Minggu, 16 Maret 2025

Ada Macan

Malam lalu, di sela tarawih, Emma berucap, "Mau kopi."

Saya tahu, bila dia berucap begitu artinya mau kopi yang ada di luar rumah. Kopi yang dijual orang, yang tidak perlu bikin sendiri. Kita hanya menyebut nama kopinya lalu membayar sesuai harga yang tertera: palm sugar latte satu, gulanya separo. 

"Oke, habis tarawih. Point Coffe?"

Emma mengangguk. Bibirnya tersenyum. 

Saya tarawih di rumah bersama Umin, Mama, Emma, dan Eca di ruang tamu. Umin adalah kakak saya, dan Eca adalah anak kakak saya. 

Di kamar ada Salman, Khalid, dan Hani. Khalid adalah adiknya Eca, dan Hani adalah istri kakak saya. 

Selepas tarawih saya, Emma, dan Salman pergi ke Indomaret dekat flyover. Di sana ada Point Coffee. 

Begitu menghentikan Beat Karbu di depan Indomaret saya melihat ada ibu-ibu berpakaian motif macan. Segera saya bisiki Salman, "Salman, di dalam ada macam."

Kami turun dari motor lalu berjalan mau masuk ke Indomaret. Di undakan sebelum pintu masuk Salman bertanya, "Mana macannya, Babah?"

Pertanyaan Salman membuat saya sedikit panik. Saya harus segera menjejalkan sudut pandang baru kepada Salman. 

"Salman, di dalam ada ayam. Ayo kita cari ayamnya."

"Ada ayam?" Sahut Salman. 

"Mana ayamnya ya," lanjut saya. 

Saya terus berbicara soal pencarian ayam sambil menuntun Salman menuju rak telur ayam. Nah, ini ayamnya, kata saya menunjuk gambar ayam di rak telur ayam. 

Untunglah Salman tidak melihatnya. Ibu berpakaian motif macan itu keluar ketika kami ke Point Coffee. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar