Kenapa Babah? Tanya Salman.
Saya menyetop Beat Karbu lalu memantau ke arah depan dan belakang. Saya beritahu dia bahwa kami akan putar balik membeli gorengan. Kami pulang dari rumah Kai Nini.
Di kaca gerobak tertulis angka 1.500. Dengan begitu pelanggan harusnya paham itu adalah harga satu gorengan.
Saya harus beli gorengan dengan jumlah genap biar harga yang saya bayar juga genap. Jadi ketika ditanya acil penjualnya beli apa, saya menjawab: tahu isi 5, tempe 3, onde-onde 4, bakwan 2.
Jadi berapa, tanya saya. Maksudnya menanyakan harga yang harus saya bayar.
Dua satu, jawabnya. Saya paham. Maksudnya adalah 21.000. Saya kasih sepuluhribuan 2 lembar dan dua ribu selembar. Lalu saya dapat gorengan satu kantongan dan selembar uang seribu. Pertukaran setara.
Di perjalanan pulang saya mengingat-ingat harga gorengan pada 20 tahunan yang lalu. Di gerobak yang sama. Penjual yang berbeda tapi pemiliknya masih sama. Waktu itu harga satu gorengan masih 250. Berarti harganya sudah naik 6 kali lipat.
Dulu saya sendirian dari rumah menuju gerobak gorengan dengan mengayuh sepeda besar. Sekarang saya juga dari rumah. Naik sepeda motor. Berdua dengan anak. Gorengannya sama. Situasinya berubah.
@30haribercerita
#30hbc2602
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar-komentar