Sore ini sepulang kerja saya dan istri membawa Salman ke tukang urut. Badannya demam tinggi malam tadi, juga disertai batuk dan pilek. Saya sudah mengurutnya semalaman yang membuat saya sendawa berkali-kali, tapi demamnya belum kunjung pergi meski sempat turun. Mungkin tasilahu.
Mamanya izin tidak masuk kerja dan saya izin terlambat kerja. Berniat mau mengajak Salman berurut dulu baru saya pergi ke kantor. Namun ternyata nini tukang urutnya hanya bisa sore selepas asar.
Begitu sampai di rumah saya berganti pakaian. Kami bersiap sebentar lalu berangkat ke rumah tukang urut di dekat Pasar Pemurus. Meski sebenarnya tidak sebentar karena Salman mendadak pengin berak sebelum pergi.
Kabut asap karhutla menyelimuti udara Banjarmasin. Istri saya menawari saya masker. Saya menolaknya. Pakai masker bila perjalanan jauh ke Banjarbaru saja, ucap saya.
Saya menyesali keputusan tersebut. Hidung saya sebelah kiri mampet sembari menunggu Salman diurut. Saya kira saya sudah kuat, ternyata masih lemah.
Saya jadi teringat bulan Agustus 5 tahun yang lalu, yaitu tahun 2021. Saya terserang virus corona dengan gejala tingkat rendah, yaitu anosmia. Hidung saya kehilangan kemampuannya dalam mencium bau. Begitu pun istri saya. Kami melakukan isolasi mandiri di rumah selama 2 pekan.
Kami jadi punya banyak waktu berduaan. Kesempatan yang bagus untuk kami yang menjalani Long Distance Relationship (LDR) atau Long Distance Marriage (LDM).
Kemudian kabar baik itu datang ketika saya sedang asyik menonton perlombaan tujuhbelasan di kompleks dari teras rumah. Istri saya menunjukkan hasil testpack bergaris 2. Perasaan saya campur aduk. Sejak hari itu, tujuhbelasan selalu mengingatkan saya dengan awal mula kehadiran Salman di alam rahim.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar-komentar