"Babah, nanti kita ke Eropa?" Tanya Salman di atas Beat Karbu dalam perjalanan menuju rumah penjahit kemarin. Refleks saya mengangkat alis dan membuka lebar mata.
Secepat itu dia tahu Eropa. Usianya masih 3 menjelang 4 tahun. Seingat saya, saya baru mengenal Eropa waktu kelas 4 SD. Kalau tidak salah saat jam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) atau saat membaca buku Rangkuman Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL).
"Iya nanti ya," jawab saya.
"Iya."
Saya diserang rasa penasaran. Kemudian menanyanyinya.
"Dari mana Salman tahu eropa?"
Salman diam tak menjawab.
"Salman tahu eropa dari tontonan Salman ya? cecar saya.
"Iya, dari tontonan MarBel di hp Salman," ungkap Salman akhirnya.
"Oh..."
"Jar mama, Eropa itu jauhhh." Lanjutnya.
"Mudah-mudahan nanti kita ada rezekinya ke Eropa. Doakan ya."
"Iya."
Salman kerap mengasih pertanyaan kejutan kepada saya ketika di atas motor. Saya teringat ketika dia pernah menanyakan apa itu kuota sepulang main dari rumah sepupunya, Khalid. Saya jawab saja sekenanya bahwa kuota adalah jatah. Karena sebelumnya tidak pernah mencarinya di Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Belakangan saya ketahui maksud Salman sebenarnya bukan kuota melainkan quwwata. Quwwata yang dimaksudnya adalah yang ada di dalam Doa Saat Keluar Rumah. Astaga, mana saya tidak tahu arti quwwata. Dasar, saya!