Rabu, 03 Juni 2026

Kopi Leci

Saya sempat mengira semalam adalah hari senin. Karena hari pertama masuk kerja di awal pekan ini adalah selasa. Seninnya masih libur Hari Lahir Pancasila. 

Sepulang kerja, saya sengaja mengambil jalan yang lebih jauh untuk sampai rumah agar bisa mampir dulu di Alfamart yang menjual kopi leci favorit saya. Di hari senin, rabu, dan jumat harganya hanya sepuluh ribu rupiah. 

Dua puluh lima meter lagi sampai di Alfamart Pemurus, saya mendadak teringat kalau semalam sudah selasa. Saya urungkan niat dan tetap melaju. 

Saya bisa saja tetap membeli kopi bercampur sirup leci itu di hari selasa dengan membayar harga lima belas ribu. Tapi itu sangat tidak menarik dan biasa saja.

Saya masih bisa menahannya sampai hari ini tiba. Membeli dengan harga lebih murah dari harga aslinya menimbulkan sensasi menyenangkan karena ada embel-embel diskon lima ribu. Seperti perasaan menang yang didapatkan dari hal sederhana untuk orang yang sering kalah.

Tapi hari ini terasa lebih dominan sirup leci ketimbang pahit kopinya. Apa jangan-jangan realitas sudah mengalahi rasa pahitnya? Lihatlah, 1 dolar sudah hampir delapan belas ribu rupiah: 17.949,70.

Huhuhuft. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar-komentar