Saya sedikit menyesal malam tadi tidak membacakan Salman buku sebelum kami tidur. Sudah pukul setengah sebelasan. Saya sudah lelah dan mengantuk. Dia juga. Untungnya dia tidak menagih dibacakan buku ketika kamar sudah berganti lampu tidur.
Saya memang membiasakan membacakan Salman buku sebelum tidur. Bukunya cerita anak yang tipis saja, sehingga bisa tiga buku. Itu sudah jumlah minimal. Bila saya kurangi menjadi dua apalagi satu dia akan protes. Belum tiga, katanya. Kadang dia minta lebih. Bila saya sedang berbaik hati dan masih ada energi akan saya ambilkan lagi satu buku dari rak. Tapi bila saya sudah kelelahan, saya akan lawan: "Sudah tiga buku itu. Ayo bobok."
Salman melihat dari balik kaca ketika saya menjemputnya. Lalu keluar setelah membuka pintu ketika saya turun dari Beat Karbu 125. Teras rumah dipasangi Opa Salman dengan rumput sintetis, alis saya sedikit terangkat melihatnya.
"Bah, bila kucing sakit perut nanti dia akan makan rumputnya nih. Gasan jadi obatnya," seru Salman.
"Iya, jadi obat rumputnya."
Saya menanggapi seadanya. Namun dalam hati saya merasa kagum. Dia ingat dengan isi buku Cerita si Kucing karya Orin.
Sebelumnya saya juga dibuat kaget karena sewaktu membacakannya buku di malam hari dia hafal dengan nama-nama karakter di buku. Kiko si Penguin, Beno si Anjing Laut, Rama si Harimau, Ratu Naomi si Ratu Semut. Bahkan hewan yang saya plesetkan ketika membacanya pun dia juga ingat, seperti: burung hantu menjadi burung hentu dan rayap menjadi reyep.
Malam ini akan saya sisakan tenaga untuk membacakannya buku. Yang pasti bukan Dunia Sophie. Bukunya terlalu berat baginya yang masih 4 tahun. Walau dia adalah pemberi pertanyaan yang handal. Saya saja sampai kewalahan menjawab pertanyaannya yang beruntun hingga kadang saya mengaradau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar-komentar