Minggu, 23 Maret 2025

Membaca Buku Digital

Akhirnya saya mampu membaca buku digital sampai habis sebanyak 131 halaman di iPusnas. Buku berjudul Saya Terbakar Amarah Sendirian! Pramoedya Ananta Toer dalam Perbincangan dengan Andre Vltchek dan Rossie Indira. 

Ini di luar dugaan saya. Saya lebih suka baca buku fisik ketimbang buku digital. Membaca buku digital membuat mata saya cepat kelelahan oleh cahaya dari layar handphone. Belum lagi saya orang yang mudah terganggu oleh notifikasi-notifikasi. Itulah asalannya. 


Sudah lama saya tahu dengan iPusnas. Tapi kemudian saya melihat story instagram penggiat buku yang saya ikuti, Fathiyah Azizah. Dia mengulas buku yang saya sebutkan di paragraf pertama. Saya penasaran, sekejam itukah? 


Saya tanya dia di mana bisa baca buku tersebut. Di iPusnas jawabnya. 


Ternyata pinjam buku digital di iPusnas seperti pinjam buku di perpustakaan fisik, ada antreannya. Buku Saya Terbakar Amarah Sendirian! sedang banyak peminatnya. Saya harus mengantre. 


Saya meminjamnya dua kali. Karena waktu peminjaman pertama saya tidak selesai membacanya hingga waktu pinjam berakhir. Hari ini saya berhasil menyelesaikannya dengan tersisa waktu pinjam 2 hari. 


Setelah ini sepertinya saya tidak akan menghapus iPusnas dan akan meminjam buku lainnya. Meski menurut saya buku di iPusnas tidak terlalu lengkap, tapi ini salah satu cara mendapatkan pengetahuan dengan cuma-cuma. 


Saya jadi ingin mengutip percakapan Oczy dan Jolenta di Anime Orb: On the Movement of the Earth episode 9.


"Bagaimana rasanya bisa membaca?" tanya Oczy kepada Jolenta. 


"Membaca dan menulis itu seperti mukjizat. Tentu saja itu tak sama dengan mukjizat yang dilakukan oleh Juru Selamat kita. Tapi membaca dan menulis itu luar biasa. Dengan huruf, orang bisa melintasi ruang dan waktu. Aku bisa meneteskan air mata membaca berita 200 tahun yang lalu. Atau menertawakan humor 1.000 tahun yang lalu. Bukankah itu mengagumkan? Hidup kita terjebak dan tak terkendali di zaman sekarang ini. Tapi saat aku membaca, tokoh-tokoh hebat dari masa lalu seperti berbincang denganku. Pada saat itu aku bisa terbebas dari masa kini. Pemikiran yang ditulis tetap ada setelah kita tiada, dan itu mungkin memicu tindakan jauh di masa depan. Apa lagi namanya kalau bukan mukjizat?"