanyamu ketika aku tiba-tiba diam. “Tunggu sebentar, aku sedang mengingat,” jawabku. Aku kurang pandai dalam hal mengingat. Apalagi mengingat wajah seseorang yang jarang atau sudah lama tidak ditemui. Ketika tidak sengaja bertemu dengannya di jalan, aku berusaha berusaha keras mengingat pernah melihat atau bertemu orang itu di mana sebelumnya. Syukur-syukur aku langsung ingat, tapi kadang-kadang sampai rumah baru bisa ingat, atau tidak sama sekali.

Oh, aku sudah ingat sekarang. Sambil berkendara angin dingin malam meniup-niup mukaku. Aku sudah menyukai itu sejak kecil. Aku dan orang tuaku jalan-jalan naik motor malam-malam. Asyik sekali ketika muka menjadi dingin kena angin malam. Dan menjadi kecewa begitu sampai rumah karena hal yang menyenangkan itu juga berakhir.

Aku juga memikirkan dan merenungkan banyak hal tentang kehidupan. Beradu dengan pikiranku sendiri. Maafkan aku kalau ceritaku ke sana kemari. Sama seperti pikiranku yang sering jalan-jalan ke mana saja ia maui. Ke Bandung, ke Mekah, ke Singapura, ke pasar, ke toko buku, sementara tubuhku telentang di atas kasur busa di atas lantai miring kamarku sambil memandangi dinding kamar yang kugambari bangunan-bangunan khas negara di dunia.

Kadang-kadang aku berhenti lalu memarkir motorku untuk beli gorengan di pinggir jalan. Makan gorengan duduk di atas motor sampai melihat-lihat orang lalu lalang. Kalau beruntung, aku bisa melihat pemandangan bagus. Tak terduga, aku juga bisa bertemu kawan lama di sana. Saling bertegur, menanyakan kabar, basa basi, serta hal-hal remeh lainnya untuk membunuh keadaan canggung.

Atau kalau mau, aku singgah beli jus buah di tempat lain. Minum jus sambil mengobrol dengan paman penjual jusnya yang kuawali dengan basa basi yang sudah direncanakan sebelumnya. Kemudian, jika beruntung, ia akan membeberkan beberapa rahasia kepadaku. Dan akhirnya aku mesti membayar sebelum beranjak pergi.

Naik motor sendirian tidak tentu arah tujuan sewaktu malam itu asyik. Tapi tentu saja, lebih asyik lagi kalau berdua. Bisa berbagi pemikiran masing-masing di atas motor. Dan mempertahankan argumen sendiri jika yang lain mendebatnya. Atau mengalah bila tak ingin lelah.

Maukah kamu, Mila? Biar nanti kulap debu di jok belakangku.


26 September 2014

Rabu, 18 Juni 2014

Kepada Kamu yang Berbaju Ungu

PE(R)LUKAN?

Kepada kamu yang berbaju ungu,

Waktu itu, kamu membonceng di belakang motor matic-ku. Tanganmu, kamu lingkarkan di perutku. Aku mengantarmu ke pangkalan angkot. Kamu tidak memberitahuku akan pergi ke mana dan berapa lama. Tapi, hanya mengantarmu saja sudah membuatku senang.

Sesampainya di pangkalan angkot, kamu turun dari motor. Mendekat ke satu angkot yang sudah ada banyak orang di luar angkot ramai membicarakan sesuatu yang aku tidak tahu. Saling berbicara seperti sedang berdebat.

Mungkin karena tidak mau ikut campur dengan urusan yang merepotkan itu kamu mendatangiku. Kutanyai kamu, “Sudah mau berangkat?”

Aku turun dari motor dan hendak menjatuhkan pantatku di atas bangku panjang. Sebelum aku sempat duduk, tiba-tiba kamu merangkul tubuhku. Tentu saja aku terkejut, tapi aku hanya diam menerima dan menikmati pelukanmu.

Di samping telingaku kamu berkata, “Bagaimana kalau kita tidak bertemu lagi?”

Lagi-lagi kamu membuatku terkejut. Aku sedikit berat menarik napas.

Terjadi keheningan di antara kita. Lidahku kelu. Aku bingung harus menjawab apa dan bagaimana. Baru kali ini aku berhadapan dengan keadaan canggung begini ketika berdua denganmu. Ditambah sekarang aku mulai merasakan basah di bahu kiriku.

“Bagaimana?” tanyamu lagi.

Kamu menambah erat pelukanmu. Dan itu semakin menambah bingungku. Cukup lama, aku dan kamu saling diam dalam pelukan masing-masing. Hingga aku mulai yakin untuk menjawab pertanyaanmu, kulepaskan pelukanmu.

Meski sedikit ragu. Kupegang kedua bahumu sambil kulihati matamu. Kamu menunduk terisak.

“Aku pernah menyukaimu. Menginginkan kamu menjadi kekasihku,” kataku.

“…..”

“Ketika awal-awal kita saling kenal.”

Kamu mengangkat kepala. Menatap mataku. Mendekat ke wajahku. Lalu membawa bibirmu menuju bibirku. Aku menghindar.

“Tapi…”

“Kenapa?” tanyamu.

“Sekarang pun aku masih menyukaimu. Aku menyukaimu sebagai teman. Dan aku tidak mau mencium bibir temanku.”

Sebelum kamu membalas ucapanku, segera kupeluk tubuhmu. Sangat erat.

“Meski begitu, aku tidak tahu kalau nanti.”

*)Ilustrasi dipinjam dari akun @maulanausaid1912 di instagram.com

Maulana Usaid
Juni 2014

Senin, 24 September 2012

Tentang Kisah Bayi Tampan

Tentang Kisah Bayi Tampan


Beberapa bulan terakhir aku sempat kehilangan bakat berkisah. Malam tadi, tanpa sengaja aku mendapatkan Surat dari Takita melalui blog Bang Aan. Dan surat Takita sudah menghidupkan bakat berkisahku lagi. Tidak sopan rasanya kalau surat Takita tidak kubalas. Ini surat balasanku.

Untuk Takita,

Takita, Abah dan Mamaku pernah berkisah kepadaku tentang seorang bayi kepadaku—oh iya, abah itu panggilan untuk ayah dalam bahasa Banjar. Sekarang aku ingin mengisahkannya kepadamu, Takita.

Dua puluh tahun yang lalu terlahir dengan normal seorang bayi laki-laki. Memiliki kulit yang agak hitam tapi manis, serasi dengan rambutnya yang hitam dan tebal. Badannya juga montok. Orang-orang menyebutnya Bayi Tampan.

Suatu ketika Bayi Tampan terserang demam tinggi. Karena orang tuanya bukan orang kaya, dia tidak dibawa ke dokter melainkan ke tukang pijat yang tidak lain kerabat mereka sendiri.

Berharap sembuh setelah dipijat, tapi yang terjadi malah sebaliknya. Suhu demamnya meninggi. Tentu saja membuat orang tua Bayi Tampan panik. Kepanikan bertambah karena dia juga terkena diare. Di tengah kepanikan, mereka memutuskan untuk membawa bayi mereka ke rumah sakit dengan motor.

Mama Bayi Tampan terus menangis. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit mulutnya terus merapal do’a. Sambil mengendarai motor Sang Ayah menanyai kondisi Bayi Tampan.

 “Bagaimana dia sekarang, Ma?”

“Tidak bergerak, Yah. Matanya juga tertutup,” jawab Sang Mama yang sesekali menyeka air matanya sendiri.

“Sudah tidak ada harapan,” kata Sang Ayah lirih.

Sesampainya di Instalasi Gawat Darurat (IGD), dengan santai dokter menyuruh Sang Ayah untuk merebahkan Bayi Tampan di atas meja kaca yang sebelumnya sudah ditelanjangi. Sang Ayah menurut saja, tapi sambil bergumam, “Orang mau mati, dokter ini malah santai.” Entah mendengar gumaman Sang Ayah atau tidak, kemudian dokter menyalakan kipas angin yang berada di langit-langit tepat di atas meja di mana Bayi Tampan direbahkan.

Beberapa saat setelah dokter menyalakan kipas angin, perlahan Bayi Tampan membuka matanya dan menangis. Spontan, pecahlah tangis Mama dan Ayah Bayi Tampan. Tangisan bahagia yang diiringi ucapan syukur.

Dari penjelasan dokter, diketahui bahwa Bayi Tampan terkena step. Sampai sekarang Bayi Tampan masih hidup, orang tuanya memberi dia nama Lana.

Lana senang sekali berkisah. Hanya saja dia kadang bingung kepada siapa ingin berkisah. Akhirnya dia jadikan kisah-kisahnya ke dalam tulisan, karena dia juga suka menulis. Dengan menuliskan kisah-kisahnya, Lana berharap banyak yang akan membaca kisahnya.

Kira-kira kisahku sudah cukup, Takita. Maaf ya kalau suratku berantakan. Ini kali pertama aku menulis surat untuk seseorang. Barangkali di kesempatan lain aku akan menulis surat lagi, entah kepada siapa.

Terima kasih, Takita. Terima kasih, Bang Aan.

Salam,

Lana, Si Bayi Tampan.

Maulana Usaid
22 September 2012